A. Masa Pembentukan
Pemerintahan Bani Abbasiyah
Dinasti Abbasiyah mewarisi imperium dari Dinasti
Umayyah. Hasil besar yang telah dicapai oleh Dinasti Abbasiyah dimungkinkan
karena landasannya telah di persiapkan oleh Umayyah dan Abbasiyah
memanfaatkannya.[1]Dinasti
Abbasiyah berkedudukan di Bagdad. Secara turun temurun kurang lebih tiga puluh
tujuh khalifah pernah berkuasa di negeri ini. Pada dinasti ini Islam
mencapai puncak kejayaannya dalam segala bidang.
Pemerintahan Abbasiyyah adalah keturunan
daripada al-Abbas, paman Nabi SAW. Pendiri kerajaan al-Abbas ialah Abdullah
as-Saffah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin al-Abbas, dan pendiriannya
dianggap suatu kemenangan bagi ide yang dianjurkan oleh kalangan Bani Hasyim
setelah kewafatan Rasulullah SAW, agar jabatan khalifah diserahkan kepada
keluarga Rasul dan sanak-saudaranya.[2]
Kekuasaan dinasti Bani Abbasiyah, sebagaimana
disebutkan melanjutkan kekuasaan dinasti Bani Umayyah. Kekuasaannya berlangsung
dalam rentang waktu yang panjang, dari tahun 132 H (750 M) s.d. 656 H (1258 M).
Selama dinasti ini berkuasa, pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda
sesuai dengan perubahan politik, sosial, dan budaya. Berdasarkan perubahan pola
pemerintahan Bani Abbas menjadi lima periode:
1.
Periode Pertama (132 H/750 M – 232 H/847 M),
disebut periode pengaruh Persia pertama.
2.
Periode Kedua (232 H/847 M – 334 H/945 M),
disebut masa pengaruh Turki pertama.
3.
Periode Ketiga (334 H/945 M – 447 H/1055 M),
masa kekuasaan dinasti Buwaih dalam pemerintahan khilafah Abbasiyyah. Periode
ini disebut juga masa pengaruh Persia kedua.
4.
Periode Keempat (447 H/1055 M – 590 H/1194 M),
masa kekuasaandinasti Bani Seljuk dalam pemerintahan khilafah Abbasiyyah;
biasanya disebut juga dengan masa pengaruh Turki kedua.
5.
Periode Kelima (590 H/1194 M – 656 H/1258 M),
masa khalifah bebas dari pengaruh dinasti lain, tetapi kekuasaannya hanya
efektif di sekitar kota Bagdad[3]
Dinasti Abbasiyah berkedudukan mencapai
keberhasilannya disebabkan dasar-dasarnya telah berakar semenjak Umayyah
berkuasa. Ditinjau dari proses pembentukkanya, Dinasti Abbasiyah didirikan atas
dasar-dasar antara lain:
1.
Dasar kesatuan untuk menghadapi perpecahan yang
timbul di dinasti sebelumnya
2.
Dasar
universal (bersifat universal), tidak terlandaskan atas kesukuan
3.
Dasar politik dan administrasi menyeluruh, tidak
diangkat atas dasar keningratan
4.
Dasar kesamaan hubungan dalam hukum bagi setiap
masyarakat Islam
5.
Pemerintahan bersifat Muslim moderat, ras Arab
hanyalah dipandang sebagai salah satu bagian saja di antara ras-ras lain
6.
Hak memerintah sebagai ahli waris nabi masih
tetap di tangan mereka[4]
Di antara situasi-situasi yang mendorong
berdirinya Dinasti Abbasiyah dan menjadi lemah dinasti sebelumnya adalah:
1.
Timbulnya pertentangan politik antara Muawiyah
dengan pengikut Ali bin Abi Thalib
2.
Munculnya golongan Khawarij, akibat pertentangan
politik antara Muawiyah dengan Syiah, dan kebijakan-kebijakan land reform yang
kurang adil
3.
Timbulnya politik penyelesaian khilafah dan
konflik dengan cara damai
4.
Adanya dasar penafsiran bahwa keputusan politik
harus didasarkan pada Alquran dan oleh golongan Khawarij orang Islam non-Arab
5.
Adanya konsep hijrah di mana setiap orang harus
bergabung dengan golongan Khawarij yang tidak bergabung dianggapnya sebagai
orang yang berada pada dar al-harb, dan hanya golongan khawarijlah yang
berada pada dar al-Islam
6.
Bertambah gigihnya perlawanan pengikut Syiah
terhadap Umayyah setelah terbunuhnya Husein bin Ali dalam pertempuran Karbala
7.
Munculnya paham mawali, yaitu paham
tentang perbedaan antara orang Islam Arab dengan non-Arab.[5]
Secara kronologis, nama Abbasiyah menunjukkan
nenek moyang dari Al-Abbas, Ali bin Abi Thalib dan Nabi Muhammad. Hal ini
menunjukkan kedekatan pertalian keluarga antara Bani Abbas dengan nabi. Itulah
sebabnya kedua keturunan ini sama-sama mengklaim bahwa jabatan Khalifah harus
berada di tangan mereka. Keluarga Abbas mengklaim bahwa setelah wafatnya
Rasulullah merekalah yang merupakan penerus dan penyambung keluarga Rasul.[6]
Perjuangan Bani Abbas secara intensif baru
dimulai berkisar antara lima tahun menjelang Revolusi Abbasiyah. Pelopor
utamanya adalah Muhammad bin Ali Al-Abbas di Hamimah. Ia telah banyak belajar
dari kegagalan yang telah dialami oleh pengikut Ali (kaum Syiah)dalam melawan
Dinasti Umayyah. Kegagalan ini terjadi karena kurang terorganisasi dan
kurangnya perencanaan. Dari itulah Muhammad bin Ali Al-Abbas mengatur
pergerakannya secara rapid an terencana. Ia mulai melakukan pergerakannya
dengan langkah-langkah awal yang penting. Kemudian propaganda atau langkah itu
berhasil membakar semangat api kebencian umat Islam kepada Dinasti Umayyah.
Setelah Muhammad bin Ali
meninggal tahun 734 M, perjuangan dilanjutkan oleh saudaranya Ibrahim sampai
tahun 749 M. Kemudian, sejak 749 M Ibrahim menyerahkan pucuk pimpinan kepada
keponakannya, Abdullah bin Muhammad. Pada masa inilah revolusi Abbasiyah
berlangsung.
Abdullah bin Muhammad alias Abul Al-Abbas
diumumkan sebagai khalifah pertama Dinasti Abbasiyah tahun 750 M. Dalam khutbah
pelantikan yang disampaikan di Masjid Kufah, ia menyebut dirinya dengan Al-Saffah
(penumpah darah) yang akhirnya menjadi julukannya. Hal ini sebenarnya menjadi
permulaan yang kurang baik diawal berdirinya dinasti ini, dimana kekuatannya
tergantung kepada pembunuhan yang ia jadikan sebagai kebijaksanaan politiknya.
Al-Saffah berusaha dengan berbagai cara untuk
membasmi keluarga Umayyah. Antara lain dengan kekuatan senjata. Ia mengumpulkan
tentaranya dan melantik pamannya sendiri Abdullaah bin Ali sebagai pimpinannya.
Target utama mereka adalah menyerang pusat kekuatan Dinasti Umayyah di
Damaskus, sekaligus untuk melenyapkan Khalifah Marwan (khalifah terakhir Bani
Umayyah). Pertempuran terjadi di lembah Sungai Az-zab (Tigris). Pada
pertempuran itu Marwan mengalami kekalahan dan mengundurkan diri ke Utara Syria,
Him, Damsyik, Palestina dan akhiirnya sampai ke Mesir. Pasukan Abdullah bin Ali
terus menyerangnya hingga terjadi lagi pertempuran di Mesir dan Marwan pun
tewas.
Usaha lain yang dilakukan Al-Saffah untuk
memusnahkan keluarga Umayyah adalah dengan cara mengundang lebih kurang 90
orang anggota keluarga Umayyah untuk menghadiri suatu upacara perjamuan
kemudian membunuh mereka dengan cara yang kejam. Disamping itu agen-agen dan
mata-mata disebarkan ke seluruh imperium untuk memburu para pelarian seluruh
anggota keluarga Umayyah. Hanya satu orang saja yang berhasil melarikan diri
kemudian kelak mendirikan Dinasti Umayyah di Andalusia. Ia dikenal dengan
sebutan Abdurahman Ad-Dakhil.
Perlakuan kejam itu tidak hanya pada anggota
keluarga yang masih hidup, tetapi juga yang sudah meninggal. Kuburan-kuburan
mereka dibongkar dan jenazahnya dibakar. Ada dua kuburan saja yang selamat dari
kekejamannya yaitu kuburan Muawiyah bin Abu Sufyan dan Umar bin Abdul Aziz .
perlakuan-perlakuan kejam itu tentu saja tentu saja telah menimbulkan kemarahan
para pendukung Dinasti Umayyah di Damaskus, tetapi mereka berhasil ditumpas
oleh Abbasiyah.
Abu Al-Abbas hanya memerintah dalam kurun waktu
singkat, yakni empat tahun. Oleh karena itu, ia kehilangan jati dirinya.
Kehidupannya yang dikenal dalam sejarah pertama-tama hanyalah sebagai pembasmi
Dinasti Umayyah.
Abu Abbas Al-Saffah meninggal tahun 754 M. dan
digantikan oleh saudaranya, Abu Jafar Al-Mansur dari tahun 754-774 M. Dialah
sebenarnya yang dianggap sebagai pendiri Dinasti Abbasiyah. Dia tetap
melanjutkan kebijaksanaan Al-Saffah yakni menindak tegas setiap orang yang
menentang kekuasaannya, termasuk juga dari kalangan keluarganya sendiri.
Sifat dan watak Al-Mansur dikenal oleh para
penulis sejarah sebagai seorang politikus yang demoktratis, peemberani, cerdas,
teliti, disiplin, kuat beribadah, sederhana, fasih dalam berbicara, sangat
dekat dan memperhatikan kepentingaan rakyat. Oleh karena itu, tidaklah
mengerankan bahwa selama lebih kurang 20 tahun kekuasaannya, ia telah berhasil
meletakkan landasan yang kuat dan kokoh bagi kehidupan dan kelanjutan kekuasaan
Dinasti Abbasiyah itu.[7]
B. Masa Perkembangan Politik Bani Abbasyiah
Sejarah telah mengukir bahwa pada masa Dinasti
Abbasiyah, umat Islam benar-benar berada di puncak kejayaan dan memimpin
peradaban dunia saat itu. Masa pemerintahan ini merupakan golden age dalam
perjalanan sejarah peradaban Islam, terutama pada masa Khalifah Al-Makmun.
Daulat Abbasiyah berkuasa kurang lebih selama
lima abad (750-1258 M). pemerintahan yang panjang tersebut dapat dibagi dalam
dua periode. Periode I adalah masa antara tahun 750-945 M, yaitu mulai
pemerintahan Abu Abbas sampai Al-Mustakfi. Periode II adalah masa antara tahun
945-1258 M, yaitu masa Al-Mu’ti sampai Al-Mu’tasim. Pembagian periodisasi ini diasumsikan
bahwa pada periode pertama, perkembangan di berbagai bidang masih
menunjukkan grafik vertikal, stabil dan dinamis. Sedangkan pada periode II,
kejayaan terus merosot sampai datangnya pasukan Tartar yang berhasil
menghancurkan Dinasti Abbasiyah.
Pada masa pemerintahan Abbasiyah periode I,
kebijakan-kebijakan politik yang dikembangkan antara lain:
1)
Memindahkan ibukota negara dari Damaskus ke
Bagdad
2)
Memusnahkan keturunan Bani Umayyah
3)
Merangkul orang-orang Persia, dalam rangka
politik memperkuat diri, Abbasiyah memberi peluang dan kesempatan yang besar
kepada kaum mawali
4)
Menumpas pemberontakan-pemberontakan
5)
Menghapus politik kasta
Selain kebijakan-kebijakan di atas,
langkah-langkah lain yang diambil dalam program politiknya adalah:
1)
Para Khalifah tetap dari Arab, sementara para
menteri, gubernur, panglima perang dan pegawai lainnya banyak diangkat dari
golongan Mawali
2)
Kota Bagdad ditetapkan sebagai ibukota Negara
dan menjadi pusat kegiatan politik, ekonomi dan kebudayaan
3)
Kebebasan berpikir dan berpendapat mendapat
porsi yang tinggi[8]
C. Bidang Perekonomian Bani Abbasyiah
Sektor ekonomi menjadi penopang penting tegaknya
pemerintahan, maka Kholifah Bani Abbasyiah memberikan perhatian serius.
Pengembangan sector ekonomi ini dilakukan terutama pada periode pertama pada
pemerintahan Abbasyiah. Hal ini menjadikan Negara dapat menghasilkan devisa
yang banyak untuk kesejahteraan umat. Pendapatan negara yang cukup besar pada masa pemerintahan daulat Abbasyiah
tidak terlepas dari peran pemerintah dalam mengembangkan berbagai sector
ekonomi rakyat. Permulaan
masa kepemimpinan Bani Abbassiyah, perbendaharaan Negara penuh dan
berlimpah-limpah, uang masuk lebih banyak daripada pengeluaran. Disini dijelaskan pada masa perkembangan ekonomi ini adalah masa kepemimpinan Kholifah Mansyur. Beliau betul-betul telah meletakkan dasar-dasar yang kuat bagi ekonomi dan keuangan negara. Dia mencontohkan Khalifah Umar bin Khattab dalam menguatkan Islam di bidang ekonomi.
berlimpah-limpah, uang masuk lebih banyak daripada pengeluaran. Disini dijelaskan pada masa perkembangan ekonomi ini adalah masa kepemimpinan Kholifah Mansyur. Beliau betul-betul telah meletakkan dasar-dasar yang kuat bagi ekonomi dan keuangan negara. Dia mencontohkan Khalifah Umar bin Khattab dalam menguatkan Islam di bidang ekonomi.
Khalifah Al-Mansyur merupakan tokoh ekonomi
Abbasiyah yang telah mampu meletakkan dasar-dasar yang kuat dalam bidang
ekonomi, adapun unsure-unsur ekonomi yang dikembangkan zaman dinasti Abbasyiah
adalah sebagai berikut:
1. Pertanian
Pada masa dinasti Abbasyiah berlangsung, para
petani dibina dan diarahkan, serta pajak bumi mereka diringankan. Para petani
diperlakukan dengan baik, hak-hak mereka dijaga dan dilindungi dari
praktek-praktek ekonomi yang merugikan. Selain itu kholifah juga memperluas
areal pertanian, membangun sarana dan pra-sarana tranportasi baik darat maupun
laut ke daerah pertanian- pertanian serta membangun irigasi dan mengairi kanal
untuk menyalurkan air ke areal pertanian.[9]
2. Perindustrian
Bidang industry yang
menjadi perhatian pemerintah Abbasyiah. Ada beberapa factor yang mendukung
kemajuan sector industry ini, antara lain adalah adanya potensi alam berupa
barang tambang, seperti perak, tembaga, biji besi, dan lain-lain, serta hasil
pertanian sebagai bahan baku industry, potensi alam wilayah Abbasyiah cukup
menjanjikan untuk mendukung ekonomi bani Abbasyiah.
Selain factor
potensi alam adalah adanya usaha alih teknologi industry, yang dilakukan oleh
tawanan serdadu Cina yang dikalahkan dalam pertempuran di Asia tengah pada
tahun 751H. Mereka ini ahli dalam perindustrian, kholifah mengadakan proyek
alih teknologi dari mereka khususnya industry kertas. Dari sini kemudian
muncullah diberbagai kota misalnya Baghdad yang menghasilkan industry dengan
beraneka ragam hasilnya, seperti textile, sutra, wol, gelas, dan keramik.[10]
3. Perdagangan
Di sector perdagangan juga menunjukkan kemajuan
yang pesat. Ini tentu mengimbangi dua sektoryang disebut diatas, Ibukota
pemerintahan Abbasyiah, Baghdad menjadi kota pusat perniagaan/ perdagangan,
serta kota yang menghubungkan lalu lintas perdagangan antara barat dan timur,
dan dibuka perwakilan dagang India dan Cina.[11] Segala usaha ditempuh untuk
memajukan perdagangan diantaranya yaitu:
1)
Membangun sumur dan tempat-tempat istirahat di jalan-jalan
yang dilewati kafilah dagang.
2)
Membangun armada-armada dagang.
3)
Membangun armada : untuk melindungi parta-partai negara dari
serangan bajak laut.
Usaha-usaha
tersebut sangat besar pengaruhnya dalam meningkatkan perdagangan
dalam dan luar negeri.[12]
dalam dan luar negeri.[12]
Pada waktu itu bahwa kapal-kapal dagang Arab
pada waktu itu tidak hanya menjangkau di daerah-daerah sekitar kawasan
Abbasyiah , tetapi juga menjangkau sampai ke Sailan, Bombay, Aceh bahkan ke
kota pelabuhan Indo Cina dan Tiongkok.
Sedangkan kota Damaskus merupakan kota kedua Sungai Tigris dan Efrat
menjadi pelabuhan transmisi bagi kapal-kapal dagang dari berbagai penjuru dunia
sehingga terjadinya kontrak perdagangan tingkat Internasional. Ini tentu
artinya bahwa kemajuan sector perdagangan pada masa pemerintahan Abbasyiah
telah mengalami perkembangan yang pesat. Selain itu demi kelancaran perdagangan
pada masa itu telah tumbuh system semacam perbankan. Sistem ini dimaksudkan
untuk tempat penukaran uang , karena daerah bagian timur dan bagian barat tidak
menggunakan mata uang yang sama.
Perkembangan perekonomian bani Abbasyiah yang
meliputi beberapa bidang itu menjadikan pendapatan Negara dari dinasti ini
terbilang bagus, kesemuannya itu dipergunakan untuk kepentingan Negara. Adapun
pendapatan Negara pada saat pemerintahan bani Abbas secara umum adalah:
1) Pajak hasil bumi (kharaj)
2) Pajak jiwa ( jizyah)
3) Berbagai macam bentuk
zakat
4) Pajak perniagaan dan
cukai ( syur)
5) Pembayaran pihak musuh
karena kalah perang (fai’)
6) Rampasan perang (ghanimah)
Adapun untuk pengeluaran dinasti ini secara umum
meliputi:
1) Untuk pembayaran gaji
pada hakim (qadhi) gubernur, buruh dan pegawai lainnya
2) Untuk perbaikan aliran
sungai dan membangun irigasi guna untuk mengairi daerah yang jauh dari sumber
air
3) Untuk biaya para
narapidana dan tawanan musyrik
4) Untuk biaya perang
5) Untuk hadiah para ulama’
dan sastrawan.
D. Bidang Administrasi Bani Abbasyiah
Selain pemerintahan
dinasti Abbasyiah member perhatian yang tinggi pada bidang politik, dan
ekonomi. Wilayah administrasi Negara juga dilakukan penataan. Sehingga upaya
pengembangan dan penyempurnaan administrasi Negara bisa berjalan dengan baik.
Pembaharuan yang paling tampak pada dinasti ini adalah berpindahnya ibukota
Negara sebagai pusat kegiatan administrasi ke Baghdad. Disamping itu didalam
penyelenggaraan administrasi Negara pada masa ini telah pula dikenal dengan
adanya wazir ( menteri) yang membawahi kepala-kepala departemen.
Sementara itu, dalam operasionalnya, yang menyangkut urusan-urusan sipil
dipercayakan kepada wazir (menteri), masalah hukum diserahkan kepada qadi
(hakim) dan masalah militer dipegang oleh amir.[13] Jabatan ini ada yang menyebut sudah ada zaman
bani Umayyah, tetapi juga ada yang menyebut belum ada.[14] Wazir terbagi
dalam dua bagian, pertama wazir yang bertugas sebagai pembantu
kholifah dan bekerja atas nama khalifah, dan yang kedua adalah diberi
kuasa penuh untuk memimpin pemerintahan.
Selain itu
dibentuk pula apa yang diebut dengan diwan al-kitabah, semacam
secretariat Negara, yang dipimpin oleh seorang Rais, Rais ini dibantu
oleh beberapa orang sekretaris, diantaranya yang paling masyhur: Katib
al-Rasail, Katib al- Karni, Katib al-Jundi, Katib al-Syurthat, dan Katib
al-Qadha. Kekuasaan pemerintahan dinasti Abbasyiah dibagi kedalam bebrapa
propinsi atau juga disebut juga dengan imarah, dan setiap imarah dipimpin oleh
seorang gubernur hal ini digunakan untuk mempermudah jalannya pemerintahan
daerah- daerah. Diantara propinsi-propinsi pda zaman dinasti Bani Abbasyiah
adalah:
1) Kufah dan Sawwad
2) Bashrah dan
daerah-daerah Dajlah, Bahrein, Uman
3) Hijaz dan Yamamah
4) Yaman
5) Ahwaz yang meliputi
Khuziztan dan Cattan
6) Parsi
7) Khurasan
8) Mosul
9) Jazirah, Armania, dan
Azerbaijan
10) Suriah
11) Mesir dan Afrika,
12) Sind
Sebenarnya penataan administrasi pada masa
pemerintahan Abbasyiah mengalami perkembangan yang tinggi adalah merupakan
salah satu pengaruh Persi yang masuk di dalam pemerintahan. Sebab Persi
merupakan kota yang terkenal dalam kemajuannya di dalam bidang administrasi
yang dianggap bagus. Ditambah lagi dengan bahwa pusat pemerintahan Islam zaman
bani Abbasyiah memang berada di jantung kekuasaan Persi, setelah Persi dikuasai
umat islam.[15]
[1] Ajid
Thohir, Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam, (Jakarta: PT.
Raja Grafindo Persada, 2004),,22
[2]
A. Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam, (Jakarta: PT Alhusna
Zikra, 1997),,1
[4] Ajid
Thohir, Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam, (Jakarta: PT.
Raja Grafindo Persada, 2004),,,44
[9] Imam Fuadi, Sejarah Peradapan Islam, (Yogyakarta:
teras, 2011),,123
[10] Ibid,,124
[11] Thaher
Muhammad, Sejarah Islam dari Andalus Sampai Indus, Cet I, (Jakarta:
Pustaka Jaya,1981),,100
[14] Yusuf al-isy, Tarikh Ashi al-Khilafat al Abbasyiah, (Damsyik: Daru al
Fikri, 1982),,44
[15] Imam Fuadi, Sejarah Peradapan
Islam, ,,19
Tidak ada komentar:
Posting Komentar