Senin, 28 September 2015

BANI UMAYYAH: PEMBENTUKAN DAN EKSPANSINYA

A.      Asal Usul Bani Umayyah dan Proses Berdirinya Dinasti Bani Umayyah
1.      Asal-Usul Bani Umayyah
Nama Bani Umayyah dinisbatkan kepada nama seorang pemimpin kabilah Quraisy,  Mekah pada zaman jahiliah yang bernama Umayyah bin Abdul Syam bin Abdul Mananf. Kabilah ini sangat kuat dan disegani serta dihormati karena kebanyakan dari mereka adalah pedagang yang sukses dan kaya raya.[1]
Nama Abdul Manaf jika diruntut terus memiliki pertautan silsilah dengan Nabi Muhammad SAW. Hanya saja Rasulullah SAW. Berasal dari garis keturunan Hasyim. Keturunan Hasyim tidak seperti keturunan Abdul Syam, keturunan Hasyim kebanyakan bukan pedagang yang sukses. Abdul Muthalib kakek Rasulullah SAW. Adalah seorang peternak dan pemelihara tempat Ibadah (Kakbah).  Meskipun Bapak Rasullulah SAW. Yakni Abdullah adalah seorang pedangan, tetapi bukan seorang pedagang yang sukses seperti keluarga Muawiyah.[2]
Adul Manaf kakek buyut Muawiyah memiliki dua anak laki-laki yakni Abdul Syam dan Hasyim. Dari sisilah keturunan Adbul Syam lahirlah Muawiyah, dan dari Hasyim lahirlah Rasulullah SAW. Meskipun Abdul Syam dan Hasyim berasal dari keturunan yang sama tetapi mereka selalu terlibat dalam persaingan mencari pengaruh dan popularitas. Mereka bersaing untuk merebut simpati dan kepercayaan dari masyarakat Mekah. Namun dalam persaingan itu Abdul Syam selalu dapat mengunguli dan mengalahkan Hasyim. Hal ini dikarenakan Abdul Syam adalah pedagang yang sukses dan kaya raya, sementara Hasyim adalah orang biasa.
Dari segi kekayaan, Hasyim memang kalah jahu dari dibanding Abdul Syam, akan tetapi, Hasyim cukup terkenal dan harum namanya di kalangan masyarakat Mekah. Hayim dikenal sebagai peribadi yang sederhana dan berakhlak mulia.
Dalam perjalanannya, keluarga Adul Syam lambat laun menjadi keluarga ningrat atau kelas atas, sedangkan keluarga Hasyim menjadi kelas biasa. Pengaruh keluarga Adbul Syam pun di masyarakat Mekah kian bertambah kuat. Mereka menjadi keluarga yang berkuasa dan disegani.
Walaupun keluarga Hasyim hanya kelas biasa, tetapi mereka memiliki akhlak mulia sehingga lama-kelamaan dipercaya sebagai penjaga dan pemelihara tempat ibadah, yakni Kakbah.
Keturunan Abdul Syam yang bernama Muawiyah bin Abi Sofyan setelah berjuang keras dengan berbagai cara akhirnya berhasil meraih kekuasaan. Awalnya, Muawiyah bin Abi Sofyan melawan Khalifah Ali bin Abi Thalib r.a.. Akan tetapi, Khalifah Ali bin Abi Thalib r.a. akhirnya dibunuh oleh pengikutnya sendiri yang merasa tidak puas kepada Ali bin Abi Thalib r.a.. Muawiyah kemudian berusaha mengalahkan Hasan bin Ali r.a..
Khalifah Hasan bin Ali pun hanya dapat bertahan menjadi khalifah beberapa bulan saja. Sejak dia diangkat menjadi khalifah, Muawiyah terus melakukan aksi-aksi politiknya hingga akhirnya Hasan bin Ali r.a. terpaksa menyerahkan kekuasaannya kepada Muawiyah. Setelah berhasil memperoleh kekuasaan dari Hasan bin Ali r.a., Muawiyah kemudian menobatkan diri menjadi khalifah. Dia juga mendirikan sebuah kerajaan baru yang bernama Dinasti Bani Umayyah.
Nama Bani Umayyah dibuat oleh Muawiyah bin Abi Sofyan untuk mengabadikan nama kakek buyutnya yang bernama Umayyah. Sejak saat itulah nama Umayyah dikenal orang dan masuk dalam catatan sejarah sebagai sebuah dinasti yang tangguh dan berpengaruh.[3]

2.      Proses Berdirinya Dinasti Bani Umayyah
Pada saat itu kekuasaan di tangan Klalifah Usaman bi Affan dan menjelang akhir kekuasaannya, Khalifah Usman bin Affan r.a. banyak menghadapi berbagai macam pemberontakan. Para pemberontak menuduh bahwa Khalifah Usman bin Affan itu lemah dan tidak cakap mengurus pemerintahan.  Selain itu, mereka juga menuduh Khalifah Usman telah melakukan praktik-praktik nepotisme. Nepotisme yang berarti mengangkat saudara-saudaranya menjadi pejabat dan mengendalikan ekonomi. Bahkan, ada tuduhan bahwa Khalifah Usman bin Affan r.a. telah menggunakan kas negara, baitulmal untuk kepentingan keluarganya.
Para pemberontak akhirnya melakukan penyerangan ke rumah Khalifah Usman bin Affan r.a.. Karena tidak mendapatkan pengamanan yang cukup kuat, maka para pemberontak dengan mudah dapat menerobos masuk. Meskipun Ali bin Abi Thalib ikut menghadang dan menghalau para pemberontak, tetapi dia gagal karena jumlah pemberontak sangat banyak dan beringas. Dan akhirnya Khalifah Usman bin Affan terbunuh dengan bersimbah darah di rumahnya.
Setelah peristiwa tragis itu, para sahabat seperti Thalhah bin Ubaidillah dan Zubair meminta Ali bin Abi Thalib r.a. menjadi khalifah menggantikan Usman bin Affan. Ali bin Abi Thalib r.a. dengan perasaan curiga menerima permintaan mereka. Penduduk Madinah dan Mekah kemudian melakukan baiat setia kepada Ali bin Abi Thalib r.a. sebagai khalifah.

Entah dari mana kabarnya, setelah Ali bin Abi Thalib r.a. menjadi khalifah terdengar desas-desus bahwa akan terjadi penggantian para gubernur. Menurut desas-desus yang berkembang, Khalifah Ali bin Abi Thalib r.a. akan mengganti beberapa gubernur. Hal itu dikarenakan mereka dinilai tidak mampu mengendalikan keadaan. Di antara nama-nama gubernur yang akan diganti beredar nama Muawiyah bin Abi Sofyan.
Muawiyah saat itu menjabat sebagai gubernur Damaskus, Syiria. Muawiyah dituduh bagian dari nepotisme Usman bin Affan r.a.. Mendengar berita itu, tentu saja Muawiyah menjadi marah sekali. Muawiyah bin Abi Sofyan itu masih keluarga Khalifah Usman, tetapi Muawiyah merasa dirinya berhak atas jabatan itu. Muawiyah menganggap dirinya mampu dan laik menjadi gubernur karena dipilih oleh khalifah sebelumnya, yakni Umar bin Khattab r.a.. Muawiyah bin Abi Sofyan pun kemudian menyatakan diri tidak mau membaiat dan patuh kepada Khalifah Ali bin Abi Thalib r.a..
Muawiyah bin Abi Sofyan yang juga seorang politisi kemudian mulai membuat isu-­isu politik. Muawiyah meminta agar Khalifah Ali bin Abi Thalib r.a. segera mengungkap dan menangkap siapa pembunuh Khalifah Usman bin Affan. Menurutnya, hat ini penting sebagai bentuk pertanggungjawaban Ali bin Abi Thalib r.a. sebagai seorang khalifah.
Akan tetapi, Khalifah Ali bin Abi Thalib r.a. tidak mau memenuhi permintaan ini. Menurut Khalifah Ali bin Abi Thalib r.a. bahwa ini masih masa berkabung. Jika dirinya harus mengusut siapa pembunuhnya, maka kondisi politik akan tidak stabil dan itu tidak baik. Muawiyah bin Abi Sofyan yang memiliki tujuan politik menjadi marah. Muawiyah bin Abi Sofyan kemudian melancarkan provokasi. Dia membuat kampanye buruk dengan menuduh Khalifah Ali bin Abi Thalib r.a. sengaja tidak mau mengungkap siapa pembunuhnya karena dirinya berada di batik pembunuhan itu.

Rupanya Muawiyah bin Abi Sofyan benar-benar seorang politikus cerdas. Dia berhasil memengaruhi Thalhah bin Ubaidillah dan Zubair. Padahal, Thalhah dan Zubair adalah sahabat yang pertama kali meminta Ali bin Abi Thalib r.a. menjadi khalifah dan juga yang pertama melakukan baiat. Rupanya Muawiyah bin Abi Sofyan pintar menyakinkan kedua orang yang juga diam-diam tertarik dengan jabatan.[4]
Thalhah dan Zubair selanjutnya mendapat tugas mendekati Aisyah, istri Rasulullah saw.. Kepada Aisyah, mereka menceritakan keadaan politik yang berkembang, khususnya tentang para sahabat dan rakyat yang menuntut agar pembunuh Khalifah Usman ditangkap dan dihukum mati. Aisyah pun setuju dengan usulan kedua orang itu.
Kemudian Thalhah, Zubair, dan Aisyah secara diam-diam menggalang kekuatan di kota Basrah untuk menyerang Khalifah Ali bin Abi Thalib r.a.. Mendengar berita seperti itu, Khalifah Ali bin Abi Thalib r.a. segera mengambil tindakan mendekati kedua orang tersebut untuk berdamai. Thalhah dan Zubair menerima ajakan damai Khalifah Ali bin Abi Thalib r.a.. Namun, para pendukung mereka tidak setuju. Akhirnya, terjadilah perang.
Dalam sebuah peperangan yang terjadi di kota Khariba dekat kota Basrah, Thalhah dan Zubair tewas terbunuh. Sementara, Aisyah yang juga ikut berperang dengan menaiki unta diamankan oleh Khalifah Ali bin Abi Thalib r.a.. Aisyah kemudian dikembalikan dengan pengawalan menuju kota Madinah.
Sementara itu, Muawiyah terus membangun kekuatan. Dia mencoba mendekati Amr bin Ash, seorang politikus kawakan agar bergabung di pihaknya. Amr bin Ash setuju dengan tawaran Muawiyah, tetapi dengan syarat dirinya nanti mendapatkan jatah menjadi gubernur setelah Muawiyah menjadi khalifah.

Hari demi hari suhu politik makin memanas. Pihak Muawiyah yang berpusat di kota Damaskus terus menyusun kekuatan. Khalifah Ali bin Abi Thalib r.a. kemudian mencari jalan tengah agar tidak terjadi peperangan. Khalifah mengirimkan seorang utusan bernama Jarir bin Abdullah. Tugasnya adalah menyampaikan kepada Muawiyah bahwa Khalifah Ali bin Abi Thalib r.a. tidak segan-segan menggunakan kekerasan jika Muawiyah terus membangkang. Akan tetapi, sayangnya utusan itu justru ditawan oleh Muawiyah. Melihat sikap Muawiyah yang sudah tidak dapat diajak berdamai, Khalifah Ali bin Abi Thalib r.a. segera mengirimkan pasukannya untuk menggempur Muawiyah.
Akhirnya, dalam sebuah pertempuran di kota Siffin, pasukan Muawiyah yang dipimpin Amr bin Ash dan pasukan Ali bin Abi Thalib r.a. yang dipimpin langsung oleh dirinya saling menggempur. Peperangan itu, terjadi pada tahun 657 M yang kemudian dikenal dengan nama Perang Siffin, sebuah kota dekat Damaskus.
Dalam peperangan itu kekuatan pasukan Khalifah Ali bin Abi Thalib r.a. berhasil memukul mundur pasukan Amr bin Ash. Pasukan Amr bin Ash pun kocar-kacir. Melihat keadaan yang sudah terpepet itu, Amr bin Ash dengan kelicikannya mengangkat Al-Quran dan meminta berdamai.
Khalifah Ali bin Abi Thalib r.a. yang juga sangat cerclas mengetahui jika itu hanyalah sebuah muslihat belaka. Oleh karma itu, Khalifah Ali bin Abi Thalib r.a. terus memimpin dan memerintahkan pasukannya untuk memporak-porandakan pasukan Amr bin Ash. Namun sayangnya, ada sebagian dari pengikut Khalifah Ali bin Abi Thalib r.a. yang tidak setuju dengan keputusan Khalifah Ali bin Abi Thalib r.a.. Akhirnya, mengakibatkan perpecahan di dalam pasukan Khalifah Ali bin Abi Thalib r.a..
Perang dihentikan dan Khalifah Ali pun menerima ajakan berdamai dan penyelesaian lewat diplomasi. Akan tetapi, sejak peristiwa yang terjadi dalam Perang Siffin, di pihak Khalifah Ali bin Abi Thalib r.a. terus terjadi perpecahan. Muncullah kelompok-kelompok yang menamakan diri Syiatul Ali, artinya pendukung Ali. Juga muncul kelompok yang menamakan dirinya Khawarij. Kelompok Khawarij adalah kelompok yang menyatakan keluar dari pihak Khalifah Ali bin Abi Thalib r.a..
Kaum Khawarij menginginkan agar kelompok Muawiyah dan Amr bin Ash dibinasakan. Karena menurut kaum Khawarij, merekalah yang harus bertanggung jawab atas terjadinya pertumpahan darah antarumat Islam.
Untuk menyelesaikan perselisihan dengan pihak Muawiyah, Khalifah Ali bin Abi Thalib r.a. kemudian mengutus seorang utusan bernama Abu Musa al Asy'ari yang akhlak dan kejujurannya diakui oleh setiap orang. Sementara itu, dari pihak Muawiyah dikirim Amr bin Ash, seorang politikus yang sangat cerdik dan licik.
Dalam sebuah pertemuan diplomasi yang kemudian dikenal dengan istilah tahkim (arbitrase) di sebuah tempat bernama Dumatul Jandal dekat kota Damaskus dicapailah sebuah kesepakatan. Dalam pertemuan yang berlangsung pada tahun 657 M itu, masing­-masing pihak menyepakati akan menyelesaikan masalah dengan cara damai. Baik pihak Khalifah Ali bin Abi Thalib r.a. maupun Muawiyah akan meletakkan jabatannya kemudian diadakan pemilihan khalifah.[5]
Namun, rupanya tahkim (arbitrase) itu hanyalah tipu daya Amr bin Ash. Setelah pihak Khalifah Ali bin Abi Thalib r.a. meletakkan jabatannya, pihak Muawiyah tidak man meletakkan jabatan. Abu Musa al Asy'ari benar-benar kecewa dengan sikap tersebut.
Kaum Khawarij yang sejak peperangan di Siffin kecewa karena Khalifah Ali bin Abi Thalib r.a. berniat untuk berdamai, kemudian justru melancarkan aksi teror. Diam-diam mereka merencanakan pembunuhan terhadap tiga orang yang dinilai menjadi penyebab kekacauan politik. Mereka itu adalah Khalifah Ali bin Abi Thalib r.a., Muawiyah, dan Amr bin Ash.
Namun, dalam pelaksanaannya hanya Abdurrahman bin Muljam yang berhasil membunuh Khalifah Ali bin Abi Thalib r.a.. Saat itu, Khalifah Ali bin Abi Thalib r.a. sedang menjalankan salat subuh tiba-tiba ditikam dengan pedang Muljam yang telah dipenuhi racun. Sementara, Amr bin Bakr yang ditugasi membunuh Amr bin Ash di Mesir gagal. Begitu pula dengan al Hajjaj bin Abdillah yang ditugasi membunuh Muawiyah. Kedua orang yang menjadi target pembunuhan kaum Khawarij ini selalu mendapatkan pengawalan yang ketat.
Dengan terbunuhnya Khalifah Ali bin Abi Thalib r.a. pada tanggal 24 Januari 661 M, situasi politik menjadi semakin tidak menentu. Muawiyah terus membangun kekuatan di Damaskus. Dia berharap dapat menjadi khalifah. Akan tetapi, impiannya terhadang karena para sahabat memilih Hasan bin Ali r.a. menjadi khalifah menggantikan ayahnya.

B.       Usaha-Usaha Muawiyah Merebut Kekuasaan
Setelah Khalifah Ali bin Abi Thalib r.a. terbunuh, tanpa diduga sebagian besar umat Islam memilih dan membaiat Hasan bin Ali r.a. menjadi khalifah menggantikan ayahnya. Khususnya umat Islam yang berada di kota Kufah, Madinah, dan Basrah. Ini benar-­benar sebuah kejadian yang mengagetkan. Apalagi bagi Muawiyah yang sudah lama berambisi menjadi khalifah, kenyataan ini sulit untuk diterima oleh Muawiyah.[6]
Muawiyah yang berpikir bahwa dengan terbunuhnya Khalifah Ali bin Abi Thalib r.a. maka dirinya akan dipilih menjadi khalifah benar-benar kecewa. Muawiyah kemudian melancarkan aksinya menyebarkan berbagai hasutan dan provokasi. Muawiyah dan para pendukungnya terus melancarkan aksi menentang Khalifah Hasan bin Ali r.a.. Mereka menuntut kepemimpinan umat diserahkan kepada Muawiyah. Rongrongan Muawiyah rupanya membuahkan hasil. Hari demi hari pengikut Muawiyah kian bertambah. Juga popularitas Muawiyah sebagai seorang gubernur Damaskus semakin kuat. Bahkan, masyarakat Damaskus, Syiria menyatakan siap membela mati-matian untuk menghantarkan Muawiyah menjadi khalifah.[7]
Muawiyah kemudian mendirikan sebuah pemerintahan di Damaskus, Syiria yang terpisah dari Khalifah Hasan bin Ali r.a.. Perselisihan politik pun segera muncul kembali. Kali ini Muawiyah dengan Khalifah Hasan bin Ali r.a.. Melihat Muawiyah yang terus melakukan pertentangan terhadap Khalifah Hasan bin Ali r.a., maka Khalifah Hasan bin Ali r.a. segera menyiapkan pasukan.
Mendengar Khalifah Hasan hendak melancarkan serangan, Muawiyah pun segera menyusun kekuatan. Akhirnya, perang antara pasukan Khalifah Hasan bin Ali yang dipimpin oleh Qays bin Saad dan pasukan Muawiyah pun terjadi. Di sebuah kota bernama Madain kedua pasukan bertempur dengan sengitnya.
Akan tetapi, lagi-lagi Muawiyah menggunakan kelicikannya. Di tengah pertempuran Yang sedang berkecamuk itu, Muawiyah menyebarkan isu bahwa Qays bin Saad, panglima pasukan Hasan bin Ali r.a. sudah terbunuh. Berita yang diembuskan Muawiyah menyebar sampai kepada pasukan Hasan bin Ali r.a yang membuat mereka menjadi panik. Semangat bertempur mereka menjadi surut dan kendor dan  menjadi kacau. Ditambah sikap ceroboh Khalifah Hasan bin Ali r.a. yang tidak cerdik bahwa itu hanyalah tipu muslihat Muawiyah belaka. Ketika melihat pasukannya mulai kocar-kacir, akhirnya Khalifah Hasan bin Ali r.a. memerintahkan agar segera mundur dan menghentikan pertempuran.
Setelah terjadi pertempuran di Madain itu, banyak pengikut Khalifah Hasan bin Ali r.a. Yang kecewa. Mereka kemudian mulai berbalik merongrong Khalifah Hasan bin Ali r.a.. Mereka menilai Khalifah Hasan bin Ali r.a. tidak cakap dalam menangani masalah. Bahkan, akhirnya sebagian mereka ada. yang mendatangi rumah Khalifah Hasan bin Ali r.a.. Mereka hampir-hampir saja membunuh Khalifah Hasan bin Ali r.a..
Melihat situasi politik yang semakin kacau dan keamanan yang tidak stabil, Khalifah Hasan bin Ali r.a. membuat keputusan yang sangat bijaksana. Khalifah Hasan bin Ali r.a. ingin menyerahkan kekuasaannya kepada Muawiyah. Meskipun hal tersebut medapat pertentangan dari para pengikutnya, Khalifah Hasan bin Ali r.a. tetap ingin meletakkan jabatan khalifah demi kepentingan umat Islam.
Muawiyah sendiri membujuk Khalifah Hasan bin Ali r.a  dengan  iming-imingi janji  untuk memeberikannya subsidi pensiun seumur hidup sebesar lima juta dirham dari perbendaharaan Kuffah, ditambah pemasukan dari sebuah distrik di Persia.
Disamping itu Hasan juga mengajukan beberapa persyaratan kepada Muawiyah antara lain;
1.    Agar Muawiyah tidak menaruh dendam terhadap seorangpun dari penduduk Irak.
2.    Menjamin keamanan dan memaafkan kesalahan-kesalahan mereka.
3.    Agar pajak tanah negeri Ahwaz diperuntukkan kepadanya dan diberikan setiap tahun.
4.    Muawiyah membayar sejumlah dua juta dirham kepada saudaranya Husen.
5.    Pemberian kepada bani Hasyim harus lebih besar daripada pemberian kepada bani Abdi As-Syams
Serah terima jabatan pun berlangsung antara Hasan bin Ali r.a. dengan Muawiyah bin Abi Sofyan di kota Kufah, Persia. Peristiwa ini kemudian dikenal dengan sebutan ai 'amul jama'ah (tahun persatuan). Ini dikarenakan, setelah serah terima jabatan, umat Islam kembali dalam satu kepemimpinan, yakni Muawiyah. Melalui serah terima itu, maka secara de facto dan de jure Muawiyah bin Abi Sofyan telah menjadi khalifah umat Islam yang sah. De facto artinya dilihat dari kenyataan yang terjadi, yakni Hasan bin Ali telah menyerahkan kekuasaan. Sedangkan de jure artinya secara hukum Muawiyah bin Abi Sofyan sah sebagai khalifah.
Dengan demikian, Muawiyah bin Abi Sofyan telah berhasil meraih jabatan khalifah. Muawiyah kemudian mulai meletakkan sendi-sendi pemerintahan Dinasti Bani Umayyah. Setelah Muawiyah berkuasa, ia menjadikan jabatan khalifah sebagai sesuatu yang dimiliki keturunannya. Muawiyah telah memulainya dengan mewariskan jabatan khalifah penggantinya dengan mengangkat anaknya sendiri, yakni Yazid bin Muawiyah.
Selain faktor diatas faktor lain ialah wajah  politik islam mengalami perubahan yang cukup besar  dengan berdirinya dinasti Umayyah.  Sistem pemerintahan yang awalnya menggunakan sistem kekhalifahan berubah menjadi sistem kerajaan. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi perubahan ini antara lain;
  1. Perubahan besar dalam masyarakat dengan munculnya generasi baru. Mereka adalah bukan generasi sahabat dan tidak hidup bersama sahabat sehingga sifat dan pola hidup mereka tidak sama dengan sahabat.
  2. Perubahan tabiat kehidupan materialistis. Masyarakat telah beralih dari kehidupan yang penuh dengan kezuhudan terutama pada awal-awal pemerintahan khulafaurrasyidin menjadi masyarakat yang bergelimangan kemewahan.
  3. Kekuasaan khulafaurrasyidin adalah kekuasaan yang telah berlalu  dengan tepe khusus pada masanya. Tipe tersebut terkenal dengan sistem Syura (Musyawarah), padahal ketika itu semua kekuasaan didunia menggunakan sistem otoriter dan diktator.
Dengan melihat faktor-faktor diatas maka sistem kekuasaan khulafaurrasyidin sudah sulit dipertahankan, karena masyarkat baru dengan generasi dan pemikiran yang baru tidak dapat menyesuaikan diri dengan sistem kekhalifahan, sehingga kekuasaan harus diganti dengan sistem yang lain.
Kecendrungan masyarakat baru ini lebih menghendaki kekusaan dipegang oleh raja-raja yang masih memiliki hubungan keluarga seperti halnya zaman jahiliyah sebelumnya. Muawiyah merupakan sosok yang tepat untuk mewakili kepentingan, keinginan dan kecendrungan mereka.
Perpindahan sistem pemerntahan dari kekhalifahan kepada sistem kerajaan juga tidak lepas dari siasat politik muawiyah. Sebenarnya, ketika muawiyah berkuasa ada tiga kekuatan politik yang paling menonjol. Yang terakhir adalah kelompok abdullah keponakan aisyah dan putra zubair yang gagal memperoleh kursi kekhalifahan. Melihat hal ini tentunya Muawiyah harus mengambil kebijakan politik untuk mengamankan posisinya dan keturunan-keturunannya kelak.
Muawiyah kemudian ingin mengedepankan politik praktis daripada politik-politik lainnya,dan menyusun sendiri prinsip-prinsip politik tersebut. Muawiyah sudah memepersiapkan waktu untuk memenangkan kecendrungan politiknya, ia menggunakan metode khusus untuk menjalankan siasat politiknya. Metode ini berdasrkan kondisi dirinya dan kecendrungan daerah yang ia wakili yaitu Syam.
Muawiyah meletakkan dasar khilafah sesuai dengan keturunannya. Ia berkeyakinan bahawa metode ini adalah cara untuk menyelesaikan permasalahan-permasalah yang mungkin terjadi dan tidak menginginkan kaum muslimin berperang memperebutkan kekuasaan setelah ia meninggal. Dalam benak Muawiyah terbetik niat untuk menentukan putra mahkota yang akan melanjutkan kepemimpinannya. Setelah menimbang dan memikirkannya, akhirnya ia mengangkat  Yazid sebagai putra mahkota. Hal ini berdasrkan pertimbanagan bahwa Yazid lahir ketika ia menjabat gubernur syam pada masa pemerintahan usman. Jadi, ia lahir dan tumbuh dalam kekuasaan disyam. Ibunya serndiri adalah penduduk asli syam sehingga ia dipandang mampu mewakili dan melanjutkan kecendrungan politik masyarakat syam.

C.      Gaya dan Corak Kepemimpinan Muawiyah
Peralihan kekuasaan dari Hasan bin Ali r.a kepada Muawiyah bin Abi Sofyan menandahi berdirinya Dinasti Bani Umayyah. Namun, setelah Muawiyah berhasil meraih kedudukan sebagai khalifah, dia kemudian melakukan berbagai kebijakan baru yang berbeda dengan para khulafaur rosyidin.
Selain mengganti sistem demokratis yang terbuka menjadi kerajaan absolut yang tertutup, Muawiyah juga menghilangkan kebiasaan-kebiasaan baik yang ada di zaman khulafaur rasyidin.
Para khulafaur rasyidin dahulu selalu didampingi oleh para penasihat yang ahli dan lembaga dewan yang berfungsi memberikan masukan dan pertimbangan. Kebiasaan ini dihilangkan, sehingga kebiasaan untuk melakukan musyawarah yang menjadi inti dan semangat demokrasi tidak ada lagi. Apa yang menjadi kehendak Muawiyah adalah agar semua orang patuh dan tunduk.
Jika pada masa khulafaur rasyidin, rakyat dapat menghadap langsung kepada khalifah. Mereka dapat menyampaikan masalahnya kepada khalifah, tetapi pada masa Muawiyah berkuasa, kebiasaan ini tidak ada lagi. Bahkan, Muawiyah telah menerapkan dan menggunakan sistem pengamanan pribadi yang sangat ketat. Ada istilah hijabah, yang mirip pasukan pengawal.
Setelah menjabat sebagai khalifah, Muawiyah ke mana-mana selalu diiringi oleh para pengawalnya. Akibatnya, rakyat kini tidak dapat bertemu dengan khalifah atau pemimpinnya sendiri untuk menyampaikan masalahnya.
Dalam menjalankan pemerintahannya, Muawiyah juga tidak memelihara semangat dan prinsip yang sudah dirintis para pendahulunya. Baik Rasulullah saw. maupun khulafaur rasyidin, yakni menjaga kesamaan hak. Muawiyah yang berasal dari golongan dan suku Quraisy, Mekah ternyata lebih suka memberikan hak-hak istimewa kepada sukunya. Muawiyah memperlakukan suku-suku lainnya sebagai suku kelas dua. Suku-suku lain tesebut seperti Persia, Irak, Turki, dan sebagainya. Tindakan Muawiyah ini ternyata juga ditiru oleh para penggantinya dari khalifah Dinasti Bani Umayyah. Akibatnya, tindakan seperti itu lambat laun telah menimbulkan kecemburuan dan muncullah kebencian dari kalangan non-Arab.
Hal lain yang dilakukan Muawiyah yang bertentangan dengan apa yang telah dilakukan Rasulullah saw. dan para sahabatnya adalah menjadikan baitulmal (kas negara) menjadi milik pribadinya. Padahal, baitulmal itu didirikan untuk mengumpulkan dana untuk menangani masalah keuangan rakyat
Begitulah gaya dan cara Muawiyah mengelola dan menjalankan roda pemerintahan. Walaupun tetap menggunakan istilah kekhalifahan atau pemimpin yang mewakili urusan umat, tetapi dia sebenarnya adalah seorang raja atau kaisar. Muawiyah banyak melakukan hal-hal baru yang bertentangan dengan para pendahulunya.
Setelah mewariskan jabatan kekhalifahan kepada anaknya sendiri, Yazid bin Muawiyah bin Abi Sofyan, maka selanjutnya kursi kekhalifahan pun menjadi milik keluarganya. Hanya keluarga dari keturunan Dinasti Bani Umayyah yang berhak menjabat sebagai khalifah. Sejak didirikannya tahun 661-750 M, ada empat belas khalifah dari keturunan Dinasti Bani Umayyah yang pernah menjabat sebagai khalifah.
Berikut nama-nama keturunan Dinasti Bani Umayyah yang pernah menjabat menjadi khalifah setelah Muawiyah bin Abi Sofyan.[8]
1.         Muawiyah Bin Abu Sofyan                         (41-60H/661-680 M)
2.         Yazid bin Muawiyah (Yazid I)                    (60-64 H/680-683 M)
3.         Muawiyah bin Yazid (Muawiyah 11)           (64-65 H/683-684 M)
4.         Marwan bin Hakam (Marwan 1)                  (65-66 H/684-685 M)
5.         Abdul Malik bin Marwan                         (66-86 H/685-705 M)
6.         Walid bin Abdul Malik (al Walid 1) (86-97 H/705-715 M)
7.         Sulaiman bin Abdul Malik                            (97-99 H/715-717 M)
8.         Umar bin Abdul Aziz (Umar II)                   (99-102 H/717-720 M)
9.         Yazid bin Abdul Malik (Yazid II)               (102-106 H/720-724 M)
10.     Hisyam bin Abdul Malik                              (106-126 H/724-743 M)
11.     Walid bin Yazid (al Walid II)                      (126-127 H/743-744 M)
12.     Yazid bin Walid (Yazid III)                         (127-127 H/744-744 M)
13.     Ibrahim bin Walid                                         (127-127 H/744-744 M)
14.     Marwan bin Muhammad (Marwan II)          (127-133 H/744-750 M)

D.      Ekspansi Muawiyah ke wilayah barat dan timur
Setelah Muawiyah bin Abi Sofyan berhasil menguasai dan mengendalikan politik dalam negeri, Muawiyah bin Abi Sofyan kemudian mengalihkan perhatiannya kepada perluasan wilayah.
1.      Penaklukan Afrika Utara
Wilayah Afrika Utara yang meliputi Tunisia, Maroko, Aljazair, dan lain-lain adalah wilayah yang sebagian besar berada di bawah kekuasaan Romawi Timur. Suku bangsa Afrika Utara yang terdiri atas bangsa Barbar adalah bangsa yang gemar berperang. Mereka menjadi andalan kekuatan Romawi Timur untuk mengganggu wilayah kerajaan Islam di perbatasan, khususnya Mesir.[9]
Untuk alasan keamanan, Muawiyah bin Abi Sofyan kemudian memerintahkan gubernur Mesir, Amr bin Ash untuk melakukan ekspansi dan penyerangan ke wilayah­-wilayah yang menjadi kekuasaan Romawi Timur. Amr bin Ash mengutus seorang panglima perang bernama Uqbah bin Nafi.
Dengan pasukannya, panglima Uqbah bin Nafi melakukan penyerangan ke wilayah kekuasaan Romawi. Pada tahun 670 M Uqbah bin Nafi dengan pasukannya berhasil menduduki sebuah kota bernama Qairawan. Kota yang letaknya di sebelah selatan Tunisia ini kemudian dijadikan pangkalan pasukan kekuatan Islam.
Di kota Qairawan kemudian dibangunlah benteng-benteng pertahanan. Sedikit demi sedikit namun pasti, kekuatan Romawi yang berada di wilayah Afrika Utara terus terdesak hingga akhirnya bertahan di sebuah kepulauan kecil yang bernama Septah atau Ceuta.
Akan tetapi, kekalahan yang dialami pasukan Romawi tidak membuatnya takut dan mundur. Selang beberapa bulan kemudian bangsa Romawi mencoba menggunakan kekuatan suku Barbar untuk melakukan penyerangan. Selanjutnya, panglima Uqbah bin Nafi melakukan serangan balasan. Akan tetapi, usahanya belum selesai, dia telah digantikan oleh panglima baru yang bernama Abdul Muhajir. Kini giliran panglima baru, Abdul Muhajir melancarkan serangan balasan kepada suku Barbar yang gemar berperang. Hasilnya, suku Barbar dapat dikalahkan. Bahkan banyak dari mereka yang kemudian masuk Islam karena ajakan pasukan Islam.
Setelah itu, kekuatan pasukan Islam diarahkan untuk merebut wilayah Konstantinopel (Angkara, Turki) yang pada saat itu menjadi pusat kekuasaan kerajaan Romawi Timur

2.      Penaklukan Kostantinopel
Untuk mencapai tujuannya menaklukkan kota Konstantinopel, pusat kekuasaan Romawi Timur, Muawiyah bin Abi Sofyan mengerahkan seribu tujuh ratus kapal. Kapal kapal perang juga dilengkapi persenjataan dan peralatan tempur dan segala macarn logistik
Misi penaklukan kota Konstantinopel tidak tanggung-tanggung dipimpin oleh putranya sendiri, yakni Yazid bin Muawiyah bin Abi Sofyan. Pasukan Yazid kemudian menguasai pulau-pulau yang ada di wilayah Laut Tengah yang menjadi kekuasaan Romawi Timur. Pasukan Yazid berhasil menguasai Pulau Rhodesia. Pasukannya terus bergerak dan menguasai Kepulauan Kreta. Dari Pulau Kreta pasukan yang dipimpin Yazid terus bergerak hingga menguasai Kepulauan Sicilia dan Pulau Arwad. Kedua pulau itu lokasinya tidak jauh dari pusat kekuasaan Romawi Timur, yakni kota Konstantinopel.[10]
Untuk menguasai ibu kota Konstantinopel, panglima pasukan digantikan oleh Sofyan bin Auf. Akan tetapi, setiba di dekat kota Konstantinopel pasukan yang dipimpin Sofyan bin Auf ternyata mendapatkan perlawanan yang hebat. Kurang lebih tujuh tahun pasukan Islam terus mengepung dan melakukan penyerangan terhadap ibu kota Romawi Timur ini tetapi terus mengalami kegagalan. Benteng-benteng pertahanan tentara Romawi cukup tangguh. Bahkan, saat melancarkan serangan salah seorang tokoh terkenal dari pasukan Dinasti Bani Umayyah, Abu Ayyub terbunuh.
Meskipun usaha Muawiyah bin Abi Sofyan untuk menaklukkan kota Konstantinopel belum berhasil, tetapi khalifah penerus dari Dinasti Bani Umayyah terus melanjutkan usaha ini. Penyerangan demi penyerangan ke kota tersebut kembali dilancarkan.
Namun, ibu kota Romawi Timur akhirnya baru dapat dikuasai oleh kekuatan Islam pada masa Dinasti Usmaniah pada tahun 1453. Saat itu dinasti Islam yang berkuasa adalah Dinasti Fatimiah, tepatnya di bawah pimpinan Khalifah Muhammad al Fatih.

3.      Perluasan ke Wilayah Timur
Selain melancarkan ekspansi besar-besaran ke wilayah Afrika Utara dan Laut Tengah, Khalifah Muawiyah bin Abi Sofyan juga mengerahkan kekuatan militernya ke arah timur, yakni ke daratan Asia. Di bawah pimpinan panglima perang al Muhallab bin Shafarah, kekuatan militer Muawiyah bin Abi Sofyan berhasil menaklukkan daerah Sindus. Daerah ini terletak di sebuah kawasan yang membentang dari Kabul, Afghanistan hingga wilayah Multan.[11]
Kekuatan militer Khalifah Muawiyah bin Abi Sofyan yang tangguh dan kuat itu dengan mudah menaklukkan wilayah-wilayah di Asia Timur tanpa mendapatkan perlawanan yang berarti.
Pada masa Khalifah Muawiyah bin Abi Sofyan, selain melakukan penaklukan ke berbagai wilayah, para panglima perang juga aktif berdakwah. Para panglima juga mengajak dan mengajarkan agama Islam kepada orang-orang di daerah yang ditaklukkan.
Banyak juga penduduk dari wilayah penaklukan ini yang kemudian masuk Islam. Dengan demikian, usaha perluasan wilayah juga memberikan pengaruh yang besar bagi penyebaran dan pengembangan agama Islam. Inilah yang kemudian membuat kesan buruk di kalangan bangsa Barat. Orang-orang Barat menuduh bahwa agama Islam disebarkan dengan perang, bukan damai.
Anggapan dan tuduhan semacam itu tidak dapat dibenarkan. Karena pada masa itu, kerajaan Kristen yang berada di Spanyol justru melakukan hat yang lebih parah. Mereka yang tidak mau pindah agama, khususnya orang-orang Yahudi akan dibunuh. Para panglima Islam mengajak bukan dengan pedang, tetapi dengan mengajarkan apa itu Islam. Orang-orang non muslim diperbolehkan tinggal di wilayah Islam dengan membayar pajak keamanan saja. Pajak itu diiperuntukkan bukan untuk kepentingan orang muslim, tetapi untuk diri mereka. Yakni sebagai biaya keamanan dan perlindungan jika mereka mendapatkan serangan dari bangsa lain.
Khalifah Muawiyah bin Abi Sofyan dengan karier politiknya yang panjang membuatnya piawai dan terampil mengendalikan pemerintahan. Juga pengalamannya yang kaya serta wawasan politiknya yang andal, membuatnya mudah menjalankan roda kekuasaan.
Dinasti Bani Umayyah yang dirintisnya dalam waktu yang relatif singkat terbukti dapat meraih kernapanan politik dan stabilitas keamanan, baik dalam negeri maupun luar negeri. Kekacauan politik yang timbul sejak kematian Khalifah Usman tidak ada lagi. Setelah itu, dia dengan giat melakukan ekspansi militer ke luar dengan memperoleh hasil yang gemilang.



[1] Sulaiman Tasirun, Sejarah Kebudayaan Islam.. (Depok; Arya Duta, 2006).3
[2] Ibid.... 3
[3] Ibid... 4
[4] Samsul Munir Amin, Sejarah peradaban islam (Jakarta : Amzah, 2010). 106
[5] Tasirun Sulaiman, Sejarah Kebudayaan Islam (Depok; Arya Duta,2006), 8
[6] Ibid.... 8
[7] Ibid ....9
[8] Imam As-Suyuthi, Taarikh Khulafa’, cet. th. 1409H/1989M, 221- 295.
[9]  Sulaiman Tasirun, Sejarah Kebudayaan Islam. (Depok: Arya Duta, 2006). 29
[10] Ibid ... 30
[11] Ibid ... 30

Tidak ada komentar:

Posting Komentar