Jumat, 25 September 2015

KHALIFAH ABU BAKAR ASH-SHIDDIQ


A.   Biografi Abu Bakar ash-Shiddiq
1.    Riwayat Abu Bakar ash-Shiddiq
          Nama lengkapnya adalah 'Abdullah bin 'Utsman bin Amir bi Amru bin Ka'ab bin Sa'ad bin Tayyim bin Murrah bin Ka'ab bin Lu'ay bin Ghalib bin Quraisy. Bertemu nasabnya dengan nabi pada kakeknya Murrah bin Ka'ab bin Lu'ai, dan ibu dari abu Bakar adalah Ummu al-Khair salma binti Shakhr bin Amir bin Ka'ab bin Sa'ad bin Taim yang berarti ayah dan ibunya sama-sama dari kabilah Bani Taim.
Abu Bakar adalah ayah dari Aisyah, istri Nabi Muhammad. Nama yang sebenarnya adalah Abdul Ka'bah (artinya 'hamba Ka'bah'), yang kemudian diubah oleh Muhammad menjadi Abdullah (artinya 'hamba Allah'). Muhammad memberinya gelar Ash-Shiddiq (artinya 'yang berkata benar') setelah Abu Bakar membenarkan peristiwa Isra Mi'raj yang diceritakan oleh Muhammad kepada para pengikutnya, sehingga ia lebih dikenal dengan nama "Abu Bakar ash-Shiddiq".[1]
          Pada masa jahiliyah, Abu Bakar dikenal sebagai seorang yang jujur, berakhlak mulia, dan mahir dalam berdagang. Hal ini diketahui oleh semua manusia sehingga ia sering didatangi oleh para pemuda Quraisy untuk diminta keterangan tentang ilmu pengetahuan, strategi berdagang, dan sopan santun. Selain itu, Abu Bakar juga termasuk salah satu dari ahli nasab Quraisy.[2]
          Sejarah mengenai masa kecil Abu Bakar dalam buku-buku biografinya tidak terlalu banyak diceritakan secara rinci. Cerita saekitar masa anak-anak dan remajanya juga tidak begitu banyak diceritakan. Semasa kecil, Abu Bakar hidup seperti umumnya anak-anak di Makkah. Lepas masa anak-anak ke masa usia remaja, Abu Bakar bekerja sebagai pedagang pakaian. Usahanya sangat sukses. Dalam usia muda ini, ia menikah dengan Qutaibah binti Abdul Uzza. Dari perkawinan ini, lahir Abdullah dan Asma’. Asma’ inilah yang kemudian dijuluki Zatun Nitaqain. Setelah dengan Quitaibah, Abu Bakar menikah dengan Umm Rauman binti Amir bin Uwaimir. Dari perkawinan ini, lahir Abdur Rahman dan Aisyah. Kemudian, di Madinah Abu Bakar menikah dengan Habibah binti Kharijah. Setelah itu, ia menikah dengan Asma’ binti Umais, yang melahirkan Muhammad.[3]
2.    Perawakan dan Peringai Abu Bakar ash-Shiddiq
          Menurut Muhammad Husain Haekal keberhasilan Abu Bakar dalam perdagangan itu mungkin saja disebabkan oleh pribadi dan wataknya, menurut penuturan putrinya, Aisyah Ummul Mu’minin ra, beliau berperawakan kurus, putih dengan sepasang bahu yang kecil dan muka lancip dengan mata yang cekung disertai dahi yang agak menonjol dan urat-urat tangan yang tampak jelas, Abu Bakar mempunyai peringai yang sangat lemah lembut dan tenang sekali sikapnya. Ia tidak mudah terdorong oleh hawa nafsu. Dibawa oleh sikapnya yang senantiasa tenang, pandangannya yg jernih serta pikirannya yang tajam, banyak kepercayaan-kepercayaan dan adat istiadat masyarakat yang tidak diikutinya. Aisyah ra menyebutkan bahwa ia tidak pernah minum minuman keras, di zaman jahiliyah maupun islam, meskipun penduduk Makkah pada umumnya sedah terbiasa minum khomer dan mabuk-mabukan. Abu Bakar adalah laki-laki yang akrab di kalangan masyarakatnya, ia disukai karena ia serba mudah. Ia dari keluarga Quraisy yang paling dekat dan paling banyak mengetahui seluk-beluk kabilah tersebut, yang baik dan yang jahat. Ia seorang pedagang dengan peringai yang cukup terkenal. Karena suatu masalah, pemuka-pemuka masyarakatnya sering dating menemuinya, mungkin karena pengetahuannya, karena perdagangannya atau mungkin juga karena cara bergaulnya yang enak.[4]

B.   Peran Abu Bakar Ash-Shiddiq Pada Masa Nabi
1.    Pembelaan Abu Bakar Ash-Shiddiq Terhadap Nabi
          Allah SWT. rupanya telah menjadikan Abu Bakar sebagai sahabat dan tokoh di samping Muhammad SAW. yang berperan besar terhadap penyebaran dan perkembangan Islam pada awal-awal kelahirannya. Dalam diri Abu Bakar terdapat seluruh kualitasa sahabat sejati, berupa kesetian, kejujuran, kecerdasan, kesabaran, dan kesetiakawanan yang tidak bias hilang dalam keadaan apapun. Dalam dirinya pula, Nabi Muhammad SAW. merasa tenang menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai Nabi dan Rasul. Jika persahabatan adalah jodoh, maka Abu Bakar adalah orang yang berjodoh dengan Nabi Muhammad SAW.[5]
          Setelah diangkat menjadi Rasul, Muhammad SAW. teringat pada Abu Bakar dan kecerdasan otaknya. Lalu, diajaknya Abu Bakar menganut ajaran tauhid. Tanpa ragu, Abu Bakarpun menerima ajakan ini. Sejak itu, terjadilah hubungan yang lebih akrab di antara keduanya. Kemudian, keimanan Abu Bakar makin mendalam, dan kepercayaannya kepada Nabi Muhammad SAW. dan risalah yang dibawa beliaupun bertambah kuat. Hal ini sepertiyang dikatakan oleh Aisyah ra. “yang kuketahui, kedua orang tuaku sudah memeluk agama ini. Dan, setiap kali lewat di depan rumah kami, Rasulullah SAW. selalu singgah ke tempat kami, pagi atau sore hari”[6]
           Abu Bakar sendiri pun tidak bebas dari gangguan Quraisy, sama halnya dengan Muhammad sendiri yang juga tidak lepas dari gangguan itu, dengan kedudukannya yang sudah demikian rupa di kalangan kaumnya serta perlindungan Banu Hasyim kepadanya. Setiap Abu Bakar melihat Muhammad diganggu oleh Quraisy ia selalu siap membelanya dan mepertaruhkan nyawanya untuk melindungainya. Ibnu Hasyim menceritakan, bahwa perlakuan yang paling jahat dilakukan Quraisy terhadap Rasulullah ialah setelah agama dan dewa-dewa mereka dicela.
          Menurut Muhammad Husain Haekal, ketika kaum quraisy mengepung Rasulullah setelah mendengar bahwa Rasulullah telah mencela sesembahan mereka, kaum quraisy pun menuduh Muhammad telah mencelah Tuhan mereka dan Muhammad pun mengakuinya kemudian salah seorang di antara mereka menarik baju Rasulullah dan kemudian Abu Bakar sambil menangis menghalanginya seraya berkata “kamu mau membunuh orang yang mengatakan hya Allah Tuhanku!” mereka (kaum Quraisy) kemudian bubar. Itulah yang kita lihat perbuatan Quraisy yang luar biasa kepadanya.[7]
2.    Kesabaran dan Kesetiaan Abu Bakar Mendampingi Nabi SAW.
          Selain juru dakwah yang fasih dan lemah lembut, Abu Bakar juga menjadi teman, sahabat, sekaligus pelindung setia Nabi Muhammad SAW. dari serangan dan gangguan orang-orang Quraisy. Abu Bakar menjadi pelindung tidak hanya dengan harta belaka, tetapi juga mempertaruhkan nyawa. Abu Bakar adalah yang mula-mula membuat Nabi Muhammad SAW. terkesan dengan kesetiaan dan keberanian mengorbankan nyawa di antara para sahabatlainnya. Sedangkan, yang bisa melindungi Nabi Muhammad SAW. haruslah dari kalangan laki-laki dewasa. Karena itulah, Abu Bakar adalah pelindung pertama Nabi Muhammad SAW.[8]
          Ketika masuk Islam, Abu Bakar adalah orang kaya. Hartanya tidak kurang dari 40.000 dirham, yang disimpannya dari hasil perdagangan. Dan, selama dalam Islam, ia tetap melanjutkan perdagangan dan mendapat laba yang cukup besar. Tetapi, sepuluh tahun kemudian setelah hijrah ke Madinah, hartanya tinggal 5.000 dirham. Sedangkan, semua harta yang ada padanya dan yang disimpannya habis untuk kepentingan dakwah, mengajak orang lain ke jalan Allah SWT. dan demi agama dan Rasul-Nya. Kekayannya digunakan untuk menebus orang-orang lemah dan budak-budak yang masuk Islam, yang olehmajikannya disiksa dengan pelbagai cara karena mereka masuk Islam[9]
3.    Kesabaran dan Kesetiaan Abu Bakar Dalam Mendampingi Hijrah Nabi
          Tatkala kaum muslimin mulai hijrah ke Madinah, Abu Bakar pergi menghadap Nabi Muhammad SAW.  "Wahai Rasulullah. izinkanlah aku turut berhijrah."   Rasulullah SAW kemudian berkata, "Tunggulah, semoga Allah memberi seorang teman untukmu."  Dia gembira jika kelak menjadi teman hijrah Nabi SAW.  Dia kemudian pergi membeli dua ekor unta dan menggembalakannya, sambil menunggu tiba waktunya berhijrah.  Hingga pada suatu hari Nabi Muhammad SAW menemuinya dan berkata, "Wahai Abu Bakar, sesungguhnya Allah telah mengizinkanku berhijrah."  Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata, "Bolehkah aku menemanimu wahai Rasulullah?" Rasulullah pun menjawab, "Temanilah aku wahai Abu Bakar."
          Sayyidah Aisyah mengatakan, "Dalam hidupku aku tidak pernah melihat seorang pun yang menangis lantaran gembira, sebagaimana menangisnya Abu Bakar.  Padahal sungguh, itu merupakan perjalanan maut yang bisa mengancam nyawa Abu Bakar.  Meskipun demikian, ia malah menangis bahagia karena akan menemani Nabi SAW dalam perjalanan tersebut."  Duhai, cinta macam apakah yang disimpan Abu Bakar untuk Nabi Muhammad SAW?!
          Setelah itu, Abu Bakar Ash-Shiddiq mengambil semua hartanya untuk bekal perjalanan.  Dia tinggalkan keluarganya tanpa bekal apapun.  Ia pasrahkan dengan ikhlas perlindungan keluarganya hanya kepada Allah SWT.  Sesungguhnya, kecintaan terhadap agamalah yang mendorong Abu Bakar untuk menempuh jalan seperti ini.
          Abu Bakar kemudian berangkat bersama Nabi SAW dan sampailah keduanya di Gua Tsur.  Tatkala Nabi SAW ingin masuk ke dalam gua tersebut, Abu Bakar berkata, "Jangan wahai Rasulullah, hingga aku merasa tenang bahwa di dalam gua ini tidak ada sesuatu pun yang menyakitimu."  Lalu Abu Bakar masuk ke dalam gua tersebut dan memeriksa seluruh isi gua dengan seksama, hingga dia yakin bahwa gua tersebut aman.  Abu Bakar kemudian menyobek sedikit bajunya dan menyumpal lobang yang ada di gua itu.  Setelah itu barulah Nabi SAW masuk.  Nabi menanyakan perihal baju Abu Bakar yang robek.  "Aku khawatir bila engkau terkena sesuatu, wahai Rasulullah," jawabnya.  Kemudian Rasulullah SAW tidur dan meletakkan kepala beliau di atas paha Abu Bakar Ash-Shiddiq.
          Setelah itu, Abu Bakar kembali melihat sebuah lubang lalu dia tutupi dengan kakinya hingga tidak ada sesuatupun yang akan menyakiti Nabi SAW.  Ternyata, di dalam lobang tersebut terdapat kalajengking dan menyengat kaki Abu Bakar.  Tetapi, dia sama sekali tidak mengeluarkan desahan tanda kesakitan sedikit pun.  Dia menjaga agar Nabi SAW tidak terbangun.  Sejurus, air matanya menetes lantaran tidak kuat menahan rasa sakit yang luar biasa.  Seketika itu pula Nabi SAW terbangun dari tidurnya dan menanyakan keadaan Abu Bakar.  Abu Bakar lantas menjawab, "Bapak dan ibuku sebagai tebusannya, wahai Rasulullah.  Sesungguhnya aku disengat kalajengking."  Nabi SAW kemudian mengusapnya dan atas izin Allah rasa sakitnya tersebut sembuh.[10]

C.   Peran Abu Bakar Ash-Shiddiq Pada Masa Sesudah Nabi
1.    Pengangkatan Abu Bakar Sebagai Khalifah
          Proses pengangkatan Abu Bakar menjadi Khalifah dilakukan didalam satu musyawarah atau pertemuan di Sagifah Bani Saidah (sebuah Balairung di kota Madinah). Pertemuan tersebut diadakan oleh orang-orang Anshar, dalam rangka memilih seorang Khalifah sebagai pengganti Rasulullah SAW. hal itu mereka lakukan dikarenakan saat itu orang-orang Anshar dan Muslimin lainnya berkeyakinan, bahwa Rasulullah SAW tidak pernah menunjuk seseorang sebagai penggantinya.
          Pada awalnya kaum Anshar akan mengangkat seseorang dari mereka, yaitu Saad bin Ubadah untuk menduduki jabatan Khalifah. Namun setelah beberapa tokoh Muhajirin menyusul datang dan ikut bermusyawarah, maka diantara orang-orang Anshar ada yang bersikap agak lunak dan menyarankan agar dari Anshar diangkat seorang Amir dan dari Muhajirin diangkat seorang Amir. Tapi Alhamdulillah, setelah Abu Bakar berpidato dan menerangkan keutamaan Muhajirin untuk menduduki jabatan Khalifah, maka akhirnya orang-orang Anshar menyadari hal tersebut dan menerima saran-saran dari Abu Bakar. Selanjutnya Abu Bakar mengakhiri pidatonya dengan sarannya, agar hadirin mengangkat salah satu dari sesepuh Muhajirin yang hadir di pertemuan tersebut, yaitu Umar atau Abu Ubaidah Ibnul Jarroh.
          Mendengar saran yang penuh dengan keikhlasan dari Abu Bakar tersebut, Umar langsung menyahut : “Tidak, tidak mungkin saya diangkat sebagai pemimpin satu kaum sedang dalam kaum itu ada engkau.” Yang dimaksud oleh Umar tersebut adalah tidak ada orang yang lebih pantas untuk menduduki jabatan khalifah, melebihi Abu Bakar. Memang keutamaan Abu Bakar bukan rahasia lagi bagi para sahabat. Demikian diantara kata-kata Umar, selanjutnya seraya mengulurkan tangannya beliau berkata kepada Abu Bakar : “Ulurkan tanganmu, untuk aku bai’at.”
          Setelah Umar membaiat Abu Bakar, hadirinpun segera berebut membaiat Abu Bakar sebagai khalifah. Besoknya dimasjid Nabawi diadakan pembai’atan umum dan Alhamdulillah berjalan dengan baik dan lancar, dan saat itu tidak ada satu orangpun yang protes atau tidak menyetujui pembai’atan tersebut. Hal mana karena semua sepakat, agar kekosongan pimpinan harus segera diisi. Bahkan pemakaman Nabi terpaksa diundur, karena menunggu terpilihnya Khalifah.[11]
2.    Awal-awal Abu Bakar Sebagai Khalifah
          Menurut Khalid Muhammad Khalid, ketika Abu Bakar telah terpilih sebagai khalifah beliau merasa malu dan takut menuju ke mimbar Rasulullah, mimbar yang biasa digunakan oleh Rasulullah untuk menyerukan agama kebenaran. Abu bakar setelah menaiki dua tingkat beliaupun duduk, beliau tidak mau menaiki semua anak tangga dalam mimbar tersebut karena beliau tidak mau duduk di mana biasanya Rasulullah duduk. Dan setelah berada di atas mimbar, beliau menyeru kepada kaum muslimin “wahai semua yang hadir, Aku ditunjuk untuk memimpin kalian padahal aku bukanlah yang terbaik di antara kalian, jika aku berlaku baik, bantulah aku dan jika aku berlaku buruk, luruskanlah aku. Ketahuilah! Orang lemah di tengah-tengah kalian adalah orang kuat bagiku, hingga aku ambilkan haknya. Ketahuilah! Orang kuat di tengah-tengah kalian adalah orang lemah bagiku, hingga aku ambilkan hak orang lain darinya. Taatilah aku selama aku taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan jika aku durhaka, kalian tidak wajib taat padaku!”
          Yang membuat situasi ini lebih elegan adalah perilaku sipenyampai pidato tidak melenceng sesaatpun dan sedikitpun dari apa yang ia sampaikan. Dengan kata-kata yang agung ini, Abu Bakar meletakkan serangkaian tanggung jawab seorang pemimpin terpercaya dalam lingkup tanggung jawab dan kejujuran, sekaligus mengungkap esensi setiap kekuasaan yang baik.[12]
          Dari Atha’ bin Sa’ib, ia berkata, “Ketika Abu Bakar diangkat menjadi khalifah, esok harinya ia berangkat ke pasar sambil memikul kain di pundaknya untuk berdagang. Lantas ia berjumpa denan Umar bin Abu Ubaidah, keduanya bertanya, ‘Mau kemana engkau wahai khalifah Rasulullah? ‘Ke pasar,’ jawab Abu Bakar. Keduanya bertanya lagi,’ Apa yang engkau kerjakan, padahal engkau telah menjadi pemimpin kaum muslimin? Abu Bakar menjawab ‘Dari mana aku dapat memberi makan keluargaku? ‘Keduanya berkata lagi, ‘Pulanglah, nanti kami akan menetapkan jatah untukmu.’[13]
          Dari hal itu dapat dimengerti, bawah ketika beliau diangkat menjadi khalifah, sebagai pimpinan kaum muslimin, beliau tidak meminta gaji sedikitpun.
3.    Penaklukan-penaklukan pada Masa Abu  Bakar
          Pada awal tahun ke-13, Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq  telah memparesiapkan empat angkatan bersenjata. Masing-masing dipimpin oleh seorang panglima dan dikirimkan ke wilayah-wilayah tertentu dari negeri Syam. Angkatan bersenjata ini ialah:
1.             Pasukan Abu Ubaidah bin Al-Jarrah untuk menaklukkan Homs
2.             Pasukan Yazid bin Abu Sufyan untuk menaklukkan Damaskus
3.             Pasukan Syurahbil bin Hasanah untuk menaklukan lembah Yordania
4.             Pasukan Amru bin Ash untuk menaklukan Palestina
Abu Bakar juga mempersiapkan pasukan Khalid bin Sa’id sebagai pasukan cadangan
          Seluruh pasukan berangkat untuk menghadapi pasukan Romawi di tanah Syam. Sementara itu, pasukan Romawi menyusun satu strategi berupa diversifikasi tentara ke dalam empat divisi besar untuk menghadapi empat divisi pasukan muslimin. Tentu saja hal ini menghambat pergerakan pasukan Islam, karena jumlah pasukan Romawi lebih besar hingga mencapa 240.000 prajurit, sementara pasukan muslimin hanya 27.000 pejuang
          Berbagai pertempuran berlangsung antara kaum muslimin dan romawi di berbagai front, di antaranya yang paling terkenal adalah Perang Yarmuk yang terjadi pada bulan Jumadal Akhirah tahun ke-13 H.
          Akhirnya Allah menetapkan kemenangan bagi kaum muslimin dnegna bergugurannya prajurit Romawi di tanah peperangan. Gugurnya beberapa tentara yang dibelenggu dengan rantai sudah cukup untuk menjatuhkan seluruh pasukan dan situasi berakhir dengan kekalahan telak bagi pasukan Romawi dan kemenangan bagi kaum muslimin di bawah pimpinan Khalid bin Walid. Lebih dari 100.000 prajurit Romawi tewas, sementara pihak muslimin hanya 3000 prajurit yang gugur.[14]

4.    Penghimpunan Al-Quran Al-Karim
          Sejarah penulisan dan penghimpunan Al Qur’an dapat dibagi secara metodelogi sejarah menjadi tiga periode. Yaitu pereode pertama pada masa Nabi SAW. pereode kedua pada masa Abu Bakar Ash-Shiddiq dan pereode ketiga pada masa Utsman bin Affan,  Periode kedua terjadi pada masa kekhalifahan Abu Bakar, yaitu tahun ke-12 H. Yang melatar belakangi prakarsa pada peiode kedua ini adalah terbunuhnya sejumlah qurra’ dalam peperangan Yamamah. Di antara mereka terdapat nama Slaim Maula Abi Hudzaifah, salah seorang yang dinyatakan Nabi boleh diambil ilmu-ilmu Al Qur’annya.
Abu Bakar memerintahkan untuk mengumpulkan Al Qur’an. Dalam shahih Bukhari diriwayatkan bahwa setelah perang Yamamah, Umar bin Khaththab pernah mengisyaratkan kepada Abu Bakar agar melakukan penghimpunan Al Qur’an. Abu Bakar sementara waktu belum melakukannya, namun Umar terus mendesaknya berulang kali, hingga Allah Subhanahu wa Ta’ala melapangkan dada Abu Bakar. Beliaupun memanggil Zaid bin Tsabit, kedia Zaid datang di tempat itu hadir pula Umar, Abu Bakar mengatakan kepadanya: “Sesungguhnya engkau adalah pemuda yang cerdik, kami tidak pernah menuduhmu sesuatupun, dan engkau dahulu penulis wahyu Rasulullah, maka periksalah Al Qur’an yang ada sekarang ini, dan himpunkanlah.”. Zaid menceritakan dirinya: “Kemudian saya memeriksa Al Qur’an, dang mengumpulkannya dari pelepah-pelepah kurma, pecahan-pecahan tulang, dan hafalan-hafalan orang lain.”. Setelah terkumpul, Al Qur’an tersebut dipegang Abu Bakar sampai beliau wafat. Kemudian dipegang oleh Umar bin Khaththab, dan dilanjutkan oleh Hafshah binti Umar. Hadits yang panjang ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari.
          Kaum muslimin sepakat atas hasil usaha Abu Bakar ini, dan menggolongkannya termasuk amal kebajikan beliau. Ali bin Abi Tholib mengatakan: “Orang yang terbanyak kebajikannya terhadap mushaf adalah Abu Bakar, beliaulah yang pertama menghimpun Kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala“.[15]
          Seorang orientalis Inggris (William Muir) berkata “Sebenarnya di duni ini tidak ada satu pun kitab selain Al-Qur’an yang selama duabelas abad lengkap dengan teksnya yang mencapai tingkat kejernihan dan meruketelitian.”[16]

D.   Keutamaan-keutamaan Abu Bakar Ash-Shiddiq
1.    Salah Satu Dari 10 Sahabat Yang Dijamin Masuk Surga
Menurut Shalahuddin Mahmud As-Sa’id, Abu Bakar merupakan sahabat yang pertama kali masuk Islam dari kalangan laki-laki, belia selalu mantap dan tidak pernah ragu-ragu untuk menerima dan merespon seruan Rasulullah SAW. Dengan perantara beliau jugalah sekolompok orang masuk Islam ketika ia ajak seru untuk masuk Islam, karena kecintaan mereka kepadanya. Di antara orang yang masuk Islam di tangannya ada lima orang yang dijamin masuk surga, yaitu: Utsman bin Afwan, Sa’ad bin Abi Waqash, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, dan Thalhah bin Ubaidillah.
          Abu Bakar adalah manusia yang paling sering menyertai Nabi SAW. Ia memiliki pengorbanan yang besar dalam rangka ikut menyebarkan dakwah Islamiyah. Abu Bakar telah mengorbankan jiwa, harta, waktu dan semua yang dimilikinya. Ia merupakan penolong Rasulullah SAW. dan menjadi khalifah setelahnya. Ia menyaksikan semua peristiwa bersama Rasulullah. Dan ia adalah juga termasuk salah satu di antara 10 sahabat yang dijamin masuk surga[17]
2.    Mendapat Salam Dari Allah Melalui Jibril AS
          Dalam hadist Ibnu Umar, Nabi Muhammad S.A.W. sedang duduk-duduk dan ada Abu Bakar di sampingnya. Abu Bakar mengenakan sebuah pakaian yang dia ikatkan dengan dua buah batang kayu. Jibril A.S. turun dari langit dan menyampaikan salam dari Allah kepada Nabi Muhammad S.A.W., kemudian dia bertanya “Ya Rasulullah S.A.W., kenapa aku melihat Abu Bakar mengenakan sebuah pakaian yang diikatkan dengan dua buah batang kayu?” Nabi Muhammad S.A.W. memberitahu Jibril “Ya Jibril, semua yang dimiliki orang ini telah dibelanjakan untukku dan Islam sehingga sekarang dia tak punya apa-apa, dan itulah mengapa kau melihatnya dalam kondisi seperti ini. ”Jibril A.S. berkata “Ya Muhammad S.A.W., sampaikanlah salam dari Allah kepada orang ini, dan sampaikan padanya bahwa Tuhanmu berfirman: ‘Wahai Abu Bakar, katakanlah, apakah kau merasa senang kepada Tuhanmu dalam kemiskinan ini, atau apakah kau tidak senang dan kecewa kepada Tuhanmu?’
          Nabi S.A.W. menyampaikan pesan dan salam dari Allah kepada Abu Bakar R.A. Kemudian dia bertanya kepadanya “Wahai Abu Bakar, apakah kau merasa senang kepada Allah dengan kemiskinan ini, atau apakah kau tidak senang kepada Allah?” Air mata Abu Bakar mulai mengalir dan dia menjawab “Ya Rasulullah, apakah Abu Bakar marah kepada Tuhannya? Karena Abu Bakar tidak pernah marah kepada Tuhannya. Abu Bakar merasa senang dengan Allah, Abu Bakar merasa senang dengan Allah, Abu Bakar merasa senang dengan Allah dalam kemiskinan ini.”[18]
3.     Manusia Terbaik Setelah Nabi Muhammad SAW.
          Tidak dipungkiri bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah maunsia terbaik setelah Rasulullah di kalangan umat beliau, ada beberapa hadits yang menerangkan hal itu, di antaranya diriwayatkan dari Ibnu Umar ra.
عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ كُنَّا نُخَيِّرُ بَيْنَ النَّاسِ فِي زَمَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنُخَيِّرُ أَبَا بَكْرٍ ثُمَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ ثُمَّ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ[19]
Dari Ibnu Umar ra. Ia berkata “Kami pernah memilih orang terbaik di masa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Kami pun memilih Abu Bakar, setelah itu Umar bin Khattab, lalu ‘Utsman bin Affan Radhiallahu’anhu” (HR. Bukhari)
          Dari hadits di atas jelas menunjukkan bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah orang terbaik di masa Nabi SAW. setelah beliau
4.    Orang Laki-laki Yang Paling Dicintai Oleh Rasulullah Dan Orang Yang Besar Jasa-jasanya Terhadap Islam
          Abu Bakar Ash-Shiddiq merupakan orang yang paling dicintai oleh Rasulullah setelah Aisyah Ummul Mu’minin ra. Berkanaan dengan hal ini Amr bin Ash pernah bertanya kepada Rasulullah SAW.
أَيُّ النَّاسِ أَحَبُّ إِلَيْكَ قَالَ عَائِشَةُ قُلْتُ مِنْ الرِّجَالِ قَالَ أَبُوهَا قُلْتُ ثُمَّ مَنْ قَالَ عُمَرُ فَعَدَّ رِجَالًا[20]
““Siapa orang yang kau cintai?. Rasulullah menjawab: ‘Aisyah’. Aku bertanya lagi: ‘Kalau laki-laki?’. Beliau menjawab: ‘Ayahnya Aisyah’ (yaitu Abu Bakar)” (HR. Muslim)
5.    Orang Yang Besar Jasa-jasanya Terhadap Islam
                 Abu Bakar Ash-Shiddiq merupakan salah satu dari sahabat-sahabat Rasulullah yang begitu besar jasanya terhadap islam, di antaranya yaitu:
·              Jasanya yang paling besar adalah masuknya ia ke dalam Islam paling pertama.
·              Hijrahnya beliau bersama Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam
·              Ketegaran beliau ketika hari wafatnya Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam
·              Sebelum terjadi hijrah, beliau telah membebaskan 70 orang yang disiksa orang kafir karena alasan bertauhid kepada Allah. Di antara mereka adalah Bilal bin Rabbaah, ‘Amir bin Fahirah, Zunairah, Al Hindiyyah dan anaknya, budaknya Bani Mu’ammal, Ummu ‘Ubais
·              Salah satu jasanya yang terbesar ialah ketika menjadi khalifah beliau memerangi orang-orang murtad
·         Musailamah Al Kadzab dibunuh di masa pemerintahan beliau
·           memerintahkan Zaid bin Tsabit untuk mengumpulkannya.[21]



[1] http://id.wikipedia.org/wiki/Abu_Bakar_Ash-Shiddiq
[2] Syarif Hidayatullah, Ilham Kesabaran Abu Bakar ash-Shiddiq (Jogjakarta: DIVA Press, 2014), 17
[3] Ibid., 22
[4] Muhammad Husain Haekal, Abu Bakr As-Siddiq Sebuah Biografi (Bogor: PT. Pustaka Litera AntarNusa, 2013) 4
[5] Syarif Hidayatullah, Ilham Kesabaran Abu Bakar ash-Shiddiq (Jogjakarta: DIVA Press, 2014), 25
[6] Ibid., 27
[7] Muhammad Husain Haekal, Abu Bakr As-Siddiq Sebuah Biografi (Bogor: PT. Pustaka Litera AntarNusa, 2013) 9
[8] Syarif Hidayatullah, Ilham Kesabaran Abu Bakar ash-Shiddiq (Jogjakarta: DIVA Press, 2014), 46
[9] Ibid., 47
[10] http://kisahkisahislami.blogspot.com/2013/04/abu-bakar-ash-shiddiq-hijrah-ke-madinah.html
[11] http://www.albayyinat.net/bakrt.html
[12] Khalid Muhammad Khalid, Biografi Khalifah Rasulullah (Jakarta: Ummul Qura, 2013), 88
[13] Shalahuddin Mahmud As-Sa’id, 10 Sahabat Yang Dijamin Surga (Solo: Al-Qowam, 2012), 46
[14] Shalahuddin Mahmud As-Sa’id, 10 Sahabat Yang Dijamin Surga (Solo: Al-Qowam, 2012), 63
[15] http://ahlulhadist.wordpress.com/2007/10/16/penulisan-dan-penghimpunan-al-quran/
[16] Shalahuddin Mahmud As-Sa’id, 10 Sahabat Yang Dijamin Surga (Solo: Al-Qowam, 2012), 68
[17] Shalahuddin Mahmud As-Sa’id, 10 Sahabat Yang Dijamin Surga (Solo: Al-Qowam, 2012), 40

[18] http://lampuislam.blogspot.com/2013/08/besarnya-cinta-abu-bakar-ash-shiddiq-ra.html              
[19] Al Bukhori Shohih Bukhari  (Al-Maktabah Al-Syamilah) 489
[20] Muslim Shohih Muslim  (Al-Maktabah Al-Syamilah) 102
[21] Syaikh ‘Abdurrahman bin ‘Abdillah As Suhaim, http://muslim.or.id/biografi/biografi-abu-bakar-ash-shiddiq.html