A. Perkembangan
Bidang Ekonomi
Pada masa pemerintahan Dinasti
Umayah berada di tangan khalifah Abdul Malik ibn Marwan, kondisi dinasti Umayah
relatif stabil. Hal ini dikarenakan dari dukungan Al-Hajjaj, seorang panglima
penakluk Mekkah, yang memimpin wilayah sebelah timur yang merupakan propinsi
yang sangat berbahaya dari segi keamanan. Sementara jabatan propinsi yang
lainnya diserahkan kepada keluarga khalifah. Dengan demikian menjelang akhir
pemerintahan Abdul al- Malik, berbagai kegiatan pemerintahan dilaksanakan oleh
orang-orang yang dipercayainya.
Pada masa Dinasti Umayah ekonomi
mengalami kemajuan yang luar biasa. Dengan wilayah penaklukan yang begitu luas,
maka hal itu tidak menutup kemungkinan usaha untuk mengeksploitasi potensi
ekonomi negeri-negeri taklukan. Tetapi bukan hanya mengeksploitasi saja yang
dilakukan dinasti Umayah, usaha memakmurkan negeri taklukanpun juga dilakukan.
Dengan
adanya kerjasama yang baik antara Abdul al-Malik dan al-Hajjaj ini mampu
menghasilkan pemerintahan yang kuat yang ditandai dengan meningkatnya anggaran
pemerintah untuk berbagai macam pekerjaan umum diantaranya adalah:
1.
Pembangunan prasarana dan masjid-masid di berbagai propinsi,
yang terbesar ialah pembangunan Doem of the Rock (Qubbah al-Sahra) di atas
masjid al-Aqsha di Jerussalem.
2.
Pembangunan beberapa irigasi antara sungai Trigis dan
Euphrat untuk mengairi lahan yang tidak diolah oleh Irak waktu itu. Sehingga
menjadikan pertanian berkembang semakin pesat. Hasil pertanian yang menonjol
seperti gandum, padi, tebu, jeruk, kapas
dan sebagainya.
3.
Pembangunan di industry kulit dan tenun juga mengalami
kemajuan yang sangat pesat.Hasil industrinya dipasarkan sampai ke India dan
Asia Tengah. Seperti di kota Damaskus, Baghdad dan Makkah menjadi pusat
perdagangan yang sangat ramai[1].
Perkembangan
di bidang ekonomi yang telah dicapai dinasti Umayah yang tepatnya pada masa
pemerintahan khalifah Abdul Malik dapat digunakan sebagai cambuk keberhasilan
penerus pemerintahan Dinasti Umayah. Adapun pengganti dari khalifah Abdul
al-Malik adalah anaknya yang bernama Walid ibn Abd al- Malik. Yang sekaligus
mewarisi dua hal penting. Pertama, kekayaan melimpah dari hasil berbagai
penaklukan. Kedua mata uang Arab yang telah dibakukan. Oleh karena itu masa
Walid dipandang sebagai puncak kejayaan Dinasi Umayah.
Adapun
langkah-langkah yang dilakukan oleh Walid ibn Abd al-Malik yaitu:
1. Mempergunakan sebagian kekayaan
Negara untuk membenahi prasarana perkotaan dan pembangunan kesejahteraan social
lainnya.
2. Membenahi jalan-jalan,membangun
panti-panti untuk penderita penyakit kusta dan kronis lainnya.
3. Membangun rumah sakit-rumah sakit
4. Membangun masjid-masjid (masjid
terbesar di Damaskus) yang sampai sekarang masjid besar dinasti Umayah ini
tetap berdiri megah[2].
Dari sini dapat dikatakan bahwa
dinasti Umayah pernah mengalami kemajuan sehingga pemerintahannya menjadi jaya
dengan kemakmuran dan kekayaan yang melimpah. Meskipun kekayaan itu banyak
digunakan untuk perbaikan dan peningkatan sarana dan prasarana, namun kesan
borosnya kehidupan di keluarga istana tetap saja muncul. Hal ini yang
menimbulkan kecemburuan social terutama dari kalangan non Arab, karena dominasi
Arab pada dinasti Umayah memang cukup besar.
B. Perkembangan Bidang
Administrasi.
Setelah
Muawiyah menjadi Kholifah umat Islam, maka ia segera menata pemerintahannya. Kebijakan
ini dilakukan untuk mengantisipasi tindakan-tindakan yang timbul dari reaksi pembentukan
kekuasaannya. Secara personal Muawiyah sangat bijaksana dalam menghadapi
kendala-kendala dalam pemerintahanya. Muawiyah dengan seksama melihat factor
apa penyebabnya dan mencari alternatifnya, antara lain lewat perdamaian atau
memberlakukan musuh dengan keluhuran dan kebesaran.
Diantara
usaha Muawiyah yaitu melakukan berbagai macam langkah strategi guna
meningkatkan dan memperlancar tata administrasi Negara. Langkah-langkah ini
sangat berbeda dengan pengelolaan administrasi sebelumnya yaitu:
1. Ibu kota umat Islam dipindahkan ke
kota Damaskus. Karena di kota itu basis kekuatan Muawiyah. Pemindahan ini
diharapkan Damaskus dapat mengontrol propinsi-propinsi lain yang ada di
bawahnya.
2. Penggabungan beberapa propinsi, yang
semula delapan propinsi dapat diminimalisir menjadi lima propinsi. Mengenai
belanja daerah dibebankan pada daerah masing-masing yang diperoleh dari
berbagai sumber termasuk pajak dan surplus keuangan daerah dikirim ke pusat.
3. Pembentukan jabatab wasir. Dengan
maksud untuk membantu khalifah dalam melaksanakan tugas administrasi
pemerintahan. Jabatan wasir ini kemudian menjadi tradisi bagi khalofah-khalifah
sesudahnya[3].
4. Pembentukan semacam petugas
protokoler. Mengawal dan menyeleksi tamu yang akan berurusan dengan khalifah
merupakan tugas utama dari bagian ini.
Selain
membentuk dan melakukan perubahan-perubahan di atas, Muawiyah juga melengkapi
struktur pemerintahanya dengan membentuk Diwan (Departemen). Sebetulnya diwan
itu sudah ada sejak kekhalifahan Umar ibn al-Khattab, namun karena kebutuhan
dan zaman yang berbeda, maka ada perubahan yang dilakukan. Diwan-diwan tersebut
adalah:
1. Diwan
al-Jund.Diwan ini
mengurusi ketentaraan. Angkatan bersenjata di masa ini sudah mengalami
kemajuan, dari segi strategi mengikuti pola Persia dan Bizantium. Dimana
pasukan dikelompokkan kepada Farsan (pasukan berkuda), Rajil (pasukan invantri)
dan Ramat (pasukan pemanah). Di kota-kota besar didirikan markas komando dengan
dilengkapi barak-barak asrama, sedang di pusat-pusat militer dibangun
gedunglogistik kemiliteran.
2. Diwan
al-Kharaj. Diwan ini
bertugas mengurus masalah perpajakan. Dibentuk di setiap propinsi dan dipimpin
oleh shahib al-kharaj serta bertanggung jawab langsung kepada kha lifah. Karena
diwan ini sangat penting terkait administrasi keuangan Negara.
3. Diwan
al-Rasail wa al-Kitabah. Diwan
ini bertugas menangani berbagai surat dari berbagai wilayah Islam atau surat
khalifah kepada pejabat daerah. Karena pekerjaannya yang penting, maka
petugasnya dari orang kepercayaan berasal dari keluarga khalifah. Kalau
sekarang diwan ini mirip dengan secretariat Negara.
4. Diwan
al-Khatam. Diwan ini
bertugas meregister dan mendokumentasikan arsip surat khalifah atau dokumen
penting lainnya. Pada masa Abdul Malik ibn Marwan, diwan ini berkembang menjadi
arsip Negara yang berpusat di Damaskus. Karena Damaskus menjadi ibu kota
Dinasti Umayah[4]
5. Diwan
al-Barid. Diwan ini
sama dengan dinas post saat ini, tetapi pada masa Muawiyah masih terbatas
fungsinya untuk kepentingan pemerintah. Baru pada periode berikutnya bagian ini
berkembang sesuai kebutuhan[5].
Perkembangan
bidang administrasi di masa Muawiyah sangatlah jelas, demikian juga di masa
kekhalifahan Abdul al-Malik, ia menjalankan kebijakan arabisasi. Yaitu pertama
dijadikannya bahasa Arab sebagai bahasa resmi. Kedua digantikannya uang
Bizantium dengan uang Arab. Mata uang tersebut ditarik dan digantukan dengan
mata uang baru yang mencantumkan kalimat-kalimat arab dan bernafaskan Islam.
Mata uang itu dibuat dari dua jenis logam, dinar emas dan dirham perak. Nilai
tukar ditetapkan sepuluh atau dua belas dirham untuk satu dinar, tetapi
sebenarnya tergantung dari nilai tukar uang yang sedang berlaku. Hal inilah
yang menjadikan semakin mantapnya program Arabisasi yang dijalankan oleh Abdul
al-Malik.
C. Kemunduran dan Kehancuran Dinasti Ummyah
Kemunduran
dan kehancuran Dinasti Umayah sangat erat hubungannya dengan proses
berdirinya,serta system pemerintahanya. Ciri khas dari dinasti ini adalah
kekuasaan harus dipegang oleh keluarga Dinasti Umayah, meskipun mereka tidak
memiliki kemampuan memimpin. Mereka sangat berambisi sehingga menimbulkan
tindakan-tindakan negative, saling menipu, menjegal bahkan saling bunuh.
Keadaan ini terjadi di saat-saat terakhir pemerintahan Dinasti Umayah yang
kekhalifahannya di pegang oleh Walid bin Yasid dan Marwan bin Muhammad.
Ada
dua periode yang dapat dikatakan sebagai masa kemunduran dan kehancuran Dinasti
Umayah yaitu:
1. Ketika Yazid naik tahta, Husen bin
Ali dan Abdullah bin Zubair beserta pengikutnya tidak mau tunduk kepada Yazid,
bahkan mereka mengangkat Husen sebagai khalifah. Akhirnya terjadi pertempuran
di Karbela, pasukan Yazid kalah dan Husen terbunuh, yang kepalanya dipenggal
dan di kirim ke Damaskus dan tubuhnya dikubur di Karbela. Dalam kondisi keadaan
Negara yang tidak stabil, Yazid bin Muawiyah wafat dan digantikan Muawiyah bin
Yazid. Karena kitidakmampuan di bidang pemerintahan, maka dimasa inilah Dinasti
Umayah mengalami stagnasi. Akhirnya Muawiyah bin Yazid menyerahkan
kekhalifahannya. Dan untunglah kondisi yang demikian segera dapat dikendalikan
oleh Marwan bin Hakam sebagai pengganti Muawiyah bin Yazid. Setelah Marwan bin
Hakam wafat, digantikan anaknya Abdul Malik, Bani Umayah lebih dapat
dikendalikan karena Abdul Malik dipandang sebagai khalifah yang perkasa dan
negarawan yang cakap sehingga kesatuan dunia lebih terkendalikan[6].
2. Periode yang membawa Bani Umayah
kepada kehancurannya yaitu dimulai sejak khalifah ke-11, Walid bin Yazid. Pada
masa Walid bin Yazid menjadi khalifah, pemerintahannya berlangsung satun tahun
lebih, dianggap sebagai zaman terburuk selama pemerintahan Bani Umayah[7].
Ketidakstabilan Negara tersebut merupakan kesempatan emas bagi orang-orang
Abasiyah untuk melakukan penggempuran Dinasti Umayah. Dimasa kekhalifahan
terakhir yang dijabat Marwan bin Muhammad inilah pemerintahan Dinasti Umayah
hancur setelah mengalami berbagai pergolakan selam lima tahun, yaitu setelah
orang-orang Abasiyah menyerang habis-habisan Marwan bin Muhammad. Akhirnya
dinasti ini benar-benar mengalami keruntuhan pada tahun 132 H.
D. Faktor-faktor penyebab kemunduran dan kehancuran
dinasti Umayah
Ada beberapa faktor yang menyebabkan
kemunduran dan kehancuran dinasti Umayah, faktor-faktor tersebut adalah:
1. Sistem Pergantian Kholifah
Awal
pemerintahan Bani Umayah pada masa kekuasaan Muawiyah mencoba merubah sistem
pemerintahan yang bersifat demokratis, seperti pada masa Khulafa’ur Rasyidin
menjadi monarchiheridetis (kerajaan turun menurun).
Maka
sejak Muawiyah sebagai penguasa, sesungguhnya mulai tercetuslah cara yang
permanen pembaiatan secara paksa serta tumbuhnya dinasti-dinasti tirani, dimana
para pemegang kekuasaan tidak menggunakan musyawarah, tetapi dengan kekuatan
dan paksaan dan bila seharusnya kekuatan diperoleh berdasarkan baiat, maka
justru baiatlah yang berlangsung berdasar kekuatan[8].
Persoalan
yang lebih rumit ketika terjadi penobatan dua orang putra mahkota sekaligus, seperti
yang dilakukan oleh Marwan bin Hakam yang mengangkat anaknya, Abdul Malik dan
Abdul Aziz untuk menjadi putra mahkota begitu juga yang dilakukan oleh Abdul
Malik terhadap anaknya, Walid dan Sulaiman, kemudian Yazid bin Abdul Malik juga
mengangkat saudaranya yang bernama Hisyam dan dan putranya sebagai penggantinya[9].
Dengan
system yang sedemikian rupa sehingga dapat menimbulkan dampak persaingan di
tingkat elite penguasa sendiri. Dimana putra mahkota pertama berusaha tidak
memberi peluang kepada putra mahkota kedua pada saat ia berkuasa. Sehingga
kasus yang terjadi memicu gejolak politik dan stabilitas pemerintahan Bani
Umayah. Hal ini terbukti dalam tragedy terbunuhnya Walid bin Yazid dalam suatu
kerusuhan yang dipimpin oleh Yazid bin Walid yang keduanya adalah cucu dari
Abdul Malik bin Marwan[10].
2. Figur Kholifah
Yang Lemah
Figur kholifah yang lemah tidak memiliki potensi
kepemimpinan dan bergaya glamor serta mengabaikan persoalan-persoalan agama
merupakan konsekuensi logis system warisan kekholifahan yang ditegakkan oleh
Dinasti Bani Umayah. Misal khalifah Yazid menggangap enteng terhadap segala
persoalan agama. Ia juga tidak pernah mengalami paaaahit getirnya penyerangan
pasukan Islam seperti yang dialami oleh khalifah-khalifah sebelumnya. Demikian
juga Sulaiman Akbar S.Ahmad yang bermoral bejad. Kekejaman yang ditimbulkan
yaitu penyiksaan serta pembunuhan tawanan dengan menggunakan pedang tumpul. Perilaku
tak baik juga ditunjukkan oleh Yazid bin Abdul Malik yang banyak menghabiskan
waktunya hanya untuk pesta dan musik. Walid bin Yazid tak jauh berbeda (orang
yang mabuk kekuasaan), bantuan social dihambur-hamburkan dan bermabuk-mabukan.
Dengan demikian dari ke 14 orang khalifah
yang memegang kekuasaan Dinasti Umayah, tidak semua dianggap berhasil
memerintah. Hanya beberapa orang yang dianggap berhasil diantaranya: Muawiyah
bin Sofyan (661-680 M), Abdul Malik bin Marwan (685-705 M), Walid bin Abdul
Malik (705-715 M), Umar bin Abdul Aziz (717-720 M), dan Hisyam bin Bdul Malik
(724-743M)[11].
Selain dari kelima khalifah tersebut dianggap sebagai khalifah yang lemah dan
tidak berhasil.
3.
Banyaknya Pemberontakan
Kebijakan-kebijakan
yang dilaksanakan Dinasti Umayah berpotensi mengundang konflik, sentimen anti
pemerintahan Bani Umayah. Sehingga muncul kelompok-kelompok yang merasa tidak
puas dengan pemerintahan Dinasti Umayah. Misalnya Khawarij dan Syi’ah yang
memandang Bani Umayah sebagai perampas kekhalifahan. Kelompok muslim di Mekkah,
Madinah dan Irak yang sakit hati dengan status istimewa penduduk Syiria, muslim
non –Arab (mawali) yang mengeluhkan status mereka sebagai “warga kelas dua” di
bawah muslim Arab, kedua kelompok muslim juga memandang keluarga Umayah bergaya
hidup mewah dan tidak Islami.
Adapun
pemberontakan di masa pemerintahan Dinasti Umayah diantaranya:
a.Gerakan kaum khawarij
Orang-orang
Khawarij memberontak yang dipimpin oleh
Farwah bin Naufal al-Asyja’I, terjadi tidak lama setelah Hasan bin Ali
menyerahkan jabatan khalifah kepada Muawiyah[12].
Pada masa khalifah Abdul Malik bin Marwan, Khawaril dipimpin oleh Nafi’I bin
al-Razzaq dan Qathiri bin al-Fuja;ah yang mampu menaklukkan daerah Ahwas dan
menegakkan kekuasaan di Sawad. Begitu pula Syabib bin Yazid al- Syaibani mampu
memasuki Kufah bahkan sempat mengancam kedudukan al-Hajaj. Khawarij juga muncul
di Irak yang dipimpin Syazab memberontak khalifah Umar bin Abdul Aziz, namun
dapat diatasi oleh Umar dengan cara diplomasi karena Umar tidak menyukai
pertumpahan darah . Gerakan berikutnya kaum Khawarij yang dipimpin oleh Abu
Hamzah al-Khariji (Mekkah th 129 H) dan dapat menguasai wilayah Madinah tahun
130 H[13].
Yang terakhir masa khalifah Marwan bin Muhammad, orang Khawarij dipimpin Dhahak
bin ais al-Syaibani, pemberontakan ini sangat membahayakan Bani Umayah yang
semakin rapuh kekuatannya.
b.
Gerakan Golongan Syi’ah
Ada
beberapa persoalan yang menyebabkan Syi’ah berkeinginan memberontak
pemerintahan Dinasti Umayah. Pertama orang-orang Syi’ah menganggap bahwa
Muawiyah merampas hak khalifah dari ahl al-bait (ali bin Abi Thalib). Kedua, Muawiyah
tidak menepati isi perjanjian dengan Hasan bin Ali ketika dia naik tahta, yang
menyebutkan bahwa persoalan penggantian pemimpin setelah Muawiyah diserahkan
kepada pemilihan umat Islam. Maka pengangkatan Yazid,putra Muawiyah sebagai
putra mahkota menyebabkan marahnya orang-orang Syi’ah. Ketiga, kematian Husen
bin Ali di Karbela. Keempat, orang-orang Umayah yang menyebarkan fitnah dan
caci maki terhadap keluarga ahl al-bait bahkan dalam kotbah sekalipun tidak
segan-segan menjatuhkan, demi kepentingan politiknya agar pemerintahan Umayah
semakin kuat.
Maka
pada tahun 65 H terjadi pemberontakan di Kufah yang dipimpin oleh Sulaiman bin
Shurad al Khusa’i yang terkenal dengan Wardah. Pemberontakan ini sebagai reaksi
atas perlakuan orang Umayah terhadap kematian Husen di Karbela. Pada tahun
685-687 H pemberontakan Syi’ah dipimpin oleh Mukhtar al-Ubaid di Kufah yang
dibantu dari kalangan mawali yang berasal dari Persia, Armenia dan
lainya dimana waktu itu pemerintah Umayah dipimpin oleh Abdul Malik bin Marwan[14].
Pemberontakan
Syi’ah yang dipimpin oleh Zaid bin Ali bin Husen bin Ali bin Abi Thalib
menuntut haknya menjadi khalifah,tetapi dapat dipatahkan oleh Yusuf bin Umar
al-Saqafi. Pemberontakan ini dianggap sebagai momen pertama dari rangkaian
pemberontakan selanjutnya yang menjadikan Dinasti Umayah jadi terpojok. Di mana
usaha Zaid bin Ali kemudian dilanjutkan oleh anaknya Yahya, pada masa
pemerintahan Walid bin Yazid, gerakan ini yang membunuh Amr bin Zarrah al Qisri
gubernur dinasti Umayah di Naisabur[15].
c. Gerakan Oposisi Abdullah bin Zubair
Abdullah
bin Zubair membangun gerakan oposisi di Makkah. Dia baru menyatakan diri
sebagai khalifah setelah Husen bin Ali terbunuh. Karena khalifah Yazid tidak
mau tergulingkan oleh gerakan oposisi, maka pasukan Yazid mengepung Mekkah. Dan
terjadilah pertempuran, namun pertempuran itu terhenti karena mendengar
khalifah Yazid wafat. Dan Muawiyah bin Yazid pun akhirnya diangkat sebagai
khalifah. Ketidakmampuan Muawiyah menjadi angin segar bagi Abdullah bin Zubair,
yang saat itu telah menguasai seluruh Arabia dan Syiria bagian utara. Pada masa
khalifah Abdul Malik, Abdullah ditekan oleh pasukan Abdul Malik yang dipimpin
oleh al- Hajaj bin Yususf, yang mampu menimbas gerakan oposisinya, yang
akhirnya Abdullah meninggal dalam pertempuran ini tahun 692 M[16].
4.
Lahirnya Kembali Fanatisme Kesukuan
Pertentangan etnis antara suku Arabia
Utara(bani Qoys) dan Arabia Selatan(bani Kalb) semakin meruncing di masa
Dinasti Umayah. Ketika pemerintahan Muawiyah bin Yazid timbul pertempuran di
Syiria antara kedua suku tersebut. Ketiaka Abdullah bin Zubair bangkit dengan
oposisinya, Bani Qoys memihak Abdullah bin Zubair, sehingga mereka tidak senang
terhadap Bani Kalb yang waktu itu mendukung Bani Umayah[17].
Perselisihan tersebut semakin membesar setelah terjadinya pertempuran Marj
Rahitt.
Selain itu orang-orang Bani Umayah
mempunyai kecenderungan mengumpulkan harta kekayaan sehingga timbul kelas social
baru yang disebut mawali, seorang mawali hakekatnya adalah seorang
muslim yang menurut garis keturunan ia tidak termasuk dalam suku Arab, missal
orang Persia dan Mesir. Sehingga mawali dianggap warga kelas dua.
Tunjangan-tunjangan yang diberikan kepada mawali lebih kecil daripada orang
Arab asli. Akhirnya mawali menggabungkan diri dengan gerakan Sy’ah Abbasiyah
untuk mengakhiri Dinasti Umayah.
Di saat khalifah Dinasti Umayah yang
terakhir di pegang Marwan bin Muhammad, pemerintahanya dalam keadaan kacau.
Marwan menutup hutang-hutang para pendahulunya, kekuasaanya terancam oleh
pasukan Romawi Timur, di dalam negeri menghadapi berbagai pemberontakan. Yaitu
pemberontakan di kota Emessa ( Homs), di dekat kota Damaskus dipimpin Yazid bin
Khalid al-Tsauri, di Palestina, pemberontakan Sulaiman bin Hisyam, khawarij di
Irak dipimpin Dhahak bin Kais al-Syaibani serta di Kufah yang dipimpin Abdullah
bin Muawiyah.
Kondisi yang sedemikian rupa merupakan
kesempatan bagi gerakan Abbasiyah untuk menyusun kekuatan guna menghancurkan
Dinasti Umayah. Dengan didukung oleh Bani Hasyim golongan Syi’ah dan kaum
mawali, berhasil menguasai wilayah Khurasan, Iran yang selanjutnya ke Irak utuk
menghancurkan pasukan Marwan, sehingga Kholifah Marwan melarikan diri ke
Mesir.
Akhirnya kholifah Marwan ditangkap di
sebuah biara di pelabuhan Abusir, di muara sungai Nil. Kemudian dijatuhi
hukuman mati dan kepalanya di kirim kepada Abul Abbas al-Saffah (khalifah
pertama Bani Abbasiyah) di Kufah[18].
Dengan wafatnya Marwan bin Muhammad pada tahun 132 H/750 M berarti jatuhlah
pemerintahan Dinasti Umayah dan sekaligus muncullah Dinasti baru yaitu Dinasti
Abbasiyah.
[1] Ibid., 80
[2] M.A.Shaban,Islamic
History,Terjem.Machnun Husen (Jakarta:Rajawali Press,1984),173
[3] Abdul Aziz
Salim,Tarikh al-daulah al- Arabiyah (Beirut:Dar al- Nahdhah,1986),676
[4] Ibid.,676
[5] Imam
Fu’adi,Sejarah Peradaban Islam,(Yogyakarta: Teras,2011),85
[6] Joesef
Sou’yb,Sejarah Daulat Islamiyah I Damaskus (Jakarta:Bulan Bintang,tt)77
[7] Abdul
Halim,’Uwais.Dirasah li Suquti.,56
[8] Abul A’la Al-
Maududi,Khilafah Dan Kerajaan,Evaluasi Kritis Atas Sejarah Pemerintahan Islam,cet.IV
(Bandung: Mizan,1992),202
[15]
Ahmad Syalabi,Sejarah
Kebudayaan Islam,(Jakarta :Al Husna Dzikra,2000),283
[16] Imam Fu’adi,Sejarah
Peradaban Islam, (Yogyakarta:Teras,2011),100
[17]
Harun Nasution,
Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya I,( Jakarta:UI Pres,1985),66
[18]Imam Fu’adi,Sejarah
Peradaban Islam,(Yogyakarta:Teras,2011),103
Tidak ada komentar:
Posting Komentar