A. Asal Usul Bani Umayyah dan Proses Berdirinya
Dinasti Bani Umayyah
1. Asal-Usul Bani Umayyah
Nama
Bani Umayyah dinisbatkan kepada nama seorang pemimpin kabilah Quraisy, Mekah pada zaman jahiliah yang bernama Umayyah
bin Abdul Syam bin Abdul Mananf. Kabilah ini sangat kuat dan disegani serta
dihormati karena kebanyakan dari mereka adalah pedagang yang sukses dan kaya
raya.[1]
Nama
Abdul Manaf jika diruntut terus memiliki pertautan silsilah dengan Nabi
Muhammad SAW. Hanya saja Rasulullah SAW. Berasal dari garis keturunan Hasyim.
Keturunan Hasyim tidak seperti keturunan Abdul Syam, keturunan Hasyim
kebanyakan bukan pedagang yang sukses. Abdul Muthalib kakek Rasulullah SAW.
Adalah seorang peternak dan pemelihara tempat Ibadah (Kakbah). Meskipun Bapak Rasullulah SAW. Yakni Abdullah
adalah seorang pedangan, tetapi bukan seorang pedagang yang sukses seperti
keluarga Muawiyah.[2]
Adul
Manaf kakek buyut Muawiyah memiliki dua anak laki-laki yakni Abdul Syam dan
Hasyim. Dari sisilah keturunan Adbul Syam lahirlah Muawiyah, dan dari Hasyim
lahirlah Rasulullah SAW. Meskipun Abdul Syam dan Hasyim berasal dari keturunan
yang sama tetapi mereka selalu terlibat dalam persaingan mencari pengaruh dan
popularitas. Mereka bersaing untuk merebut simpati dan kepercayaan dari
masyarakat Mekah. Namun dalam persaingan itu Abdul Syam selalu dapat mengunguli
dan mengalahkan Hasyim. Hal ini dikarenakan Abdul Syam adalah pedagang yang
sukses dan kaya raya, sementara Hasyim adalah orang biasa.
Dari
segi kekayaan, Hasyim memang kalah jahu dari dibanding Abdul Syam, akan tetapi,
Hasyim cukup terkenal dan harum namanya di kalangan masyarakat Mekah. Hayim
dikenal sebagai peribadi yang sederhana dan berakhlak mulia.
Dalam
perjalanannya, keluarga Adul Syam lambat laun menjadi keluarga ningrat atau
kelas atas, sedangkan keluarga Hasyim menjadi kelas biasa. Pengaruh keluarga
Adbul Syam pun di masyarakat Mekah kian bertambah kuat. Mereka menjadi keluarga
yang berkuasa dan disegani.
Walaupun
keluarga Hasyim hanya kelas biasa, tetapi mereka memiliki akhlak mulia sehingga
lama-kelamaan dipercaya sebagai penjaga dan pemelihara tempat ibadah, yakni
Kakbah.
Keturunan Abdul Syam yang bernama Muawiyah bin Abi Sofyan setelah
berjuang keras dengan berbagai cara akhirnya berhasil meraih
kekuasaan. Awalnya, Muawiyah bin
Abi Sofyan melawan Khalifah Ali bin Abi Thalib r.a.. Akan tetapi, Khalifah Ali
bin Abi Thalib r.a. akhirnya dibunuh oleh
pengikutnya sendiri yang merasa tidak puas kepada Ali bin Abi Thalib
r.a.. Muawiyah kemudian berusaha mengalahkan Hasan bin Ali r.a..
Khalifah Hasan bin Ali pun hanya dapat bertahan menjadi khalifah beberapa
bulan saja. Sejak dia
diangkat menjadi khalifah, Muawiyah terus melakukan aksi-aksi politiknya hingga akhirnya Hasan bin Ali r.a. terpaksa
menyerahkan kekuasaannya kepada Muawiyah.
Setelah berhasil memperoleh kekuasaan dari Hasan bin Ali r.a., Muawiyah kemudian menobatkan diri menjadi khalifah. Dia juga
mendirikan sebuah kerajaan baru yang bernama Dinasti Bani Umayyah.
Nama Bani Umayyah dibuat oleh Muawiyah bin Abi Sofyan untuk mengabadikan
nama
kakek buyutnya yang bernama Umayyah. Sejak saat itulah nama Umayyah dikenal orang dan masuk
dalam catatan sejarah sebagai sebuah dinasti yang tangguh dan berpengaruh.[3]
2. Proses Berdirinya Dinasti Bani Umayyah
Pada saat itu kekuasaan di tangan
Klalifah Usaman bi Affan dan menjelang akhir kekuasaannya, Khalifah Usman bin
Affan r.a. banyak menghadapi berbagai macam pemberontakan. Para pemberontak menuduh bahwa Khalifah Usman bin Affan itu lemah
dan tidak cakap mengurus pemerintahan. Selain itu, mereka juga menuduh Khalifah Usman telah melakukan praktik-praktik nepotisme. Nepotisme yang
berarti mengangkat saudara-saudaranya menjadi pejabat dan mengendalikan
ekonomi. Bahkan, ada tuduhan bahwa Khalifah Usman bin Affan r.a. telah menggunakan kas negara,
baitulmal untuk kepentingan keluarganya.
Para pemberontak akhirnya melakukan penyerangan ke
rumah Khalifah Usman bin Affan r.a.. Karena tidak mendapatkan pengamanan yang cukup
kuat, maka para pemberontak
dengan mudah dapat menerobos masuk. Meskipun Ali bin Abi Thalib ikut menghadang
dan menghalau para pemberontak, tetapi dia gagal karena jumlah pemberontak sangat banyak dan beringas. Dan akhirnya Khalifah Usman
bin Affan terbunuh dengan bersimbah darah di rumahnya.
Setelah
peristiwa tragis itu, para sahabat seperti Thalhah bin Ubaidillah dan Zubair meminta Ali bin Abi Thalib
r.a. menjadi khalifah menggantikan Usman bin Affan. Ali bin Abi
Thalib r.a. dengan perasaan curiga menerima permintaan mereka. Penduduk Madinah dan Mekah
kemudian melakukan baiat setia kepada Ali bin Abi Thalib r.a. sebagai khalifah.
Entah
dari mana
kabarnya, setelah Ali bin Abi Thalib r.a. menjadi khalifah terdengar desas-desus bahwa akan terjadi penggantian
para gubernur. Menurut desas-desus yang berkembang,
Khalifah Ali bin Abi Thalib r.a. akan mengganti beberapa gubernur. Hal itu dikarenakan
mereka dinilai tidak mampu mengendalikan keadaan. Di antara nama-nama gubernur yang akan diganti beredar nama
Muawiyah bin Abi Sofyan.
Muawiyah saat itu menjabat sebagai gubernur Damaskus, Syiria. Muawiyah
dituduh bagian dari nepotisme Usman
bin Affan r.a.. Mendengar berita itu, tentu saja Muawiyah menjadi
marah sekali. Muawiyah bin Abi Sofyan itu masih keluarga Khalifah Usman, tetapi Muawiyah merasa dirinya
berhak atas jabatan itu. Muawiyah menganggap dirinya
mampu dan laik menjadi gubernur karena dipilih oleh khalifah sebelumnya, yakni Umar bin
Khattab r.a.. Muawiyah bin Abi Sofyan pun kemudian menyatakan diri tidak mau membaiat dan patuh kepada Khalifah Ali bin Abi
Thalib r.a..
Muawiyah bin Abi Sofyan yang juga seorang politisi
kemudian mulai membuat isu-isu politik.
Muawiyah meminta agar Khalifah Ali bin Abi Thalib r.a. segera mengungkap dan
menangkap siapa pembunuh Khalifah Usman bin Affan. Menurutnya, hat ini penting sebagai bentuk pertanggungjawaban Ali bin Abi
Thalib r.a. sebagai seorang khalifah.
Akan
tetapi, Khalifah Ali bin Abi Thalib r.a. tidak mau memenuhi permintaan ini. Menurut
Khalifah Ali bin Abi Thalib r.a. bahwa ini masih masa berkabung. Jika dirinya harus mengusut siapa pembunuhnya, maka kondisi politik
akan tidak stabil dan itu tidak baik. Muawiyah bin Abi Sofyan yang memiliki tujuan
politik menjadi marah. Muawiyah bin Abi
Sofyan kemudian melancarkan provokasi. Dia membuat kampanye buruk dengan menuduh
Khalifah Ali bin Abi Thalib r.a. sengaja tidak mau mengungkap siapa pembunuhnya karena dirinya berada di
batik pembunuhan itu.
Rupanya
Muawiyah bin Abi Sofyan benar-benar seorang politikus cerdas. Dia berhasil memengaruhi
Thalhah bin Ubaidillah dan Zubair. Padahal, Thalhah dan Zubair adalah sahabat yang
pertama kali meminta Ali bin Abi Thalib r.a. menjadi khalifah dan juga yang pertama melakukan baiat. Rupanya Muawiyah bin Abi
Sofyan pintar menyakinkan
kedua orang yang juga diam-diam tertarik dengan jabatan.[4]
Thalhah dan Zubair selanjutnya mendapat tugas
mendekati Aisyah, istri Rasulullah saw.. Kepada Aisyah, mereka menceritakan keadaan politik yang
berkembang, khususnya tentang para sahabat dan
rakyat yang menuntut agar pembunuh Khalifah Usman ditangkap dan dihukum mati. Aisyah pun setuju dengan usulan
kedua orang itu.
Kemudian Thalhah, Zubair, dan Aisyah secara diam-diam menggalang kekuatan
di kota Basrah untuk menyerang Khalifah Ali bin Abi Thalib r.a.. Mendengar
berita seperti itu, Khalifah Ali bin Abi Thalib r.a. segera mengambil tindakan
mendekati kedua orang tersebut untuk berdamai. Thalhah dan Zubair menerima ajakan damai Khalifah
Ali bin Abi
Thalib r.a.. Namun, para pendukung mereka tidak setuju. Akhirnya, terjadilah
perang.
Dalam sebuah peperangan yang terjadi di kota Khariba
dekat kota Basrah, Thalhah dan Zubair tewas terbunuh. Sementara, Aisyah yang juga
ikut berperang dengan menaiki unta diamankan oleh Khalifah Ali bin Abi Thalib r.a..
Aisyah kemudian dikembalikan dengan pengawalan menuju kota Madinah.
Sementara itu, Muawiyah terus membangun kekuatan. Dia
mencoba mendekati Amr bin Ash, seorang
politikus kawakan agar bergabung di pihaknya. Amr bin Ash setuju dengan
tawaran Muawiyah, tetapi dengan syarat dirinya nanti mendapatkan jatah menjadi
gubernur setelah Muawiyah menjadi khalifah.
Hari demi hari suhu politik makin memanas. Pihak
Muawiyah yang berpusat di kota Damaskus
terus menyusun kekuatan. Khalifah Ali bin Abi Thalib r.a. kemudian mencari
jalan tengah agar tidak terjadi peperangan. Khalifah mengirimkan seorang utusan
bernama Jarir bin Abdullah. Tugasnya adalah
menyampaikan kepada Muawiyah bahwa Khalifah Ali bin Abi Thalib r.a.
tidak segan-segan menggunakan kekerasan jika Muawiyah terus membangkang. Akan tetapi, sayangnya utusan itu justru ditawan oleh
Muawiyah. Melihat sikap Muawiyah yang sudah tidak dapat diajak berdamai,
Khalifah Ali bin Abi Thalib r.a. segera mengirimkan pasukannya untuk
menggempur Muawiyah.
Akhirnya, dalam sebuah pertempuran di kota Siffin,
pasukan Muawiyah yang dipimpin Amr bin
Ash dan pasukan Ali bin Abi Thalib r.a. yang dipimpin langsung oleh dirinya saling menggempur. Peperangan itu, terjadi pada tahun 657 M yang kemudian dikenal
dengan nama Perang Siffin, sebuah kota dekat Damaskus.
Dalam peperangan itu
kekuatan pasukan Khalifah
Ali bin Abi Thalib r.a. berhasil memukul mundur pasukan Amr bin Ash. Pasukan Amr bin Ash pun kocar-kacir. Melihat keadaan yang sudah terpepet itu, Amr bin Ash dengan
kelicikannya mengangkat Al-Quran dan
meminta berdamai.
Khalifah Ali bin Abi Thalib r.a. yang juga sangat cerclas mengetahui jika
itu hanyalah sebuah muslihat belaka. Oleh
karma itu, Khalifah Ali bin Abi Thalib r.a. terus memimpin dan memerintahkan pasukannya untuk memporak-porandakan
pasukan Amr bin Ash. Namun sayangnya, ada sebagian dari
pengikut Khalifah Ali bin Abi Thalib r.a. yang tidak setuju dengan keputusan Khalifah Ali bin Abi Thalib r.a.. Akhirnya,
mengakibatkan perpecahan di dalam pasukan Khalifah Ali bin Abi Thalib
r.a..
Perang dihentikan dan Khalifah Ali pun menerima ajakan berdamai dan
penyelesaian lewat diplomasi. Akan tetapi,
sejak peristiwa yang terjadi dalam Perang Siffin, di pihak Khalifah Ali bin Abi Thalib r.a. terus terjadi
perpecahan. Muncullah kelompok-kelompok yang menamakan diri Syiatul
Ali, artinya pendukung Ali. Juga muncul kelompok yang menamakan dirinya Khawarij. Kelompok
Khawarij adalah kelompok yang menyatakan keluar dari pihak Khalifah Ali
bin Abi Thalib r.a..
Kaum Khawarij menginginkan agar
kelompok Muawiyah dan Amr
bin Ash dibinasakan. Karena menurut kaum Khawarij, merekalah yang harus bertanggung jawab atas terjadinya
pertumpahan darah antarumat Islam.
Untuk menyelesaikan perselisihan dengan pihak Muawiyah,
Khalifah Ali bin Abi Thalib r.a. kemudian mengutus seorang utusan bernama Abu
Musa al Asy'ari yang akhlak dan kejujurannya diakui oleh setiap orang. Sementara itu, dari pihak Muawiyah dikirim Amr bin Ash, seorang politikus yang sangat cerdik
dan licik.
Dalam sebuah pertemuan diplomasi yang kemudian dikenal dengan istilah tahkim (arbitrase)
di sebuah tempat bernama Dumatul
Jandal dekat kota Damaskus
dicapailah sebuah kesepakatan. Dalam pertemuan yang
berlangsung pada tahun 657 M itu, masing-masing pihak menyepakati akan
menyelesaikan masalah dengan cara damai. Baik pihak Khalifah Ali bin Abi Thalib r.a.
maupun Muawiyah akan meletakkan jabatannya kemudian diadakan pemilihan khalifah.[5]
Namun, rupanya tahkim (arbitrase) itu hanyalah tipu daya
Amr bin Ash. Setelah pihak Khalifah Ali bin Abi Thalib r.a. meletakkan
jabatannya, pihak Muawiyah tidak man
meletakkan jabatan. Abu Musa al Asy'ari benar-benar kecewa dengan sikap
tersebut.
Kaum
Khawarij yang sejak peperangan di Siffin kecewa karena Khalifah Ali bin Abi Thalib
r.a. berniat untuk berdamai, kemudian justru melancarkan aksi teror. Diam-diam mereka merencanakan pembunuhan terhadap
tiga orang yang dinilai menjadi penyebab kekacauan politik. Mereka itu adalah Khalifah Ali
bin Abi Thalib r.a., Muawiyah, dan Amr bin
Ash.
Namun, dalam pelaksanaannya hanya Abdurrahman bin Muljam
yang berhasil membunuh Khalifah Ali bin Abi Thalib r.a.. Saat itu,
Khalifah Ali bin Abi Thalib r.a. sedang menjalankan salat subuh tiba-tiba ditikam dengan
pedang Muljam yang telah dipenuhi racun. Sementara, Amr bin Bakr yang ditugasi
membunuh Amr bin Ash di Mesir
gagal. Begitu pula dengan al Hajjaj bin Abdillah yang ditugasi membunuh
Muawiyah. Kedua orang yang menjadi
target pembunuhan kaum Khawarij ini selalu mendapatkan pengawalan yang ketat.
Dengan
terbunuhnya Khalifah Ali bin Abi Thalib r.a. pada tanggal 24 Januari 661 M, situasi politik menjadi semakin tidak
menentu. Muawiyah terus
membangun kekuatan di Damaskus. Dia berharap dapat menjadi khalifah.
Akan tetapi, impiannya terhadang karena
para sahabat memilih Hasan bin Ali r.a. menjadi khalifah menggantikan ayahnya.
B. Usaha-Usaha Muawiyah Merebut Kekuasaan
Setelah Khalifah Ali
bin Abi Thalib r.a. terbunuh, tanpa diduga sebagian besar umat Islam memilih dan membaiat Hasan bin Ali
r.a. menjadi khalifah menggantikan ayahnya. Khususnya umat Islam yang berada di kota Kufah,
Madinah, dan Basrah. Ini benar-benar sebuah kejadian yang mengagetkan. Apalagi
bagi Muawiyah yang sudah lama berambisi
menjadi khalifah, kenyataan ini sulit untuk diterima oleh Muawiyah.[6]
Muawiyah yang berpikir bahwa dengan
terbunuhnya Khalifah Ali bin Abi Thalib r.a. maka dirinya akan dipilih menjadi
khalifah benar-benar kecewa. Muawiyah kemudian melancarkan aksinya menyebarkan berbagai hasutan dan provokasi. Muawiyah dan para
pendukungnya terus melancarkan aksi
menentang Khalifah Hasan bin Ali r.a.. Mereka menuntut kepemimpinan umat diserahkan kepada Muawiyah. Rongrongan Muawiyah
rupanya membuahkan hasil. Hari demi
hari pengikut Muawiyah kian bertambah. Juga popularitas Muawiyah sebagai seorang gubernur Damaskus semakin kuat. Bahkan,
masyarakat Damaskus, Syiria menyatakan siap membela mati-matian untuk
menghantarkan Muawiyah menjadi khalifah.[7]
Muawiyah kemudian mendirikan sebuah pemerintahan di
Damaskus, Syiria yang terpisah dari
Khalifah Hasan bin Ali r.a.. Perselisihan politik pun segera muncul kembali. Kali ini Muawiyah dengan Khalifah Hasan bin Ali r.a..
Melihat Muawiyah yang terus melakukan
pertentangan terhadap Khalifah Hasan bin Ali r.a., maka Khalifah Hasan bin Ali r.a.
segera menyiapkan pasukan.
Mendengar
Khalifah Hasan hendak
melancarkan serangan, Muawiyah pun segera menyusun
kekuatan. Akhirnya, perang antara pasukan Khalifah Hasan bin Ali yang dipimpin
oleh Qays bin Saad dan pasukan Muawiyah pun terjadi. Di sebuah kota bernama Madain
kedua pasukan bertempur dengan sengitnya.
Akan tetapi, lagi-lagi Muawiyah menggunakan kelicikannya.
Di tengah pertempuran Yang sedang berkecamuk itu, Muawiyah
menyebarkan isu bahwa Qays bin Saad, panglima pasukan
Hasan bin Ali r.a. sudah terbunuh. Berita yang diembuskan Muawiyah menyebar sampai kepada pasukan Hasan bin Ali r.a yang membuat mereka menjadi panik. Semangat bertempur mereka menjadi
surut dan kendor dan menjadi kacau. Ditambah sikap ceroboh Khalifah
Hasan bin Ali r.a. yang tidak cerdik bahwa itu hanyalah tipu muslihat Muawiyah belaka.
Ketika melihat pasukannya mulai
kocar-kacir, akhirnya Khalifah Hasan bin Ali r.a. memerintahkan agar segera
mundur dan
menghentikan pertempuran.
Setelah
terjadi pertempuran di Madain itu, banyak pengikut Khalifah Hasan bin Ali r.a.
Yang kecewa. Mereka kemudian mulai berbalik merongrong Khalifah Hasan bin Ali
r.a.. Mereka menilai Khalifah Hasan bin Ali r.a. tidak cakap dalam menangani
masalah. Bahkan, akhirnya sebagian mereka ada. yang mendatangi rumah Khalifah
Hasan bin Ali r.a.. Mereka hampir-hampir saja membunuh Khalifah Hasan bin Ali
r.a..
Melihat
situasi politik yang semakin kacau dan keamanan yang tidak stabil, Khalifah Hasan bin Ali r.a. membuat keputusan yang sangat
bijaksana. Khalifah Hasan bin Ali r.a. ingin menyerahkan kekuasaannya
kepada Muawiyah. Meskipun hal tersebut medapat pertentangan dari para pengikutnya, Khalifah Hasan bin Ali r.a. tetap
ingin meletakkan jabatan khalifah demi kepentingan umat Islam.
Muawiyah
sendiri membujuk Khalifah
Hasan bin Ali r.a dengan iming-imingi janji
untuk memeberikannya subsidi pensiun seumur hidup sebesar lima juta dirham dari
perbendaharaan Kuffah, ditambah pemasukan dari sebuah distrik di Persia.
Disamping itu Hasan juga mengajukan
beberapa persyaratan kepada Muawiyah antara lain;
1.
Agar
Muawiyah tidak menaruh dendam terhadap seorangpun dari penduduk Irak.
2.
Menjamin
keamanan dan memaafkan kesalahan-kesalahan mereka.
3.
Agar pajak
tanah negeri Ahwaz diperuntukkan kepadanya dan diberikan setiap tahun.
4.
Muawiyah
membayar sejumlah dua juta dirham kepada saudaranya Husen.
5.
Pemberian
kepada bani Hasyim harus lebih besar daripada pemberian kepada bani Abdi
As-Syams
Serah terima
jabatan pun berlangsung antara Hasan bin Ali r.a. dengan Muawiyah bin Abi Sofyan
di kota Kufah, Persia. Peristiwa ini kemudian dikenal dengan sebutan ai 'amul jama'ah (tahun
persatuan). Ini dikarenakan, setelah serah terima jabatan, umat Islam kembali dalam satu
kepemimpinan, yakni Muawiyah. Melalui serah terima itu, maka secara de facto dan de jure Muawiyah
bin Abi Sofyan telah menjadi khalifah umat Islam yang sah. De facto artinya dilihat dari
kenyataan yang terjadi, yakni Hasan bin Ali telah menyerahkan kekuasaan.
Sedangkan de jure artinya secara hukum Muawiyah bin Abi Sofyan sah sebagai khalifah.
Dengan demikian, Muawiyah bin Abi
Sofyan telah berhasil meraih jabatan khalifah.
Muawiyah kemudian mulai meletakkan sendi-sendi pemerintahan Dinasti Bani
Umayyah. Setelah Muawiyah berkuasa, ia menjadikan jabatan khalifah sebagai
sesuatu yang dimiliki keturunannya. Muawiyah telah memulainya dengan
mewariskan jabatan khalifah penggantinya
dengan mengangkat anaknya sendiri, yakni Yazid bin Muawiyah.
Selain faktor diatas faktor lain ialah wajah
politik islam mengalami perubahan yang cukup besar dengan berdirinya
dinasti Umayyah. Sistem pemerintahan yang awalnya menggunakan sistem
kekhalifahan berubah menjadi sistem kerajaan. Ada beberapa faktor yang
mempengaruhi perubahan ini antara lain;
- Perubahan besar dalam masyarakat dengan munculnya generasi baru. Mereka adalah bukan generasi sahabat dan tidak hidup bersama sahabat sehingga sifat dan pola hidup mereka tidak sama dengan sahabat.
- Perubahan tabiat kehidupan materialistis. Masyarakat telah beralih dari kehidupan yang penuh dengan kezuhudan terutama pada awal-awal pemerintahan khulafaurrasyidin menjadi masyarakat yang bergelimangan kemewahan.
- Kekuasaan khulafaurrasyidin adalah kekuasaan yang telah berlalu dengan tepe khusus pada masanya. Tipe tersebut terkenal dengan sistem Syura (Musyawarah), padahal ketika itu semua kekuasaan didunia menggunakan sistem otoriter dan diktator.
Dengan melihat faktor-faktor diatas maka sistem
kekuasaan khulafaurrasyidin sudah sulit dipertahankan, karena masyarkat baru
dengan generasi dan pemikiran yang baru tidak dapat menyesuaikan diri dengan
sistem kekhalifahan, sehingga kekuasaan harus diganti dengan sistem yang lain.
Kecendrungan masyarakat baru ini lebih menghendaki
kekusaan dipegang oleh raja-raja yang masih memiliki hubungan keluarga seperti
halnya zaman jahiliyah sebelumnya. Muawiyah merupakan sosok yang tepat untuk
mewakili kepentingan, keinginan dan kecendrungan mereka.
Perpindahan sistem pemerntahan dari kekhalifahan
kepada sistem kerajaan juga tidak lepas dari siasat politik muawiyah.
Sebenarnya, ketika muawiyah berkuasa ada tiga kekuatan politik yang paling
menonjol. Yang terakhir adalah kelompok abdullah keponakan aisyah dan putra
zubair yang gagal memperoleh kursi kekhalifahan. Melihat hal ini tentunya
Muawiyah harus mengambil kebijakan politik untuk mengamankan posisinya dan
keturunan-keturunannya kelak.
Muawiyah kemudian ingin mengedepankan politik praktis
daripada politik-politik lainnya,dan menyusun sendiri prinsip-prinsip politik
tersebut. Muawiyah sudah memepersiapkan waktu untuk memenangkan kecendrungan
politiknya, ia menggunakan metode khusus untuk menjalankan siasat politiknya.
Metode ini berdasrkan kondisi dirinya dan kecendrungan daerah yang ia wakili
yaitu Syam.
Muawiyah meletakkan dasar khilafah sesuai dengan
keturunannya. Ia berkeyakinan bahawa metode ini adalah cara untuk menyelesaikan
permasalahan-permasalah yang mungkin terjadi dan tidak menginginkan kaum
muslimin berperang memperebutkan kekuasaan setelah ia meninggal. Dalam benak
Muawiyah terbetik niat untuk menentukan putra mahkota yang akan melanjutkan
kepemimpinannya. Setelah menimbang dan memikirkannya, akhirnya ia
mengangkat Yazid sebagai putra mahkota. Hal ini berdasrkan pertimbanagan
bahwa Yazid lahir ketika ia menjabat gubernur syam pada masa pemerintahan
usman. Jadi, ia lahir dan tumbuh dalam kekuasaan disyam. Ibunya serndiri adalah
penduduk asli syam sehingga ia dipandang mampu mewakili dan melanjutkan
kecendrungan politik masyarakat syam.
C. Gaya dan Corak Kepemimpinan Muawiyah
Peralihan
kekuasaan dari Hasan bin Ali r.a kepada Muawiyah bin Abi Sofyan menandahi
berdirinya Dinasti Bani Umayyah. Namun,
setelah Muawiyah berhasil meraih kedudukan
sebagai khalifah, dia kemudian melakukan berbagai kebijakan baru yang berbeda
dengan para khulafaur rosyidin.
Selain mengganti sistem demokratis yang terbuka menjadi kerajaan absolut
yang tertutup, Muawiyah juga menghilangkan kebiasaan-kebiasaan baik yang ada di
zaman khulafaur
rasyidin.
Para khulafaur
rasyidin dahulu selalu didampingi oleh para penasihat yang ahli dan lembaga
dewan yang berfungsi memberikan masukan dan pertimbangan. Kebiasaan ini dihilangkan, sehingga kebiasaan untuk melakukan
musyawarah yang menjadi inti dan semangat demokrasi tidak ada lagi. Apa
yang menjadi kehendak Muawiyah adalah agar semua
orang patuh dan tunduk.
Jika pada masa khulafaur rasyidin,
rakyat dapat menghadap langsung kepada khalifah. Mereka dapat menyampaikan
masalahnya kepada khalifah, tetapi pada masa Muawiyah berkuasa, kebiasaan ini
tidak ada lagi. Bahkan, Muawiyah telah menerapkan dan menggunakan sistem
pengamanan pribadi yang sangat ketat. Ada istilah hijabah, yang mirip pasukan
pengawal.
Setelah menjabat sebagai khalifah, Muawiyah ke mana-mana selalu diiringi
oleh para pengawalnya. Akibatnya, rakyat kini tidak dapat bertemu dengan
khalifah atau pemimpinnya
sendiri untuk menyampaikan masalahnya.
Dalam menjalankan pemerintahannya, Muawiyah juga tidak memelihara
semangat dan
prinsip yang sudah dirintis para pendahulunya. Baik Rasulullah saw. maupun
khulafaur rasyidin, yakni menjaga kesamaan
hak. Muawiyah yang berasal dari golongan dan suku Quraisy, Mekah ternyata lebih suka memberikan
hak-hak istimewa kepada sukunya. Muawiyah
memperlakukan suku-suku lainnya sebagai suku kelas dua. Suku-suku lain tesebut seperti Persia, Irak, Turki, dan
sebagainya. Tindakan Muawiyah ini ternyata juga ditiru oleh para penggantinya dari khalifah Dinasti Bani Umayyah.
Akibatnya, tindakan seperti itu lambat laun telah menimbulkan kecemburuan
dan muncullah kebencian dari kalangan non-Arab.
Hal lain yang
dilakukan Muawiyah yang bertentangan dengan apa yang telah dilakukan
Rasulullah saw. dan para sahabatnya adalah menjadikan baitulmal (kas negara) menjadi milik pribadinya. Padahal, baitulmal itu
didirikan untuk mengumpulkan dana untuk
menangani masalah keuangan rakyat
Begitulah gaya dan cara Muawiyah
mengelola dan menjalankan roda pemerintahan. Walaupun
tetap menggunakan istilah kekhalifahan atau pemimpin yang mewakili urusan umat, tetapi dia sebenarnya adalah seorang raja
atau kaisar. Muawiyah banyak melakukan hal-hal baru yang bertentangan
dengan para pendahulunya.
Setelah mewariskan
jabatan kekhalifahan kepada anaknya sendiri, Yazid bin Muawiyah bin Abi Sofyan, maka selanjutnya kursi
kekhalifahan pun menjadi milik keluarganya. Hanya
keluarga dari keturunan Dinasti Bani Umayyah yang berhak menjabat sebagai khalifah. Sejak didirikannya tahun 661-750
M, ada empat belas khalifah dari keturunan Dinasti Bani Umayyah yang
pernah menjabat sebagai khalifah.
Berikut nama-nama keturunan Dinasti Bani
Umayyah yang pernah menjabat menjadi khalifah setelah Muawiyah bin Abi Sofyan.[8]
1.
Muawiyah Bin Abu
Sofyan (41-60H/661-680
M)
2.
Yazid bin Muawiyah
(Yazid I) (60-64
H/680-683 M)
3.
Muawiyah bin Yazid
(Muawiyah 11) (64-65 H/683-684 M)
4.
Marwan bin Hakam
(Marwan 1) (65-66 H/684-685 M)
5.
Abdul Malik bin Marwan (66-86
H/685-705 M)
6.
Walid bin Abdul
Malik (al Walid 1) (86-97 H/705-715 M)
7.
Sulaiman bin Abdul
Malik (97-99
H/715-717 M)
8.
Umar bin Abdul Aziz (Umar II) (99-102
H/717-720 M)
9.
Yazid
bin Abdul Malik (Yazid II) (102-106 H/720-724 M)
10. Hisyam bin Abdul Malik (106-126
H/724-743 M)
11. Walid bin Yazid (al Walid II) (126-127
H/743-744 M)
12. Yazid bin Walid (Yazid III) (127-127
H/744-744 M)
13. Ibrahim bin Walid (127-127
H/744-744 M)
14. Marwan bin Muhammad (Marwan II) (127-133 H/744-750 M)
D. Ekspansi Muawiyah ke wilayah barat dan
timur
Setelah Muawiyah bin Abi Sofyan berhasil menguasai dan mengendalikan
politik dalam negeri, Muawiyah bin Abi Sofyan kemudian mengalihkan
perhatiannya kepada perluasan
wilayah.
1. Penaklukan Afrika Utara
Wilayah
Afrika Utara yang meliputi Tunisia, Maroko, Aljazair, dan lain-lain adalah wilayah yang sebagian besar berada di bawah
kekuasaan Romawi Timur. Suku bangsa Afrika Utara yang terdiri atas bangsa
Barbar adalah bangsa yang gemar berperang. Mereka menjadi andalan kekuatan
Romawi Timur untuk mengganggu wilayah kerajaan Islam di perbatasan, khususnya
Mesir.[9]
Untuk alasan keamanan, Muawiyah bin
Abi Sofyan kemudian memerintahkan gubernur Mesir, Amr bin Ash untuk melakukan ekspansi dan
penyerangan ke wilayah-wilayah yang menjadi kekuasaan Romawi Timur. Amr bin Ash mengutus seorang panglima
perang bernama Uqbah bin Nafi.
Dengan
pasukannya, panglima Uqbah bin Nafi melakukan penyerangan ke wilayah kekuasaan Romawi. Pada tahun 670 M Uqbah bin Nafi
dengan pasukannya berhasil menduduki
sebuah kota bernama Qairawan. Kota yang letaknya di sebelah selatan Tunisia ini
kemudian dijadikan pangkalan pasukan kekuatan Islam.
Di kota Qairawan kemudian dibangunlah benteng-benteng
pertahanan. Sedikit demi sedikit namun pasti, kekuatan Romawi yang berada di wilayah Afrika Utara terus terdesak
hingga akhirnya bertahan di sebuah kepulauan kecil yang bernama
Septah atau Ceuta.
Akan
tetapi, kekalahan yang dialami pasukan Romawi tidak membuatnya takut dan mundur. Selang beberapa bulan kemudian bangsa
Romawi mencoba menggunakan kekuatan
suku Barbar untuk melakukan penyerangan. Selanjutnya, panglima Uqbah bin Nafi melakukan serangan balasan. Akan tetapi,
usahanya belum selesai, dia telah digantikan oleh panglima baru yang
bernama Abdul Muhajir. Kini giliran panglima baru, Abdul Muhajir melancarkan
serangan balasan kepada suku Barbar yang gemar berperang. Hasilnya, suku Barbar
dapat dikalahkan. Bahkan banyak
dari mereka yang kemudian masuk Islam karena ajakan pasukan Islam.
Setelah itu, kekuatan pasukan Islam diarahkan untuk
merebut wilayah Konstantinopel (Angkara,
Turki) yang pada saat itu menjadi pusat kekuasaan kerajaan Romawi Timur
2. Penaklukan Kostantinopel
Untuk mencapai tujuannya menaklukkan
kota Konstantinopel, pusat kekuasaan Romawi Timur, Muawiyah bin Abi Sofyan mengerahkan seribu
tujuh ratus kapal. Kapal kapal perang juga dilengkapi persenjataan dan peralatan
tempur dan segala macarn logistik
Misi
penaklukan kota Konstantinopel tidak tanggung-tanggung dipimpin oleh putranya sendiri, yakni Yazid bin Muawiyah bin Abi
Sofyan. Pasukan Yazid kemudian menguasai pulau-pulau
yang ada di wilayah Laut Tengah yang menjadi kekuasaan Romawi Timur. Pasukan
Yazid berhasil menguasai Pulau Rhodesia. Pasukannya terus bergerak dan menguasai Kepulauan Kreta. Dari Pulau Kreta
pasukan yang dipimpin Yazid terus bergerak hingga menguasai Kepulauan Sicilia dan Pulau Arwad.
Kedua pulau itu lokasinya tidak jauh
dari pusat kekuasaan Romawi Timur, yakni kota Konstantinopel.[10]
Untuk menguasai ibu kota Konstantinopel, panglima pasukan
digantikan oleh Sofyan bin Auf. Akan tetapi, setiba di dekat kota Konstantinopel
pasukan yang dipimpin Sofyan bin Auf ternyata mendapatkan perlawanan yang hebat. Kurang
lebih tujuh tahun pasukan Islam terus mengepung dan melakukan penyerangan terhadap ibu kota Romawi Timur ini tetapi terus mengalami kegagalan.
Benteng-benteng pertahanan tentara Romawi cukup tangguh. Bahkan, saat
melancarkan serangan salah seorang tokoh terkenal dari pasukan Dinasti Bani Umayyah, Abu Ayyub terbunuh.
Meskipun usaha Muawiyah bin Abi Sofyan untuk menaklukkan
kota Konstantinopel belum berhasil, tetapi khalifah penerus dari
Dinasti Bani Umayyah terus melanjutkan
usaha ini. Penyerangan demi penyerangan ke kota tersebut kembali
dilancarkan.
Namun, ibu kota Romawi Timur akhirnya
baru dapat dikuasai oleh kekuatan Islam pada masa Dinasti Usmaniah pada tahun
1453. Saat itu dinasti Islam yang berkuasa adalah Dinasti Fatimiah, tepatnya di bawah pimpinan
Khalifah Muhammad al Fatih.
3. Perluasan ke Wilayah Timur
Selain
melancarkan ekspansi besar-besaran ke wilayah Afrika Utara dan Laut Tengah, Khalifah Muawiyah bin Abi Sofyan juga
mengerahkan kekuatan militernya ke arah timur, yakni ke
daratan Asia. Di bawah pimpinan panglima perang al Muhallab bin Shafarah, kekuatan
militer Muawiyah bin Abi Sofyan berhasil menaklukkan daerah Sindus. Daerah ini
terletak di sebuah kawasan yang membentang dari Kabul, Afghanistan hingga
wilayah Multan.[11]
Kekuatan militer Khalifah Muawiyah bin Abi Sofyan yang
tangguh dan kuat itu dengan mudah
menaklukkan wilayah-wilayah di Asia Timur tanpa mendapatkan perlawanan yang berarti.
Pada masa Khalifah Muawiyah bin Abi Sofyan, selain
melakukan penaklukan ke berbagai wilayah, para panglima perang juga aktif
berdakwah. Para panglima juga mengajak
dan mengajarkan agama Islam kepada orang-orang di daerah yang ditaklukkan.
Banyak juga penduduk dari wilayah penaklukan ini yang
kemudian masuk Islam. Dengan
demikian, usaha perluasan wilayah juga memberikan pengaruh yang besar bagi penyebaran
dan pengembangan agama Islam. Inilah yang kemudian membuat kesan buruk di
kalangan bangsa Barat. Orang-orang Barat menuduh bahwa agama Islam disebarkan dengan perang, bukan damai.
Anggapan dan tuduhan semacam itu tidak dapat dibenarkan.
Karena pada masa itu, kerajaan Kristen yang berada di Spanyol justru
melakukan hat yang lebih parah. Mereka yang tidak mau pindah agama, khususnya orang-orang
Yahudi akan dibunuh. Para panglima Islam mengajak bukan dengan pedang, tetapi dengan
mengajarkan apa itu Islam. Orang-orang non muslim diperbolehkan tinggal
di wilayah Islam dengan membayar
pajak keamanan saja. Pajak itu diiperuntukkan bukan untuk kepentingan orang muslim,
tetapi untuk diri mereka. Yakni sebagai biaya keamanan dan perlindungan jika mereka mendapatkan serangan dari bangsa
lain.
Khalifah Muawiyah bin Abi Sofyan dengan karier politiknya
yang panjang membuatnya piawai dan terampil mengendalikan pemerintahan.
Juga pengalamannya yang
kaya serta wawasan politiknya yang andal, membuatnya mudah menjalankan roda kekuasaan.
Dinasti
Bani Umayyah yang dirintisnya dalam waktu yang relatif singkat terbukti dapat meraih kernapanan politik dan stabilitas keamanan, baik dalam
negeri maupun luar negeri. Kekacauan politik yang timbul sejak kematian Khalifah
Usman tidak ada lagi. Setelah itu, dia dengan
giat melakukan ekspansi militer ke luar dengan memperoleh hasil yang
gemilang.
[1] Sulaiman Tasirun, Sejarah
Kebudayaan Islam.. (Depok; Arya Duta, 2006).3
[2] Ibid.... 3
[3] Ibid... 4
[4] Samsul Munir Amin, Sejarah
peradaban islam (Jakarta : Amzah, 2010). 106
[5] Tasirun Sulaiman, Sejarah
Kebudayaan Islam (Depok; Arya Duta,2006), 8
[6] Ibid.... 8
[7] Ibid ....9
[8] Imam As-Suyuthi, Taarikh Khulafa’,
cet. th. 1409H/1989M, 221- 295.
[9] Sulaiman Tasirun, Sejarah Kebudayaan Islam.
(Depok: Arya Duta, 2006). 29
[10] Ibid ... 30
[11] Ibid ... 30
Tidak ada komentar:
Posting Komentar