Senin, 05 Oktober 2015

BANI ABBAS: PEMBENTUKAN PEMERINTAH, PERKEMBANGAN POLITIK, EKONOMI DAN ADMINISTRASI



A.     Masa Pembentukan Pemerintahan Bani Abbasiyah
Dinasti Abbasiyah mewarisi imperium dari Dinasti Umayyah. Hasil besar yang telah dicapai oleh Dinasti Abbasiyah dimungkinkan karena landasannya telah di persiapkan oleh Umayyah dan Abbasiyah memanfaatkannya.[1]Dinasti Abbasiyah berkedudukan di Bagdad. Secara turun temurun kurang lebih tiga puluh tujuh khalifah pernah berkuasa di negeri ini. Pada dinasti ini  Islam mencapai puncak kejayaannya dalam segala bidang.
Pemerintahan Abbasiyyah adalah keturunan daripada al-Abbas, paman Nabi SAW. Pendiri kerajaan al-Abbas ialah Abdullah as-Saffah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin al-Abbas, dan pendiriannya dianggap suatu kemenangan bagi ide yang dianjurkan oleh kalangan Bani Hasyim setelah kewafatan Rasulullah SAW, agar jabatan khalifah diserahkan kepada keluarga Rasul dan sanak-saudaranya.[2]
Kekuasaan dinasti Bani Abbasiyah, sebagaimana disebutkan melanjutkan kekuasaan dinasti Bani Umayyah. Kekuasaannya berlangsung dalam rentang waktu yang panjang, dari tahun 132 H (750 M) s.d. 656 H (1258 M). Selama dinasti ini berkuasa, pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, sosial, dan budaya. Berdasarkan perubahan pola pemerintahan Bani Abbas menjadi lima periode:

1.      Periode Pertama (132 H/750 M – 232 H/847 M), disebut periode pengaruh Persia pertama.
2.      Periode Kedua (232 H/847 M – 334 H/945 M), disebut masa pengaruh Turki pertama.
3.      Periode Ketiga (334 H/945 M – 447 H/1055 M), masa kekuasaan dinasti Buwaih dalam pemerintahan khilafah Abbasiyyah. Periode ini disebut juga masa pengaruh Persia kedua.
4.      Periode Keempat (447 H/1055 M – 590 H/1194 M), masa kekuasaandinasti Bani Seljuk dalam pemerintahan khilafah Abbasiyyah; biasanya disebut juga dengan masa pengaruh Turki kedua.
5.      Periode Kelima (590 H/1194 M – 656 H/1258 M), masa khalifah bebas dari pengaruh dinasti lain, tetapi kekuasaannya hanya efektif di sekitar kota Bagdad[3]
Dinasti Abbasiyah berkedudukan mencapai keberhasilannya disebabkan dasar-dasarnya telah berakar semenjak Umayyah berkuasa. Ditinjau dari proses pembentukkanya, Dinasti Abbasiyah didirikan atas dasar-dasar antara lain:
1.      Dasar kesatuan untuk menghadapi perpecahan yang timbul di dinasti sebelumnya
2.       Dasar universal (bersifat universal), tidak terlandaskan atas kesukuan
3.      Dasar politik dan administrasi menyeluruh, tidak diangkat atas dasar keningratan
4.      Dasar kesamaan hubungan dalam hukum bagi setiap masyarakat Islam
5.      Pemerintahan bersifat Muslim moderat, ras Arab hanyalah dipandang sebagai salah satu bagian saja di antara ras-ras lain
6.      Hak memerintah sebagai ahli waris nabi masih tetap di tangan mereka[4]
Di antara situasi-situasi yang mendorong berdirinya Dinasti Abbasiyah dan menjadi lemah dinasti sebelumnya adalah:
1.      Timbulnya pertentangan politik antara Muawiyah dengan pengikut Ali bin Abi Thalib
2.      Munculnya golongan Khawarij, akibat pertentangan politik antara Muawiyah dengan Syiah, dan kebijakan-kebijakan land reform yang kurang adil
3.      Timbulnya politik penyelesaian khilafah dan konflik dengan cara damai
4.      Adanya dasar penafsiran bahwa keputusan politik harus didasarkan pada Alquran dan oleh golongan Khawarij orang Islam non-Arab
5.      Adanya konsep hijrah di mana setiap orang harus bergabung dengan golongan Khawarij yang tidak bergabung dianggapnya sebagai orang yang berada pada dar al-harb, dan hanya golongan khawarijlah yang berada pada dar al-Islam
6.      Bertambah gigihnya perlawanan pengikut Syiah terhadap Umayyah setelah terbunuhnya Husein bin Ali dalam pertempuran Karbala
7.      Munculnya paham mawali, yaitu paham tentang perbedaan antara orang Islam Arab dengan non-Arab.[5]
Secara kronologis, nama Abbasiyah menunjukkan nenek moyang dari Al-Abbas, Ali bin Abi Thalib dan Nabi Muhammad. Hal ini menunjukkan kedekatan pertalian keluarga antara Bani Abbas dengan nabi. Itulah sebabnya kedua keturunan ini sama-sama mengklaim bahwa jabatan Khalifah harus berada di tangan mereka. Keluarga Abbas mengklaim bahwa setelah wafatnya Rasulullah merekalah yang merupakan penerus dan penyambung keluarga Rasul.[6]
Perjuangan Bani Abbas secara intensif baru dimulai berkisar antara lima tahun menjelang Revolusi Abbasiyah. Pelopor utamanya adalah Muhammad bin Ali Al-Abbas di Hamimah. Ia telah banyak belajar dari kegagalan yang telah dialami oleh pengikut Ali (kaum Syiah)dalam melawan Dinasti Umayyah. Kegagalan ini terjadi karena kurang terorganisasi dan kurangnya perencanaan. Dari itulah Muhammad bin Ali Al-Abbas mengatur pergerakannya secara rapid an terencana. Ia mulai melakukan pergerakannya dengan langkah-langkah awal yang penting. Kemudian propaganda atau langkah itu berhasil membakar semangat api kebencian umat Islam kepada Dinasti Umayyah.
Setelah Muhammad bin Ali meninggal tahun 734 M, perjuangan dilanjutkan oleh saudaranya Ibrahim sampai tahun 749 M. Kemudian, sejak 749 M Ibrahim menyerahkan pucuk pimpinan kepada keponakannya, Abdullah bin Muhammad. Pada masa inilah revolusi Abbasiyah berlangsung.
Abdullah bin Muhammad alias Abul Al-Abbas diumumkan sebagai khalifah pertama Dinasti Abbasiyah tahun 750 M. Dalam khutbah pelantikan yang disampaikan di Masjid Kufah, ia menyebut dirinya dengan Al-Saffah (penumpah darah) yang akhirnya menjadi julukannya. Hal ini sebenarnya menjadi permulaan yang kurang baik diawal berdirinya dinasti ini, dimana kekuatannya tergantung kepada pembunuhan yang ia jadikan sebagai kebijaksanaan politiknya.
Al-Saffah berusaha dengan berbagai cara untuk membasmi keluarga Umayyah. Antara lain dengan kekuatan senjata. Ia mengumpulkan tentaranya dan melantik pamannya sendiri Abdullaah bin Ali sebagai pimpinannya. Target utama mereka adalah menyerang pusat kekuatan Dinasti Umayyah di Damaskus, sekaligus untuk melenyapkan Khalifah Marwan (khalifah terakhir Bani Umayyah). Pertempuran terjadi di lembah Sungai Az-zab (Tigris). Pada pertempuran itu Marwan mengalami kekalahan dan mengundurkan diri ke Utara Syria, Him, Damsyik, Palestina dan akhiirnya sampai ke Mesir. Pasukan Abdullah bin Ali terus menyerangnya hingga terjadi lagi pertempuran di Mesir dan Marwan pun tewas.
Usaha lain yang dilakukan Al-Saffah untuk memusnahkan keluarga Umayyah adalah dengan cara mengundang lebih kurang 90 orang anggota keluarga Umayyah untuk menghadiri suatu upacara perjamuan kemudian membunuh mereka dengan cara yang kejam. Disamping itu agen-agen dan mata-mata disebarkan ke seluruh imperium untuk memburu para pelarian seluruh anggota keluarga Umayyah. Hanya satu orang saja yang berhasil melarikan diri kemudian kelak mendirikan Dinasti Umayyah di Andalusia. Ia dikenal dengan sebutan Abdurahman Ad-Dakhil.
Perlakuan kejam itu tidak hanya pada anggota keluarga yang masih hidup, tetapi juga yang sudah meninggal. Kuburan-kuburan mereka dibongkar dan jenazahnya dibakar. Ada dua kuburan saja yang selamat dari kekejamannya yaitu kuburan Muawiyah bin Abu Sufyan dan Umar bin Abdul Aziz . perlakuan-perlakuan kejam itu tentu saja tentu saja telah menimbulkan kemarahan para pendukung Dinasti Umayyah di Damaskus, tetapi mereka berhasil ditumpas oleh Abbasiyah.
Abu Al-Abbas hanya memerintah dalam kurun waktu singkat, yakni empat tahun. Oleh karena itu, ia kehilangan jati dirinya. Kehidupannya yang dikenal dalam sejarah pertama-tama hanyalah sebagai pembasmi Dinasti Umayyah.
Abu Abbas Al-Saffah meninggal tahun 754 M. dan digantikan oleh saudaranya, Abu Jafar Al-Mansur dari tahun 754-774 M. Dialah sebenarnya yang dianggap sebagai pendiri Dinasti Abbasiyah. Dia tetap melanjutkan kebijaksanaan Al-Saffah yakni menindak tegas setiap orang yang menentang kekuasaannya, termasuk juga dari kalangan keluarganya sendiri.
Sifat dan watak Al-Mansur dikenal oleh para penulis sejarah sebagai seorang politikus yang demoktratis, peemberani, cerdas, teliti, disiplin, kuat beribadah, sederhana, fasih dalam berbicara, sangat dekat dan memperhatikan kepentingaan rakyat. Oleh karena itu, tidaklah mengerankan bahwa selama lebih kurang 20 tahun kekuasaannya, ia telah berhasil meletakkan landasan yang kuat dan kokoh bagi kehidupan dan kelanjutan kekuasaan Dinasti Abbasiyah itu.[7]

B. Masa Perkembangan Politik Bani Abbasyiah
Sejarah telah mengukir bahwa pada masa Dinasti Abbasiyah, umat Islam benar-benar berada di puncak kejayaan dan memimpin peradaban dunia saat itu. Masa pemerintahan ini merupakan golden age dalam perjalanan sejarah peradaban Islam, terutama pada masa Khalifah Al-Makmun.
Daulat Abbasiyah berkuasa kurang lebih selama lima abad (750-1258 M). pemerintahan yang panjang tersebut dapat dibagi dalam dua periode. Periode I adalah masa antara tahun 750-945 M, yaitu mulai pemerintahan Abu Abbas sampai Al-Mustakfi. Periode II adalah masa antara tahun 945-1258 M, yaitu masa Al-Mu’ti sampai Al-Mu’tasim. Pembagian periodisasi ini diasumsikan bahwa pada periode pertama, perkembangan di berbagai bidang  masih menunjukkan grafik vertikal, stabil dan dinamis. Sedangkan pada periode II, kejayaan terus merosot sampai datangnya pasukan Tartar yang berhasil menghancurkan Dinasti Abbasiyah.
Pada masa pemerintahan Abbasiyah periode I, kebijakan-kebijakan politik yang dikembangkan antara lain:
1)      Memindahkan ibukota negara dari Damaskus ke Bagdad
2)      Memusnahkan keturunan Bani Umayyah
3)      Merangkul orang-orang Persia, dalam rangka politik memperkuat diri, Abbasiyah memberi peluang dan kesempatan yang besar kepada kaum mawali
4)      Menumpas pemberontakan-pemberontakan
5)      Menghapus politik kasta
Selain kebijakan-kebijakan di atas, langkah-langkah lain yang diambil dalam program politiknya adalah:
1)      Para Khalifah tetap dari Arab, sementara para menteri, gubernur, panglima perang dan pegawai lainnya banyak diangkat dari golongan Mawali
2)      Kota Bagdad ditetapkan sebagai ibukota Negara dan menjadi pusat kegiatan politik, ekonomi dan kebudayaan
3)      Kebebasan berpikir dan berpendapat mendapat porsi yang tinggi[8]
C. Bidang Perekonomian Bani Abbasyiah
Sektor ekonomi menjadi penopang penting tegaknya pemerintahan, maka Kholifah Bani Abbasyiah memberikan perhatian serius. Pengembangan sector ekonomi ini dilakukan terutama pada periode pertama pada pemerintahan Abbasyiah. Hal ini menjadikan Negara dapat menghasilkan devisa yang banyak untuk kesejahteraan umat. Pendapatan negara yang cukup  besar pada masa pemerintahan daulat Abbasyiah tidak terlepas dari peran pemerintah dalam mengembangkan berbagai sector ekonomi rakyat. Permulaan masa kepemimpinan Bani Abbassiyah, perbendaharaan Negara penuh dan
berlimpah-limpah, uang masuk lebih banyak daripada pengeluaran. Disini dijelaskan pada masa perkembangan ekonomi ini adalah masa kepemimpinan  Kholifah Mansyur. Beliau betul-betul telah meletakkan dasar-dasar yang kuat bagi ekonomi dan keuangan negara. Dia mencontohkan Khalifah Umar bin Khattab dalam menguatkan Islam di bidang ekonomi.
Khalifah Al-Mansyur merupakan tokoh ekonomi Abbasiyah yang telah mampu meletakkan dasar-dasar yang kuat dalam bidang ekonomi, adapun unsure-unsur ekonomi yang dikembangkan zaman dinasti Abbasyiah adalah sebagai berikut:

1. Pertanian
Pada masa dinasti Abbasyiah berlangsung, para petani dibina dan diarahkan, serta pajak bumi mereka diringankan. Para petani diperlakukan dengan baik, hak-hak mereka dijaga dan dilindungi dari praktek-praktek ekonomi yang merugikan. Selain itu kholifah juga memperluas areal pertanian, membangun sarana dan pra-sarana tranportasi baik darat maupun laut ke daerah pertanian- pertanian serta membangun irigasi dan mengairi kanal untuk menyalurkan air ke areal pertanian.[9]
2. Perindustrian
            Bidang industry yang menjadi perhatian pemerintah Abbasyiah. Ada beberapa factor yang mendukung kemajuan sector industry ini, antara lain adalah adanya potensi alam berupa barang tambang, seperti perak, tembaga, biji besi, dan lain-lain, serta hasil pertanian sebagai bahan baku industry, potensi alam wilayah Abbasyiah cukup menjanjikan untuk mendukung ekonomi bani Abbasyiah.
            Selain factor potensi alam adalah adanya usaha alih teknologi industry, yang dilakukan oleh tawanan serdadu Cina yang dikalahkan dalam pertempuran di Asia tengah pada tahun 751H. Mereka ini ahli dalam perindustrian, kholifah mengadakan proyek alih teknologi dari mereka khususnya industry kertas. Dari sini kemudian muncullah diberbagai kota misalnya Baghdad yang menghasilkan industry dengan beraneka ragam hasilnya, seperti textile, sutra, wol, gelas, dan keramik.[10]
3. Perdagangan
Di sector perdagangan juga menunjukkan kemajuan yang pesat. Ini tentu mengimbangi dua sektoryang disebut diatas, Ibukota pemerintahan Abbasyiah, Baghdad menjadi kota pusat perniagaan/ perdagangan, serta kota yang menghubungkan lalu lintas perdagangan antara barat dan timur, dan dibuka perwakilan dagang India dan Cina.[11] Segala usaha ditempuh untuk memajukan perdagangan diantaranya yaitu:
1)      Membangun sumur dan tempat-tempat istirahat di jalan-jalan yang dilewati kafilah dagang.
2)      Membangun armada-armada dagang.
3)      Membangun armada : untuk melindungi parta-partai negara dari serangan bajak laut.
Usaha-usaha tersebut sangat besar pengaruhnya dalam meningkatkan perdagangan
dalam dan luar negeri.[12]
Pada waktu itu bahwa kapal-kapal dagang Arab pada waktu itu tidak hanya menjangkau di daerah-daerah sekitar kawasan Abbasyiah , tetapi juga menjangkau sampai ke Sailan, Bombay, Aceh bahkan ke kota pelabuhan Indo Cina dan Tiongkok.  Sedangkan kota Damaskus merupakan kota kedua Sungai Tigris dan Efrat menjadi pelabuhan transmisi bagi kapal-kapal dagang dari berbagai penjuru dunia sehingga terjadinya kontrak perdagangan tingkat Internasional. Ini tentu artinya bahwa kemajuan sector perdagangan pada masa pemerintahan Abbasyiah telah mengalami perkembangan yang pesat. Selain itu demi kelancaran perdagangan pada masa itu telah tumbuh system semacam perbankan. Sistem ini dimaksudkan untuk tempat penukaran uang , karena daerah bagian timur dan bagian barat tidak menggunakan mata uang yang sama.
Perkembangan perekonomian bani Abbasyiah yang meliputi beberapa bidang itu menjadikan pendapatan Negara dari dinasti ini terbilang bagus, kesemuannya itu dipergunakan untuk kepentingan Negara. Adapun pendapatan Negara pada saat pemerintahan bani Abbas secara umum adalah:
1)      Pajak hasil bumi (kharaj)
2)      Pajak jiwa ( jizyah)
3)      Berbagai macam bentuk zakat
4)      Pajak perniagaan dan cukai ( syur)
5)      Pembayaran pihak musuh karena kalah perang (fai’)
6)      Rampasan perang (ghanimah)
Adapun untuk pengeluaran dinasti ini secara umum meliputi:
1)      Untuk pembayaran gaji pada hakim (qadhi) gubernur, buruh dan pegawai lainnya
2)      Untuk perbaikan aliran sungai dan membangun irigasi guna untuk mengairi daerah yang jauh dari sumber air
3)      Untuk biaya para narapidana dan tawanan musyrik
4)      Untuk biaya perang
5)      Untuk hadiah para ulama’ dan sastrawan.
D. Bidang Administrasi Bani Abbasyiah
            Selain pemerintahan dinasti Abbasyiah member perhatian yang tinggi pada bidang politik, dan ekonomi. Wilayah administrasi Negara juga dilakukan penataan. Sehingga upaya pengembangan dan penyempurnaan administrasi Negara bisa berjalan dengan baik. Pembaharuan yang paling tampak pada dinasti ini adalah berpindahnya ibukota Negara sebagai pusat kegiatan administrasi ke Baghdad. Disamping itu didalam penyelenggaraan administrasi Negara pada masa ini telah pula dikenal dengan adanya wazir ( menteri) yang membawahi kepala-kepala departemen. Sementara itu, dalam operasionalnya, yang menyangkut urusan-urusan sipil dipercayakan kepada wazir (menteri), masalah hukum diserahkan kepada qadi (hakim) dan masalah militer dipegang oleh amir.[13] Jabatan ini ada yang menyebut sudah ada zaman bani Umayyah, tetapi juga ada yang menyebut belum ada.[14] Wazir terbagi dalam dua bagian, pertama wazir yang bertugas sebagai pembantu kholifah dan bekerja atas nama khalifah, dan yang kedua adalah diberi kuasa penuh untuk memimpin pemerintahan.
            Selain itu dibentuk pula apa yang diebut dengan diwan al-kitabah, semacam secretariat Negara, yang dipimpin oleh seorang Rais, Rais ini dibantu oleh beberapa orang sekretaris, diantaranya yang paling masyhur: Katib al-Rasail, Katib al- Karni, Katib al-Jundi, Katib al-Syurthat, dan Katib al-Qadha. Kekuasaan pemerintahan dinasti Abbasyiah dibagi kedalam bebrapa propinsi atau juga disebut juga dengan imarah, dan setiap imarah dipimpin oleh seorang gubernur hal ini digunakan untuk mempermudah jalannya pemerintahan daerah- daerah. Diantara propinsi-propinsi pda zaman dinasti Bani Abbasyiah adalah:
1)      Kufah dan Sawwad
2)      Bashrah dan daerah-daerah Dajlah, Bahrein, Uman
3)      Hijaz dan Yamamah
4)      Yaman
5)      Ahwaz yang meliputi Khuziztan dan Cattan
6)      Parsi
7)      Khurasan
8)      Mosul
9)      Jazirah, Armania, dan Azerbaijan
10)  Suriah
11)  Mesir dan Afrika,
12)  Sind
Sebenarnya penataan administrasi pada masa pemerintahan Abbasyiah mengalami perkembangan yang tinggi adalah merupakan salah satu pengaruh Persi yang masuk di dalam pemerintahan. Sebab Persi merupakan kota yang terkenal dalam kemajuannya di dalam bidang administrasi yang dianggap bagus. Ditambah lagi dengan bahwa pusat pemerintahan Islam zaman bani Abbasyiah memang berada di jantung kekuasaan Persi, setelah Persi dikuasai umat islam.[15]


[1]  Ajid Thohir, Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004),,22

[2]  A. Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam, (Jakarta: PT Alhusna Zikra, 1997),,1
[3]  Badri Yatim, Sejarah Peradapan Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2003),,49
[4]  Ajid Thohir, Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004),,,44
[5]  Ibid, . 45
[6]  Ibid, ,. 46
[7]  Ibid, ,,48
[8]  Ajid Thohir, Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam ,,. 55
[9] Imam Fuadi, Sejarah Peradapan Islam, (Yogyakarta: teras, 2011),,123
[10] Ibid,,124
[11]  Thaher Muhammad, Sejarah Islam dari Andalus Sampai Indus, Cet I, (Jakarta: Pustaka Jaya,1981),,100
[12]   Syalabi  A. Sejarah dan Kebudayaan Islam Jilid 2.( Jakarta: Pustaka Alhusna, 1997),,67
                [13] Ibid,,55
[14] Yusuf al-isy, Tarikh Ashi  al-Khilafat al Abbasyiah, (Damsyik: Daru al Fikri, 1982),,44
[15] Imam Fuadi, Sejarah Peradapan Islam, ,,19

Tidak ada komentar:

Posting Komentar