A. Biografi Abu Bakar ash-Shiddiq
1. Riwayat
Abu Bakar ash-Shiddiq
Nama
lengkapnya adalah 'Abdullah bin 'Utsman bin Amir bi Amru bin Ka'ab bin Sa'ad
bin Tayyim bin Murrah bin Ka'ab bin Lu'ay bin Ghalib bin Quraisy. Bertemu
nasabnya dengan nabi pada kakeknya Murrah bin Ka'ab bin Lu'ai, dan ibu dari abu
Bakar adalah Ummu al-Khair salma binti Shakhr bin Amir bin Ka'ab bin Sa'ad bin
Taim yang berarti ayah dan ibunya sama-sama dari kabilah Bani Taim.
Abu Bakar adalah ayah dari Aisyah, istri
Nabi Muhammad. Nama yang sebenarnya adalah Abdul Ka'bah (artinya
'hamba Ka'bah'), yang kemudian diubah oleh Muhammad menjadi Abdullah (artinya
'hamba Allah'). Muhammad memberinya gelar Ash-Shiddiq (artinya
'yang berkata benar') setelah Abu Bakar membenarkan peristiwa Isra Mi'raj yang
diceritakan oleh Muhammad kepada para pengikutnya, sehingga ia lebih dikenal
dengan nama "Abu Bakar ash-Shiddiq".[1]
Pada
masa jahiliyah, Abu Bakar dikenal sebagai seorang yang jujur, berakhlak mulia,
dan mahir dalam berdagang. Hal ini diketahui oleh semua manusia sehingga ia
sering didatangi oleh para pemuda Quraisy untuk diminta keterangan tentang ilmu
pengetahuan, strategi berdagang, dan sopan santun. Selain itu, Abu Bakar juga
termasuk salah satu dari ahli nasab Quraisy.[2]
Sejarah
mengenai masa kecil Abu Bakar dalam buku-buku biografinya tidak terlalu banyak
diceritakan secara rinci. Cerita saekitar masa anak-anak dan remajanya juga
tidak begitu banyak diceritakan. Semasa kecil, Abu Bakar hidup seperti umumnya
anak-anak di Makkah. Lepas masa anak-anak ke masa usia remaja, Abu Bakar
bekerja sebagai pedagang pakaian. Usahanya sangat sukses. Dalam usia muda ini,
ia menikah dengan Qutaibah binti Abdul Uzza. Dari perkawinan ini, lahir Abdullah
dan Asma’. Asma’ inilah yang kemudian dijuluki Zatun Nitaqain. Setelah dengan
Quitaibah, Abu Bakar menikah dengan Umm Rauman binti Amir bin Uwaimir. Dari
perkawinan ini, lahir Abdur Rahman dan Aisyah. Kemudian, di Madinah Abu Bakar
menikah dengan Habibah binti Kharijah. Setelah itu, ia menikah dengan Asma’
binti Umais, yang melahirkan Muhammad.[3]
2. Perawakan dan Peringai Abu Bakar ash-Shiddiq
Menurut
Muhammad Husain Haekal keberhasilan Abu Bakar dalam perdagangan itu mungkin
saja disebabkan oleh pribadi dan wataknya, menurut penuturan putrinya, Aisyah
Ummul Mu’minin ra, beliau berperawakan kurus, putih dengan sepasang bahu yang
kecil dan muka lancip dengan mata yang cekung disertai dahi yang agak menonjol
dan urat-urat tangan yang tampak jelas, Abu Bakar mempunyai peringai yang
sangat lemah lembut dan tenang sekali sikapnya. Ia tidak mudah terdorong oleh
hawa nafsu. Dibawa oleh sikapnya yang senantiasa tenang, pandangannya yg jernih
serta pikirannya yang tajam, banyak kepercayaan-kepercayaan dan adat istiadat
masyarakat yang tidak diikutinya. Aisyah ra menyebutkan bahwa ia tidak pernah
minum minuman keras, di zaman jahiliyah maupun islam, meskipun penduduk Makkah
pada umumnya sedah terbiasa minum khomer dan mabuk-mabukan. Abu Bakar adalah
laki-laki yang akrab di kalangan masyarakatnya, ia disukai karena ia serba
mudah. Ia dari keluarga Quraisy yang paling dekat dan paling banyak mengetahui
seluk-beluk kabilah tersebut, yang baik dan yang jahat. Ia seorang pedagang
dengan peringai yang cukup terkenal. Karena suatu masalah, pemuka-pemuka
masyarakatnya sering dating menemuinya, mungkin karena pengetahuannya, karena
perdagangannya atau mungkin juga karena cara bergaulnya yang enak.[4]
B. Peran Abu Bakar Ash-Shiddiq Pada Masa Nabi
1. Pembelaan Abu Bakar Ash-Shiddiq Terhadap
Nabi
Allah SWT. rupanya telah menjadikan Abu Bakar sebagai
sahabat dan tokoh di samping Muhammad SAW. yang berperan besar terhadap
penyebaran dan perkembangan Islam pada awal-awal kelahirannya. Dalam diri Abu
Bakar terdapat seluruh kualitasa sahabat sejati, berupa kesetian, kejujuran,
kecerdasan, kesabaran, dan kesetiakawanan yang tidak bias hilang dalam keadaan
apapun. Dalam dirinya pula, Nabi Muhammad SAW. merasa tenang menjalankan tugas
dan kewajibannya sebagai Nabi dan Rasul. Jika persahabatan adalah jodoh, maka
Abu Bakar adalah orang yang berjodoh dengan Nabi Muhammad SAW.[5]
Setelah
diangkat menjadi Rasul, Muhammad SAW. teringat pada Abu Bakar dan kecerdasan otaknya.
Lalu, diajaknya Abu Bakar menganut ajaran tauhid. Tanpa ragu, Abu Bakarpun
menerima ajakan ini. Sejak itu, terjadilah hubungan yang lebih akrab di antara
keduanya. Kemudian, keimanan Abu Bakar makin mendalam, dan kepercayaannya
kepada Nabi Muhammad SAW. dan risalah yang dibawa beliaupun bertambah kuat. Hal
ini sepertiyang dikatakan oleh Aisyah ra. “yang kuketahui, kedua orang tuaku
sudah memeluk agama ini. Dan, setiap kali lewat di depan rumah kami, Rasulullah
SAW. selalu singgah ke tempat kami, pagi atau sore hari”[6]
Abu Bakar sendiri pun tidak bebas dari
gangguan Quraisy, sama halnya dengan Muhammad sendiri yang juga tidak lepas
dari gangguan itu, dengan kedudukannya yang sudah demikian rupa di kalangan
kaumnya serta perlindungan Banu Hasyim kepadanya. Setiap Abu Bakar melihat
Muhammad diganggu oleh Quraisy ia selalu siap membelanya dan mepertaruhkan
nyawanya untuk melindungainya. Ibnu Hasyim menceritakan, bahwa perlakuan yang
paling jahat dilakukan Quraisy terhadap Rasulullah ialah setelah agama dan
dewa-dewa mereka dicela.
Menurut
Muhammad Husain Haekal, ketika kaum quraisy mengepung Rasulullah setelah
mendengar bahwa Rasulullah telah mencela sesembahan mereka, kaum quraisy pun
menuduh Muhammad telah mencelah Tuhan mereka dan Muhammad pun mengakuinya
kemudian salah seorang di antara mereka menarik baju Rasulullah dan kemudian
Abu Bakar sambil menangis menghalanginya seraya berkata “kamu mau membunuh
orang yang mengatakan hya Allah Tuhanku!” mereka (kaum Quraisy) kemudian bubar.
Itulah yang kita lihat perbuatan Quraisy yang luar biasa kepadanya.[7]
2. Kesabaran dan Kesetiaan Abu Bakar
Mendampingi Nabi SAW.
Selain
juru dakwah yang fasih dan lemah lembut, Abu Bakar juga menjadi teman, sahabat,
sekaligus pelindung setia Nabi Muhammad SAW. dari serangan dan gangguan
orang-orang Quraisy. Abu Bakar menjadi pelindung tidak hanya dengan harta
belaka, tetapi juga mempertaruhkan nyawa. Abu Bakar adalah yang mula-mula
membuat Nabi Muhammad SAW. terkesan dengan kesetiaan dan keberanian
mengorbankan nyawa di antara para sahabatlainnya. Sedangkan, yang bisa
melindungi Nabi Muhammad SAW. haruslah dari kalangan laki-laki dewasa. Karena
itulah, Abu Bakar adalah pelindung pertama Nabi Muhammad SAW.[8]
Ketika
masuk Islam, Abu Bakar adalah orang kaya. Hartanya tidak kurang dari 40.000
dirham, yang disimpannya dari hasil perdagangan. Dan, selama dalam Islam, ia
tetap melanjutkan perdagangan dan mendapat laba yang cukup besar. Tetapi,
sepuluh tahun kemudian setelah hijrah ke Madinah, hartanya tinggal 5.000
dirham. Sedangkan, semua harta yang ada padanya dan yang disimpannya habis
untuk kepentingan dakwah, mengajak orang lain ke jalan Allah SWT. dan demi
agama dan Rasul-Nya. Kekayannya digunakan untuk menebus orang-orang lemah dan
budak-budak yang masuk Islam, yang olehmajikannya disiksa dengan pelbagai cara
karena mereka masuk Islam[9]
3. Kesabaran dan Kesetiaan Abu Bakar Dalam
Mendampingi Hijrah Nabi
Tatkala
kaum muslimin mulai hijrah ke Madinah, Abu Bakar pergi menghadap Nabi Muhammad
SAW. "Wahai Rasulullah. izinkanlah aku turut berhijrah."
Rasulullah SAW kemudian berkata, "Tunggulah, semoga Allah memberi seorang
teman untukmu." Dia gembira jika kelak menjadi teman hijrah Nabi
SAW. Dia kemudian pergi membeli dua ekor unta dan menggembalakannya,
sambil menunggu tiba waktunya berhijrah. Hingga pada suatu hari Nabi
Muhammad SAW menemuinya dan berkata, "Wahai Abu Bakar, sesungguhnya Allah
telah mengizinkanku berhijrah." Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata,
"Bolehkah aku menemanimu wahai Rasulullah?" Rasulullah pun menjawab,
"Temanilah aku wahai Abu Bakar."
Sayyidah Aisyah mengatakan, "Dalam hidupku aku tidak
pernah melihat seorang pun yang menangis lantaran gembira, sebagaimana
menangisnya Abu Bakar. Padahal sungguh, itu merupakan perjalanan maut
yang bisa mengancam nyawa Abu Bakar. Meskipun demikian, ia malah menangis
bahagia karena akan menemani Nabi SAW dalam perjalanan tersebut."
Duhai, cinta macam apakah yang disimpan Abu Bakar untuk Nabi Muhammad SAW?!
Setelah
itu, Abu Bakar Ash-Shiddiq mengambil semua hartanya untuk bekal
perjalanan. Dia tinggalkan keluarganya tanpa bekal apapun. Ia
pasrahkan dengan ikhlas perlindungan keluarganya hanya kepada Allah SWT.
Sesungguhnya, kecintaan terhadap agamalah yang mendorong Abu Bakar untuk
menempuh jalan seperti ini.
Abu
Bakar kemudian berangkat bersama Nabi SAW dan sampailah keduanya di Gua
Tsur. Tatkala Nabi SAW ingin masuk ke dalam gua tersebut, Abu Bakar
berkata, "Jangan wahai Rasulullah, hingga aku merasa tenang bahwa di dalam
gua ini tidak ada sesuatu pun yang menyakitimu." Lalu Abu Bakar
masuk ke dalam gua tersebut dan memeriksa seluruh isi gua dengan seksama,
hingga dia yakin bahwa gua tersebut aman. Abu Bakar kemudian menyobek
sedikit bajunya dan menyumpal lobang yang ada di gua itu. Setelah itu
barulah Nabi SAW masuk. Nabi menanyakan perihal baju Abu Bakar yang
robek. "Aku khawatir bila engkau terkena sesuatu, wahai
Rasulullah," jawabnya. Kemudian Rasulullah SAW tidur dan meletakkan
kepala beliau di atas paha Abu Bakar Ash-Shiddiq.
Setelah
itu, Abu Bakar kembali melihat sebuah lubang lalu dia tutupi dengan kakinya
hingga tidak ada sesuatupun yang akan menyakiti Nabi SAW. Ternyata, di
dalam lobang tersebut terdapat kalajengking dan menyengat kaki Abu Bakar.
Tetapi, dia sama sekali tidak mengeluarkan desahan tanda kesakitan sedikit pun.
Dia menjaga agar Nabi SAW tidak terbangun. Sejurus, air matanya menetes
lantaran tidak kuat menahan rasa sakit yang luar biasa. Seketika itu pula
Nabi SAW terbangun dari tidurnya dan menanyakan keadaan Abu Bakar. Abu
Bakar lantas menjawab, "Bapak dan ibuku sebagai tebusannya, wahai
Rasulullah. Sesungguhnya aku disengat kalajengking." Nabi SAW
kemudian mengusapnya dan atas izin Allah rasa sakitnya tersebut sembuh.[10]
C. Peran Abu Bakar Ash-Shiddiq Pada Masa Sesudah
Nabi
1. Pengangkatan Abu Bakar Sebagai Khalifah
Proses
pengangkatan Abu Bakar menjadi Khalifah dilakukan didalam satu musyawarah atau
pertemuan di Sagifah Bani Saidah (sebuah Balairung di kota Madinah). Pertemuan
tersebut diadakan oleh orang-orang Anshar, dalam rangka memilih seorang
Khalifah sebagai pengganti Rasulullah SAW. hal itu mereka lakukan dikarenakan
saat itu orang-orang Anshar dan Muslimin lainnya berkeyakinan, bahwa Rasulullah
SAW tidak pernah menunjuk seseorang sebagai penggantinya.
Pada
awalnya kaum Anshar akan mengangkat seseorang dari mereka, yaitu Saad bin
Ubadah untuk menduduki jabatan Khalifah. Namun setelah beberapa tokoh Muhajirin
menyusul datang dan ikut bermusyawarah, maka diantara orang-orang Anshar ada
yang bersikap agak lunak dan menyarankan agar dari Anshar diangkat seorang Amir
dan dari Muhajirin diangkat seorang Amir. Tapi Alhamdulillah, setelah Abu Bakar
berpidato dan menerangkan keutamaan Muhajirin untuk menduduki jabatan Khalifah,
maka akhirnya orang-orang Anshar menyadari hal tersebut dan menerima
saran-saran dari Abu Bakar. Selanjutnya Abu Bakar mengakhiri pidatonya dengan
sarannya, agar hadirin mengangkat salah satu dari sesepuh Muhajirin yang hadir
di pertemuan tersebut, yaitu Umar atau Abu Ubaidah Ibnul Jarroh.
Mendengar
saran yang penuh dengan keikhlasan dari Abu Bakar tersebut, Umar langsung
menyahut : “Tidak, tidak mungkin saya diangkat sebagai pemimpin satu kaum
sedang dalam kaum itu ada engkau.” Yang dimaksud oleh Umar tersebut adalah
tidak ada orang yang lebih pantas untuk menduduki jabatan khalifah, melebihi
Abu Bakar. Memang keutamaan Abu Bakar bukan rahasia lagi bagi para sahabat. Demikian
diantara kata-kata Umar, selanjutnya seraya mengulurkan tangannya beliau
berkata kepada Abu Bakar : “Ulurkan tanganmu, untuk aku bai’at.”
Setelah
Umar membaiat Abu Bakar, hadirinpun segera berebut membaiat Abu Bakar sebagai
khalifah. Besoknya dimasjid Nabawi diadakan pembai’atan umum dan Alhamdulillah
berjalan dengan baik dan lancar, dan saat itu tidak ada satu orangpun yang
protes atau tidak menyetujui pembai’atan tersebut. Hal mana karena semua
sepakat, agar kekosongan pimpinan harus segera diisi. Bahkan pemakaman Nabi
terpaksa diundur, karena menunggu terpilihnya Khalifah.[11]
2. Awal-awal Abu Bakar Sebagai Khalifah
Menurut
Khalid Muhammad Khalid, ketika Abu Bakar telah terpilih sebagai khalifah beliau
merasa malu dan takut menuju ke mimbar Rasulullah, mimbar yang biasa digunakan
oleh Rasulullah untuk menyerukan agama kebenaran. Abu bakar setelah menaiki dua
tingkat beliaupun duduk, beliau tidak mau menaiki semua anak tangga dalam
mimbar tersebut karena beliau tidak mau duduk di mana biasanya Rasulullah
duduk. Dan setelah berada di atas mimbar, beliau menyeru kepada kaum muslimin
“wahai semua yang hadir, Aku ditunjuk untuk memimpin kalian padahal aku
bukanlah yang terbaik di antara kalian, jika aku berlaku baik, bantulah aku dan
jika aku berlaku buruk, luruskanlah aku. Ketahuilah! Orang lemah di
tengah-tengah kalian adalah orang kuat bagiku, hingga aku ambilkan haknya.
Ketahuilah! Orang kuat di tengah-tengah kalian adalah orang lemah bagiku,
hingga aku ambilkan hak orang lain darinya. Taatilah aku selama aku taat kepada
Allah dan Rasul-Nya dan jika aku durhaka, kalian tidak wajib taat padaku!”
Yang
membuat situasi ini lebih elegan adalah perilaku sipenyampai pidato tidak
melenceng sesaatpun dan sedikitpun dari apa yang ia sampaikan. Dengan kata-kata
yang agung ini, Abu Bakar meletakkan serangkaian tanggung jawab seorang
pemimpin terpercaya dalam lingkup tanggung jawab dan kejujuran, sekaligus
mengungkap esensi setiap kekuasaan yang baik.[12]
Dari
Atha’ bin Sa’ib, ia berkata, “Ketika Abu Bakar diangkat menjadi khalifah, esok
harinya ia berangkat ke pasar sambil memikul kain di pundaknya untuk berdagang.
Lantas ia berjumpa denan Umar bin Abu Ubaidah, keduanya bertanya, ‘Mau kemana
engkau wahai khalifah Rasulullah? ‘Ke pasar,’ jawab Abu Bakar. Keduanya
bertanya lagi,’ Apa yang engkau kerjakan, padahal engkau telah menjadi pemimpin
kaum muslimin? Abu Bakar menjawab ‘Dari mana aku dapat memberi makan
keluargaku? ‘Keduanya berkata lagi, ‘Pulanglah, nanti kami akan menetapkan
jatah untukmu.’[13]
Dari
hal itu dapat dimengerti, bawah ketika beliau diangkat menjadi khalifah,
sebagai pimpinan kaum muslimin, beliau tidak meminta gaji sedikitpun.
3. Penaklukan-penaklukan pada Masa Abu Bakar
Pada
awal tahun ke-13, Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq telah memparesiapkan empat angkatan
bersenjata. Masing-masing dipimpin oleh seorang panglima dan dikirimkan ke
wilayah-wilayah tertentu dari negeri Syam. Angkatan bersenjata ini ialah:
1.
Pasukan Abu
Ubaidah bin Al-Jarrah untuk menaklukkan Homs
2.
Pasukan Yazid
bin Abu Sufyan untuk menaklukkan Damaskus
3.
Pasukan
Syurahbil bin Hasanah untuk menaklukan lembah Yordania
4.
Pasukan Amru bin
Ash untuk menaklukan Palestina
Abu Bakar juga mempersiapkan pasukan
Khalid bin Sa’id sebagai pasukan cadangan
Seluruh
pasukan berangkat untuk menghadapi pasukan Romawi di tanah Syam. Sementara itu,
pasukan Romawi menyusun satu strategi berupa diversifikasi tentara ke dalam
empat divisi besar untuk menghadapi empat divisi pasukan muslimin. Tentu saja
hal ini menghambat pergerakan pasukan Islam, karena jumlah pasukan Romawi lebih
besar hingga mencapa 240.000 prajurit, sementara pasukan muslimin hanya 27.000
pejuang
Berbagai
pertempuran berlangsung antara kaum muslimin dan romawi di berbagai front, di
antaranya yang paling terkenal adalah Perang Yarmuk yang terjadi pada bulan
Jumadal Akhirah tahun ke-13 H.
Akhirnya
Allah menetapkan kemenangan bagi kaum muslimin dnegna bergugurannya prajurit
Romawi di tanah peperangan. Gugurnya beberapa tentara yang dibelenggu dengan
rantai sudah cukup untuk menjatuhkan seluruh pasukan dan situasi berakhir
dengan kekalahan telak bagi pasukan Romawi dan kemenangan bagi kaum muslimin di
bawah pimpinan Khalid bin Walid. Lebih dari 100.000 prajurit Romawi tewas, sementara
pihak muslimin hanya 3000 prajurit yang gugur.[14]
4. Penghimpunan Al-Quran Al-Karim
Sejarah
penulisan dan penghimpunan Al Qur’an dapat dibagi secara metodelogi sejarah
menjadi tiga periode. Yaitu pereode pertama pada masa Nabi SAW. pereode kedua
pada masa Abu Bakar Ash-Shiddiq dan pereode ketiga pada masa Utsman bin Affan, Periode kedua terjadi pada masa kekhalifahan
Abu Bakar, yaitu tahun ke-12 H. Yang melatar belakangi prakarsa pada peiode
kedua ini adalah terbunuhnya sejumlah qurra’ dalam peperangan Yamamah. Di
antara mereka terdapat nama Slaim Maula Abi Hudzaifah, salah seorang yang
dinyatakan Nabi boleh diambil ilmu-ilmu Al Qur’annya.
Abu Bakar memerintahkan untuk
mengumpulkan Al Qur’an. Dalam shahih Bukhari diriwayatkan bahwa setelah perang
Yamamah, Umar bin Khaththab pernah mengisyaratkan kepada Abu Bakar agar
melakukan penghimpunan Al Qur’an. Abu Bakar sementara waktu belum melakukannya,
namun Umar terus mendesaknya berulang kali, hingga Allah Subhanahu wa
Ta’ala melapangkan dada Abu Bakar. Beliaupun memanggil Zaid bin
Tsabit, kedia Zaid datang di tempat itu hadir pula Umar, Abu Bakar mengatakan
kepadanya: “Sesungguhnya engkau adalah pemuda yang cerdik, kami tidak pernah
menuduhmu sesuatupun, dan engkau dahulu penulis wahyu Rasulullah, maka periksalah
Al Qur’an yang ada sekarang ini, dan himpunkanlah.”. Zaid menceritakan dirinya:
“Kemudian saya memeriksa Al Qur’an, dang mengumpulkannya dari pelepah-pelepah
kurma, pecahan-pecahan tulang, dan hafalan-hafalan orang lain.”. Setelah
terkumpul, Al Qur’an tersebut dipegang Abu Bakar sampai beliau wafat. Kemudian
dipegang oleh Umar bin Khaththab, dan dilanjutkan oleh Hafshah binti Umar.
Hadits yang panjang ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari.
Kaum
muslimin sepakat atas hasil usaha Abu Bakar ini, dan menggolongkannya termasuk
amal kebajikan beliau. Ali bin Abi Tholib mengatakan: “Orang yang terbanyak
kebajikannya terhadap mushaf adalah Abu Bakar, beliaulah yang pertama
menghimpun Kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala“.[15]
Seorang
orientalis Inggris (William Muir) berkata “Sebenarnya di duni ini tidak ada
satu pun kitab selain Al-Qur’an yang selama duabelas abad lengkap dengan
teksnya yang mencapai tingkat kejernihan dan meruketelitian.”[16]
D. Keutamaan-keutamaan Abu Bakar Ash-Shiddiq
1. Salah
Satu Dari 10 Sahabat Yang Dijamin Masuk Surga
Menurut Shalahuddin Mahmud As-Sa’id, Abu
Bakar merupakan sahabat yang pertama kali masuk Islam dari kalangan laki-laki,
belia selalu mantap dan tidak pernah ragu-ragu untuk menerima dan merespon
seruan Rasulullah SAW. Dengan perantara beliau jugalah sekolompok orang masuk
Islam ketika ia ajak seru untuk masuk Islam, karena kecintaan mereka kepadanya.
Di antara orang yang masuk Islam di tangannya ada lima orang yang dijamin masuk
surga, yaitu: Utsman bin Afwan, Sa’ad bin Abi Waqash, Zubair bin Awwam,
Abdurrahman bin Auf, dan Thalhah bin Ubaidillah.
Abu
Bakar adalah manusia yang paling sering menyertai Nabi SAW. Ia memiliki
pengorbanan yang besar dalam rangka ikut menyebarkan dakwah Islamiyah. Abu
Bakar telah mengorbankan jiwa, harta, waktu dan semua yang dimilikinya. Ia
merupakan penolong Rasulullah SAW. dan menjadi khalifah setelahnya. Ia
menyaksikan semua peristiwa bersama Rasulullah. Dan ia adalah juga termasuk
salah satu di antara 10 sahabat yang dijamin masuk surga[17]
2. Mendapat Salam Dari Allah Melalui Jibril AS
Dalam
hadist Ibnu Umar, Nabi Muhammad S.A.W. sedang duduk-duduk dan ada Abu Bakar di
sampingnya. Abu Bakar mengenakan sebuah pakaian yang dia ikatkan dengan dua
buah batang kayu. Jibril A.S. turun dari langit dan menyampaikan salam dari
Allah kepada Nabi Muhammad S.A.W., kemudian dia bertanya “Ya Rasulullah S.A.W.,
kenapa aku melihat Abu Bakar mengenakan sebuah pakaian yang diikatkan dengan
dua buah batang kayu?” Nabi Muhammad
S.A.W. memberitahu Jibril “Ya Jibril, semua yang dimiliki orang ini telah
dibelanjakan untukku dan Islam sehingga sekarang dia tak punya apa-apa, dan
itulah mengapa kau melihatnya dalam kondisi seperti ini. ”Jibril A.S. berkata
“Ya Muhammad S.A.W., sampaikanlah salam dari Allah kepada orang ini, dan sampaikan
padanya bahwa Tuhanmu berfirman: ‘Wahai Abu Bakar, katakanlah, apakah kau
merasa senang kepada Tuhanmu dalam kemiskinan ini, atau apakah kau tidak senang
dan kecewa kepada Tuhanmu?’
Nabi
S.A.W. menyampaikan pesan dan salam dari Allah kepada Abu Bakar R.A. Kemudian
dia bertanya kepadanya “Wahai Abu Bakar, apakah kau merasa senang kepada Allah
dengan kemiskinan ini, atau apakah kau tidak senang kepada Allah?” Air mata Abu
Bakar mulai mengalir dan dia menjawab “Ya Rasulullah, apakah Abu Bakar marah kepada
Tuhannya? Karena Abu Bakar tidak pernah marah kepada Tuhannya. Abu Bakar merasa
senang dengan Allah, Abu Bakar merasa senang dengan Allah, Abu Bakar merasa
senang dengan Allah dalam kemiskinan ini.”[18]
3. Manusia Terbaik Setelah Nabi
Muhammad SAW.
Tidak
dipungkiri bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah maunsia terbaik setelah
Rasulullah di kalangan umat beliau, ada beberapa hadits yang menerangkan hal
itu, di antaranya diriwayatkan dari Ibnu Umar ra.
عَنْ
ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ كُنَّا نُخَيِّرُ بَيْنَ النَّاسِ
فِي زَمَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنُخَيِّرُ أَبَا
بَكْرٍ ثُمَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ ثُمَّ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ رَضِيَ
اللَّهُ عَنْهُمْ[19]
Dari Ibnu Umar ra. Ia berkata “Kami
pernah memilih orang terbaik di masa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Kami pun
memilih Abu Bakar, setelah itu Umar bin Khattab, lalu ‘Utsman bin Affan
Radhiallahu’anhu” (HR. Bukhari)
Dari
hadits di atas jelas menunjukkan bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah orang
terbaik di masa Nabi SAW. setelah beliau
4. Orang Laki-laki Yang Paling Dicintai Oleh
Rasulullah Dan Orang Yang Besar Jasa-jasanya Terhadap Islam
Abu
Bakar Ash-Shiddiq merupakan orang yang paling dicintai oleh Rasulullah setelah
Aisyah Ummul Mu’minin ra. Berkanaan dengan hal ini Amr bin Ash pernah bertanya
kepada Rasulullah SAW.
أَيُّ
النَّاسِ أَحَبُّ إِلَيْكَ قَالَ عَائِشَةُ قُلْتُ مِنْ الرِّجَالِ قَالَ أَبُوهَا
قُلْتُ ثُمَّ مَنْ قَالَ عُمَرُ فَعَدَّ رِجَالًا[20]
““Siapa orang yang kau cintai?. Rasulullah
menjawab: ‘Aisyah’. Aku bertanya lagi: ‘Kalau laki-laki?’. Beliau menjawab:
‘Ayahnya Aisyah’ (yaitu Abu Bakar)” (HR. Muslim)
5. Orang Yang Besar Jasa-jasanya Terhadap Islam
Abu
Bakar Ash-Shiddiq merupakan salah satu dari sahabat-sahabat Rasulullah yang
begitu besar jasanya terhadap islam, di antaranya yaitu:
·
Jasanya yang
paling besar adalah masuknya ia ke dalam Islam paling pertama.
·
Hijrahnya beliau
bersama Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam
·
Ketegaran beliau
ketika hari wafatnya Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam
·
Sebelum terjadi
hijrah, beliau telah membebaskan 70 orang yang disiksa orang kafir karena
alasan bertauhid kepada Allah. Di antara mereka adalah Bilal bin Rabbaah, ‘Amir
bin Fahirah, Zunairah, Al Hindiyyah dan anaknya, budaknya Bani Mu’ammal, Ummu
‘Ubais
·
Salah satu jasanya
yang terbesar ialah ketika menjadi khalifah beliau memerangi orang-orang murtad
·
Musailamah Al
Kadzab dibunuh di masa pemerintahan beliau
·
memerintahkan
Zaid bin Tsabit untuk mengumpulkannya.[21]
[1]
http://id.wikipedia.org/wiki/Abu_Bakar_Ash-Shiddiq
[2]
Syarif Hidayatullah, Ilham Kesabaran Abu Bakar ash-Shiddiq (Jogjakarta:
DIVA Press, 2014), 17
[3]
Ibid., 22
[4]
Muhammad Husain Haekal, Abu Bakr As-Siddiq Sebuah Biografi (Bogor: PT.
Pustaka Litera AntarNusa, 2013) 4
[5]
Syarif Hidayatullah, Ilham Kesabaran Abu Bakar ash-Shiddiq (Jogjakarta:
DIVA Press, 2014), 25
[6]
Ibid., 27
[7]
Muhammad Husain Haekal, Abu Bakr As-Siddiq Sebuah Biografi (Bogor: PT.
Pustaka Litera AntarNusa, 2013) 9
[8]
Syarif Hidayatullah, Ilham Kesabaran Abu Bakar ash-Shiddiq (Jogjakarta:
DIVA Press, 2014), 46
[9]
Ibid., 47
[10]
http://kisahkisahislami.blogspot.com/2013/04/abu-bakar-ash-shiddiq-hijrah-ke-madinah.html
[11]
http://www.albayyinat.net/bakrt.html
[12]
Khalid Muhammad Khalid, Biografi Khalifah Rasulullah (Jakarta: Ummul Qura,
2013), 88
[13]
Shalahuddin Mahmud As-Sa’id, 10 Sahabat Yang Dijamin Surga (Solo:
Al-Qowam, 2012), 46
[14]
Shalahuddin Mahmud As-Sa’id, 10 Sahabat Yang Dijamin Surga (Solo:
Al-Qowam, 2012), 63
[15]
http://ahlulhadist.wordpress.com/2007/10/16/penulisan-dan-penghimpunan-al-quran/
[16]
Shalahuddin Mahmud As-Sa’id, 10 Sahabat Yang Dijamin Surga (Solo:
Al-Qowam, 2012), 68
[17]
Shalahuddin Mahmud As-Sa’id, 10 Sahabat Yang Dijamin Surga (Solo:
Al-Qowam, 2012), 40
[18] http://lampuislam.blogspot.com/2013/08/besarnya-cinta-abu-bakar-ash-shiddiq-ra.html
[19]
Al Bukhori Shohih Bukhari (Al-Maktabah
Al-Syamilah) 489
[20]
Muslim Shohih Muslim (Al-Maktabah
Al-Syamilah) 102
[21]
Syaikh ‘Abdurrahman bin ‘Abdillah As Suhaim, http://muslim.or.id/biografi/biografi-abu-bakar-ash-shiddiq.html